
"Setelah sekian lama memandangku, apakah kamu puas?"
Wajah Valerie langsung memerah, namun tanpa sadar ia mengangguk jujur. "Sangat puas--ups!"
Mata Valerie terbelalak dan dengan refleks menutup mulutnya sendiri yang terlalu jujur. Ia menatap Victor gugup. "A-aku.."
Victor mengangkat alisnya. Ia berkata santai. "Jadi, kamu ingin terus memandangku?"
Valerie tersipu. Ia sangat gugup sehingga salah tingkah. Matanya bergulir gugup. "A-ku.. aku akan ke kamar Lucher dan melihatnya apakah dia sudah bangun!"
Valerie segera bergegas pergi seolah di kejar sesuatu yang mendesak.
Victor yang di tinggalkan sendirian hanya mengangkat sudut mulutnya ringan.
Di kamar Lucher di sebelah, Valerie membuka pintu untuk masuk, ia melihat bahwa pria kecil itu sudah bangun. Dia terduduk linglung dan menggosok matanya. Sesekali menguap kecil.
Banyak mainan yang Valerie belikan sebelumnya berserakan di lantai, dan Brownie berbaring di sebelahnya. Melihatnya masuk, kucing gemuk itu mengeong lucu. Brownie menutup matanya kembali dan tertidur.
Lucher sama sekali tidak menyadari keberadaan Valerie. Ia turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi dengan kaki kecilnya.
Setelah dia masuk, Valerie mengikutinya dan ikut masuk karena pintunya tidak di tutup. Valerie melihat Lucher yang berdiri di bangku tengah menggosok gigi dengan sikat gigi kecil di tangannya.
Lucher melihat sosoknya di pantulan cermin. Matanya membulat, ia hampir tersentak ketakutan dan terkejut. Ada busa di mulutnya dan terbuka lebar. "Ke-napa.. kenapa kamu datang ke kamarku?"
Valerie terkekeh geli melihat reaksinya. Ia mendekat dan berkata perlahan. "Aku berniat membangunkanmu, namun aku tidak menyangka bahwa Lucher akan bangun lebih awal."
Lucher memuntahkan bisa di mulutnya. Ia berkata sedikit bangga. "Aku selalu bangun sendiri."
Valerie ingat bahwa tidak ada orang yang merawat bocah kecil itu sejak lama. Bahkan pakaian, sepatu, kaus kaki, semuanya sudah di pelajari dan menggunakannya sendiri. Padahal anak ini baru berusia kurang dari empat tahun, tetapi sangat peka.
__ADS_1
Valerie tersenyum hangat dan memuji. "Lucher benar-benar sangat baik dan mandiri."
Lucher terbiasa menjaga dirinya sendiri sejak lama, dan ia hanya berpikir itu normal. Dan sekarang Valerie memujinya, wajah putihnya kemerahan. Ada rasa malu dan kegembiraan yang tersembunyi di matanya yang besar.
Setelah Lucher selesai menggosok gigi dan mencuci muka, ia melompat dari bangkunya.
Valerie memegang tangannya. "Ayo pergi, ayahmu menunggu kita untuk sarapan."
Tidak hanya tidak menolak sentuhan Valerie, malah, Lucher akan merasa bahagia jika Valerie datang setiap pagi.
***
Baru-baru ini, seluruh kediaman Spare tengah melakukan pembersihan besar-besaran, para pelayan sibuk menyiapkan tempat pesta ulang tahun, sangat meriah.
Berbeda dengan suasana vila, di bangunan kecil bergaya barat, terkecuali para pelayan yang mengantarkan makanan setiap hari, lingkungan terasa sangat tenang. Dalam pandangan Valerie, ini adalah hal yang baik. Ia menyukai ketenangan. Keributan dan kesibukan di vila itu sama sekali bukan urusannya, Valerie tidak peduli.
Pekerjaannya setiap pagi hanya untuk menemani Victor berjemur di halaman bambu setiap hari dan membacakannya buku seperti biasa. Selain Valerie yang menikmati kegiatannya, Victor pun merasa nyaman dengan hari-harinya.
***
Udara di halaman depan di penuhi dengan sedikit wewangian aroma makanan.
"Apakah sudah selesai?" tanya Javier saat masuk ke ruangan.
Ia melihat ke arah Nuella yang mengenakan gaun putih polos dan manis. Matanya tidak bisa berpaling akan pemandangan istrinya.
"Aku sudah selesai." Nuella menjawab. Merasakan mata pria itu yang panas menatapnya, wajah Nuella memerah. "Jangan lihat aku seperti itu.."
Javier mendekat dan menarik Nuella ke dalam pelukannya. Ia menundukkan kepala dan menciumnya serta berbisik. "Kamu sangat indah untuk di lihat. Rasanya aku ingin menyembunyikanmu dari siapapun."
__ADS_1
Wajah Nuella semakin malu. Ia memerhatikan Javier yang mengenakan setelan ramping biru. Wajahnya sangat tampan, namun kesannya dingin seperti biasanya. Tetapi Nuella semakin menyukainya.
"Perjamuan di bawah sepertinya sudah di mulai. Aku merasa gugup."
Nuella tidak menghadiri perjamuan makan terlalu lama. Kebiasaannya di kehidupan terakhir selalu menghantuinya, yaitu terkurung di bangunan itu. Walaupun keluarga Spare adalah keluarga kaya, namun itu sudah sangat lama ia mengikuti perjamuan. Ia takut melakukan sesuatu yang membodohi diri sendiri.
Pelukan Javier mengerat. Suara yang lembut dan rendah berbisik. "Ikuti saja dan tetap di sisiku, oke?"
Nuella tersenyum lega dan mengangguk. Tiba-tiba ia berpikir sesuatu dan berkata. "Kenapa kita tidak membiarkan Valerie datang ke pesta perjamuanmu? Aku sangat bebas kemanapun di hari yang begitu hidup, namun Valerie hanya bisa tinggal di rumah kecil. Sangat menyedihkan."
"Kamu tahu bahwa wanita itu harus menjaga pamanku atas saran ibu. Jika kita mengundang Valerie tanpa izin ibuku, apakah kamu tidak takut dia akan marah?" Javier merasa istri kecilnya terlalu baik dan terlalu banyak memikirkan orang lain.
"Aku tidak merasa takut karena kamu ada di sisiku." Nuella tersenyum dan bertingkah manis pada Javier.
Bagaimanapun, Nuella tidak bisa terlalu egois. Ia mengakui bahwa semua kesalahannya pada Valerie begitu besar, walaupun rasa krisisnya sam-sama besar, tapi ia tidak bisa mengabaikan hidup Valerie begitu saja. Mungkin Valerie akan sedikit senang jika dia mengundangnya ke pesta.
"Apakah kita bisa mengundangnya?" tanya Nuella lagi seraya berinisiatif melingkarkan tangannya di leher Javier. Suaranya lembut dan manis.
Javier menatap wajahnya yang cantik dari dekat. Ia menunduk dan menciumnya, sedikit cemburu. "Kenapa kamu harus repot-repot berbuat baik padanya? Lebih baik kamu menghabiskan waktu denganku. Selain itu, mungkin saja Valerie tidak akan menerima kebaikanmu."
Nuella berpura-pura menyedihkan. "Aku sangat bersimpati padanya."
Javier menghela nafas pelan. Ia menatapnya lembut. "Kamu sangat keras kepala."
Nuella tersenyum malu-malu. Untuk kesekian kalinya, ia merasa bersyukur kepada Tuhan karena kelahirannya kembali.
Saat pesta ulang tahun di mulai, Javier meraih tangan Nuella dan membawanya ke bawah. Keduanya terlihat bersinar luar biasa, sehingga menarik perhatian semua tamu.
Nuella merasa harus melupakan masa lalunya. Takdirnya dulu berbeda dengan sekarang, dan ia harus tetap berpikir positif ke depannya. Ia buka lah lagi seorang istri menyedihkan dari iblis itu, tapi saat ini ia adalah nyonya yang di sukai semua orang.
__ADS_1
Nuella meraih tangan Javier. Wajahnya di penuhi senyuman. Ia membiarkan semua orang melihat bahwa keduanya memang saling mencintai. Hidup ini benar- benar berbeda dari kehidupan sebelumnya, dan ia akan hidup bahagia.