Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 5


__ADS_3

Di sebuah halaman yang tidak jauh dari rumah, ada seorang anak lelaki kecil dan seekor kucing yang tengah bermain dengan ayunan. Kedua makhluk itu sama-sama lucu dan imut membuat siapapun ingin berlama-lama melihat pemandangan menggemaskan itu.


Lucher meletakkan kucing gendut berwarna abu-abu itu di atas ayunan. "Duduklah. Aku akan mendorongmu."


Seolah mengerti, kucing itu duduk dengan patuh. Lucher mengguncang tali membuat ayunan sedikit bergoyang.


"Sepertinya kamu sangat menikmatinya dan sepertinya menyenangkan."


Mata besar lelaki kecil itu di penuhi rasa iri terhadap kucingnya. Lucher juga ingin bermain ayunan, namun ia tidak bisa naik sendiri, apalagi yang mengayunkannya pun tidak ada.


"Tuan Muda? Kenapa kamu bermain di sini? Lihat, ayunan ini sangat kotor."


Liana datang dan menarik Lucher untuk menjauh. Ia melihat dua tangan kecilnya yang sempat memegang tali ayunan, dan benar saja, banyak debu di telapak tangannya.


Mata besar Lucher berkedip menatap tangannya yang kotor. Ia mengepalkan tangannya dengan sedikit malu.


"Tuan Muda, ayo cuci tanganmu. Kamu harus makan malam nanti." Liana berkata lembut.


Lucher menatap kucingnya. "Brownie, ayo pergi untuk bersiap untuk makan malam."


Liana membawa Lucher untuk mencuci tangan. Setelah selesai, Liana tiba-tiba berjongkok untuk berhadapan dengan Lucher. "Tuan Muda, Nyonya telah memerintahkanku satu hal. Jika aku tidak mematuhi perintahnya, dia akan memecatku dan tidak ada yang akan menjaga ayahmu ke depannya."


"Bibi tidak bisa pergi.." Suara Lucher mengandung kesedihan. "Sekarang bibi tidak boleh pergi karena aku belum tumbuh besar. Tunggu aku tumbuh lebih cepat dan menjaga ayah."


"Tentu saja aku juga tidak ingin pergi."


Liana mengulurkan tangannya. Lewat pakaiannya yang tipis, ia mencubit keras perut bocah itu dengan keras. Namun senyum di wajahnya sangat lembut. "Wanita itu sangat membencimu dan berkata bahwa kamu anak yang buruk dan nakal. Biarkan aku menghukummu. Jangan menangis."


Liana melepas cubitannya dan mengganti di tempat lain dan terus mengencangkannya. "Ini rahasia kita. Kamu tidak bisa memberitahu orang lain atau aku akan di pecat."


Kulit anak adalah yang paling halus dan sensitif. Anak-anak akan menangis jika merasakan rasa sakit sedikit pun. Bagaimanapun kulit mereka rapuh dan tidak bisa menahan rasa sakit itu.


Lucher yang merasakannya begitu tidak tahan. Mata besarnya tiba-tiba penuh air mata. Namun ia terus menahannya agar tidak keluar isakan. Ia hanya menggigit bibirnya keras. Ia tidak bisa menangis, ayahnya tidak memiliki siapapun untuk mengurusnya.


Tapi itu sangat menyakitkan!


Brownie mengeong dengan cemas seolah tengah mengerti yang di rasakan tuannya.


***

__ADS_1


Pada siang hari, Valerie pulang dari dokter. Setelah mendapat laporan pemeriksaan, tubuhnya sama sekali tidak memiliki masalah serius. Sedangkan untuk suara aneh itu, dokter hanya mengatakan mungkin ia memiliki halusinasi pendengaran. Untuk luka di dahinya, hanya perlu di beri obat secara teratur untuk mengurangi pembengkakan.


Saat Valerie memasuki kamar, kamarnya sangat sunyi. Gorden tertutup rapat, cahayanya sangat redup. Matahari bersinar di luar, tetapi di dalam tidak bernyawa dan suram.


Valerie melihat sekeliling. Ruangan itu sangat besar, tapi tidak ada apapun, sangat kosong. Di dominasi abu-abu kecoklatan, dingin dan monoton seperti gaya Victor sendiri.


Valerie menyimpan tasnya di sofa. Lalu ia melangkah dan membuka tirai. Cahaya langsung masuk membuat ruangan di penuhi kelembutan. Rasa dingin dan suram memudar.


Valerie tersenyum puas. Ia melihat vas porselen putih di letakkan di lemari. Ketika ia pulang dari rumah sakit, ia sengaja membeli buket. Valerie meletakkan bunga-bunga di vas dan memindahkan vas itu di atas meja menambahkan kehidupan di dalam ruangan.


"Tuan tidak akan menyukai dekorasi seperti itu."


Suara Liana tiba-tiba datang dari pintu. Ia masuk membawa kotak berisi nasi. Di belakangnya, Lucher yang menundukkan kepala mengikuti tanpa kucing biasanya.


"Aku menyukainya." Valerie berkata acuh tak acuh.


Ia juga nyonya rumah, bukankah ia berhak mengaturnya?


Memikirkan perkataan Valerie di dapur sebelumnya, Liana akhirnya diam.


"Di mana Victor?"


"Tuan ada di ruang belajar sebelah. Saya akan pergi untuk memanggilnya makan siang."


"Tidak perlu. Aku saja yang memanggilnya."


Valerie langsung melangkah tanpa menunggu jawabannya.


Di bandingkan dengan kamar tidur, ruang belajar tidak jauh lebih baik. Bahkan lebih redup dan suram.


Pria itu duduk tegak. Matanya terpejam dan tidak bergerak sedikit pun seolah patung. Kegelapan mengelilingi.


Apakah pria ini duduk seperti itu sejak pagi?


Valerie tidak bisa menahan keheranan.


"Victor, saatnya makan siang."


Suara Valerie yang lembut dan manis terdengar ke dalam seolah memenuhi ruangan. Meskipun Valerie tidak terlihat baik, namun suaranya benar-benar berlawanan dengan bentuk tubuhnya. Kedengarannya sangat bagus, rendah, bersih dan lembut.

__ADS_1


Di dalam ruangan, pria itu tidak merespon seolah-olah tertidur.


Valerie yang benar-benar menganggapnya tertidur, berjalan mendekat. Ia dengan ragu mengulurkan tangan untuk menepuknya. Namun detik berikutnya, mata pria itu tiba-tiba terbuka lebar membuat Valerie menarik kembali tangannya dengan ketakutan.


Valerie sedikit mundur dan berkata pelan. "Wa-ktunya makan siang.."


Suara lembut wanita itu menyapa telinganya, tanpa sadar Victor mengerutkan kening. "Ya."


Victor berdiri dan berjalan. Valerie sedikit menyingkir saat ia merasa menghalangi jalannya. Lalu setelah melewatinya, ia mengikutinya di belakang pria itu.


Mereka keluar dari ruang belajar, Victor berjalan ke meja makan untuk duduk di kursinya.


Valerie yang di belakangnya merasakan sesuatu yang berbeda, biasanya udara di sekitar terasa dingin, namun saat ini kehangatan menyebar..


Di saat yang sama, selain bau makanan, ada juga wangi bunga.


Victor yang menciumnya langsung mengerutkan kening membuat bekas lukanya di tarik dan semakin jelek. "Buang bunga itu."


Liana merasa sangat senang. Ia segera menjawab. "Ini adalah bunga yang di bawa Nyonya. Aku akan segera membuangnya."


Liana melirik Valerie dengan senyum kemenangan dan mengulurkan tangan mengambil vas.


"Tunggu--" Valerie mencegahnya. Namun ia tidak bisa meneruskan ucapannya saat kepalanya tiba-tiba sakit. Bel familier kembali berbunyi keras.


"Nilai marah: 30."


Hah?


Valerie tertegun mendengar suara mekanis aneh.


Suara itu menghilang meninggalkan suara dering berisik, kepalanya semakin sakit.


Nilai marah apa?


Valerie menatap Liana yang agak bangga, melintasi Lucher yang kepalanya menunduk, lalu jatuh pada Victor.


Apakah karena Victor? Sakit kepalaku di sebabkan oleh kemarahan Victor? Apa artinya ini?


Plot macam ini? Kenapa tidak ada di novel?!

__ADS_1


Kali ini Valerie bisa menahan tingkat sakit kepalanya. Ia berpura-pura tenang. "Mengapa kamu membuang bunganya?"


Victor menoleh ke arah Valerie dengan mengejek. "Valerie, apa yang kamu mainkan? Apakah kamu pikir itu bisa membunuhku dan agar kamu bisa bersama Javier?"


__ADS_2