Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 46


__ADS_3

Valerie memandang Victor di tempat tidur yang menutup mata dengan wajah tanpa ekspresi. Setelah beberap saat, ia meletakkan bantal barunya di kepala tempat tidur.


Valerie menjadi teringat obrolan dirinya dan Jian tadi siang. Awalnya ia hanya ingin ayahnya membereskan mereka, tetapi tidak menduga Victor akan bertindak lebih cepat. Apalagi, yang mereka alami tidak biasa sampai-sampai keluarga mereka mengeluh tanpa bisa membalas kembali. Jika Victor marah, apakah dia akan melakukan hal yang lebih gila?


Valerie tanpa sadar gemetar. Yang ia amati selama ini, dia pria yang lucu, pemarah, dan mudah di bujuk, dan tanpa sadar melonggarkan kewaspadaan sejak awal. Valerie hanya takut Victor akan melakukan sesuatu yang lebih buruk jika ia membuat pria itu marah.


"Kenapa kamu menatapku?"


Valerie tersentak kaget saat mendengar suara magnetis dan malas pria itu. Tiba-tiba tercengang. Apakah dia begitu sensitif? Ternyata tahu bahwa ia menatapnya. Valerie tahap sadar gugup. "Aku ... aku tidak menatapmu."


"Bohong. Jangan meremehkanku sebagai orang buta."


Siapa yang meremehkannya? Valerie mengerucutkan bibir. Ia tentu saja tidak pernah meremehkan Victor. Apalagi, mengingat nasib akhir orang yang meninsasnya di hotel itu.


"Ayo tidur." Victor menepuk sisinya dengan satu tangan.


Valerie berkedip menatapnya linglung. " ... hah?"


"Mendekatkan. Aku ingin memelukmu untuk tidur," katanya lugas. "Maukah kamu memelukku?"


Valerie terkejut. Ia masih memiliki ketegangan di hatinya saat mengingat balasan kejam Victor kepada mereka. Ia berbisik rendah. "Jika aku tidak ingin kamu peluk, apakah kamu akan marah?"


"Tentu saja. Aku akan marah jika kamu menolak." Victor hanya merasa Valerie terlalu peduli tentang dirinya marah atau tidak.


Valerie berbaring di tempat tidur dengan tubuh mendekat ke arahnya. Victor membalikan tubuh dan mengulurkan tangan memeluk Valerie dengan terampil. Mencium aroma favoritnya, ekspresi wajahnya mengendur. Kenyamanan melanda hatinya. Tangannya menarik lebih dekat tubuh lembut Valerie.


Victor merasa tubuh wanita ini terlalu kaku. Saat memegang tangannya, ternyata gemetar. Suaranya menjadi dingin dan berbahaya. "Apakah kamu takut?"

__ADS_1


Valerie menelan ludah dan mencoba untuk menahan getaran di hatinya. Suaranya setenang mungkin. "Tidak."


Ujung rambut Valerie terjerat jari Victor. Pria itu menyentuh dan memelintirnya, kemudian. mengendurkan dan memelintir lagi. "Kamu tidak menyukaiku karena jelek?"


Victor mendengus tidak senang saat memikirkan dirinya tidak di sukai Valerie karena jelek dan buta. Memikirkan sesuatu, ia berkata. "Kamu juga jelek. Apakah kamu malu mengakuinya?"


Valerie yang sekarang selalu percaya diri dan berpenampilan cantik menjadi kesal saat Victor mengatakan itu. Karena keduanya terlalu dekat satu sama lain, Valerie bergerak dan ingin menjauh, tetapi pria itu memegang dan memeluknya lagi tidak membiarkan pergi.


"Victor, aku tidak jelek," bisik Valerie seraya menatapnya dengan bibir mengerucut. "Meskipun sebelumnya sangat jelek, tetapi sekarang berbeda. Aku sudah cantik."


Victor membuka matanya yang gelap dan tanpa fokus. "Kamu berbohong lagi. Jangan menggertakku sebagai orang buta."


Valerie menatapnya kesal. Di mana ia menggertak?


"Kamu beruntung karena telah menikah dengan pria buta sepertiku." Victor memejamkan matanya kembali. "Tidak peduli seberapa jelek penampilanmu, jangan bersedih, aku tidak bisa melihatnya."


Memikirkan sesuatu, Valerie meraih tangan besar Victor yang bertumpu di pinggangnya. Memegang jari-jarinya dingin, sebelum Victor bereaksi, Valerie meletakkan jari pria itu di wajahnya.


"Ini adalah mataku. Meskipun kamu tidak bisa melihatnya, tetapi kamu bisa merasakannya." Valerie meletakkan jari Victor di matanya dan membual. "Mataku tidak terjepit lagi seperti sebelumnya, tetapi sangat indah dan cerah."


Kelopak mata Victor langsung terbuka. Di ujung jarinya, ia bisa merasakan bulu mata Valerie gemetar dan menggelitik ujung jarinya. Bibir Victor mengencang.


Valerie menurunkan ujung jari Victor menuju hidungnya. "Ini hidungku. Tidak menciut, kecil dan halus. Kamu bisa merasakannya kan?"


Itu memang kecil dan Victor bisa merasakan. Valerie terus menurunkan ujung jari Victor ke bibirnya sendiri. "Bibirku juga kecil. Tanpa lipstik pun, warnanya sudah merah."


Jantungnya berdetak saat ujung jarinya menyentuh sesuatu yang lembut, hangat dan lembab. Ia meningkatkan kekuatannya untuk menyentuh, dan hanya memiliki keinginan untuk menghancurkannya.

__ADS_1


Kali ini Valerie meletakkan telapak tangan Victor di pipinya. "Fitur wajahku pun halus. Dan daguku kecil."


"Victor, aku tidak berbohong padamu. Bahkan jika kamu tidak bisa melihatnya, tetapi kamu bisa menyentuhnya. Jangan mengejekku jelek lagi sekarang."


Tangannya yang dingin menyentuh pipi lembut Valerie. Ia mencubit pelan di bawah telapak tangannya. Rasanya sangat enak di sentuh. Tiba-tiba, ia memikirkan wajah sebelah kirinya yang di penuhi bekas luka, dan itu berlawanan dengan wajah Valerie. Ekspresinya langsung tenggelam. "Membosankan. Tidur."


Valerie tertegun. Ia tidak tahu ada apa dengan ekspresinya. Ia bertanya dengan suara rendah. "Kamu kenapa? Apakah aku melakukan kesalahan padamu?"


"Ada banyak," balas Victor dengan ganas. Ia ingin marah jika memikirkan bekas luka di wajahnya. Mencium aroma tubuh Valerie, sedikit ketenangan menyelimuti hatinya.


Victor mengencangkan tubuh Valerie ke pelukannya dan menutup mata. Valerie hanya merasa dada lebar pria ini keras, panas, dan tidak lembut sama sekali.


Aku benar-benar tidak bisa menebak pikirannya.


Valerie tidak bisa bergerak sedikit pun di pelukan Victor. Ia ingin keluar dan bernafas banyak, ini terlalu panas. Ia sedikit mendongak dan melihatnya sudah menutup mata.


"Jangan menatapku. Cepat tidur."


Valerie sedikit terkejut dan buru-buru menutup mata. Saat rasa kantuk melandanya, ia dengan cepat tertidur. Tepat saat itu, mata Victor terbuka. Ia mengangkat tangan yang bertumpu di pinggang Valerie dan berganti menyentuh wajahnya kembali.


Pipinya yang lembut dan enak di sentuh, beregang pada telapak tangannya yang dingin. Lalu Victor menyentuh wajah sebelah kirinya yang terdapat bekas luka, sangat kasar dan jauh dari kata lembut. Ekspresinya tenggelam kembali. Tangannya langsung meninggalkan wajahnya sendiri. Ia kembali melingkari pinggang Valerie dan memeluknya lebih erat.


Setelah aroma susu ia hirup dengan rakus, ketenangan menempati hatinya dan mulai tertidur.


***


Aku udah mulai sibuk kerja, jadi cerita ini gk bisa up tiap hari. Mungkin bisanya dua hari satu kali up.

__ADS_1


Jangan lupa like sama komennya ya, hadiahnya juga🎁, biar aku lebih semangat gitu, hehe😁


__ADS_2