
Ketika bangun di pagi hari, Valerie pergi ke kamar mandi dan melihat lukanya kembali di cermin. Yang membuatnya tercengang adalah bekas luka terkecil di pipinya telah menghilang, lalu yang paling mencolok sedikit memudar. Valerie tidak pernah menduga ini. Mengapa? Apa karena kemarahan Victor semalam yang mempengaruhinya?
Valerie menyentuh kulitnya wajahnya yang tidak terluka. Setiap Victor marah, selalu ada pengaruh yang merubah kulitnya lebih halus dan putih, lalu apakah kemarahannya pun membuat bekas lukanya memudar? Mata Valerie berbinar. Tidak mungkin jika luka seperti ini akan kehilangan rasa sakit dan bekas lukanya dalam semalam, hanya kemungkinan itu yang Valerie tebak.
Suasana hati Valerie meningkat pesat. Hari ini adalah waktu keluar rumah sakit. Luka di wajahnya tidak memerlukan perawatan lebih dalam, hanya obat penyembuhan yang bisa di lakukan di rumah.
Ketika semua persiapan selesai, Valerie menatap Victor dengan mata cerah. Ia meraih tangannya dan berkata lembut. "Ayo kita pulang! Aku akan membuat banyak kue favoritmu. Kamu pasti rindu untuk mencicipi kue buatanku."
"Ada apa denganmu?" Victor yang di pegang merasa heran dengan nada bahagia suaranya. Lalu, siapa orang yang bersedih semalam? Mengapa suasana hatinya dengan cepat berubah?
"Aku sangat bahagia! Tadi pagi kamu pasti mendengar apa yang dokter katakan, bukan? Lukaku sembuh dengan cepat dan tidak akan meninggalkan bekas luka!" Valerie tidak bisa menahan kebahagiaannya.
Hatinya pun lebih merasa tenang saat mendengar perkataan dokter itu. Tapi, dari sudut pandang Victor, tidak peduli apakah itu akan meninggalkan bekas luka atau tidak, lagi pula ia tidak bisa melihatnya.
Saat keduanya memasuki mobil, tiba-tiba Victor menekan tombol penghalang antara sopir dan kursi belakang. Lalu pria itu berkata terus terang. "Valerie, aku ingin menciummu. Apakah kamu bersedia?"
Valerie menatapnya tercengang, mengingat ciuman panas semalam, wajahnya memerah. Ia memelototi Victor dengan ganas. "Tidak tahu malu! Bisakah untuk tidak berbicara secara blak-blakan?!"
"Lalu bagaimana caranya? Jika aku ingin, apakah aku harus melakukannya langsung agar tidak terlalu blak-blakan?" Suaranya yang dingin dan tenang, tidak sesuai dengan isi perkataannya.
"Kamu ... " Valerie tidak tahu harus bagaimana menghadapai pria tidak tahu malu ini.
Victor sedikit tertawa saat mendengar suara malu dan geramnya. "Baiklah. Aku akan memintanya dengan lebih bijaksana. Valerie, aku ingin mencicipi rasa mulutmu."
"Diam!"
"Valerie ..."
__ADS_1
"Victor! Bisakah kamu diam?!"
***
"Apa yang terjadi?" tanya Valerie kepada Nuella saat melihat Lucher yang menyedihkan. Matanya memerah dengan bekas air mata yang tertinggal di pipinya.
Nuella menatap luka di wajah Valerie dengan sedikit terkejut. Walaupun wajahnya terlihat simpati, tapi ada kepuasan samar di hatinya. "Valerie! Wajahmu ..."
Valerie mengenakan masker dengan santai untuk menutupi luka di wajahnya. Tanpa melihat ekspresi kepura-puraan Nuella, ia bertanya kembali. "Apa yang terjadi dengan Lucher? Sepertinya dia baru saja menangis?"
"Dia bertengkar dengan sepupunya. Aku berada di atas saat pertengkaran, jadi maaf aku tidak sempat menghentikannya." Nada suaranya di penuhi penyesalan.
Valerie langsung menghampiri Lucher yang berdiri diam dengan mata tertuju padanya dan Victor bergantian. Ia berjongkok hingga mata berjajar dengan pria kecil itu. "Apakah kamu terluka?"
Lucher menggeleng dengan mulut mengerucut. Valerie mengulurkan tangan dan menghapus jejak air mata dengan ujung jarinya. Ia bertanya dengan senyum geli, nada suaranya sangat lembut. "Lalu, mengapa kamu menangis?"
Valerie mengangkat alis dan menyentuh kepalanya. "Oh? Benarkah?"
"Ya!"
Nuella menyaksikan interaksi keduanya dengan kejutan di matanya. Meskipun ia tahu hubungan mereka membaik, tetap saja ia masih merasa heran dan terkejut melihat kelembutan Valerie terhadap Lucher.
Dulu Valerie selalu membenci Lucher. Walaupun jarang memukul atau memarahi, tapi Valerie selalu menjauh karena merasa sangat jijik. Nuella tidak terkecuali. Di kehidupan terakhir, ia tidak bisa semua dengan Lucher setelah menikah dengan Victor.
Bahkan, setelah Victor mengatakan bahwa anak itu di adopsi, siapa yang akan percaya? Dengan karakternya yang kejam dan acuh tak acuh, tidak mungkin Victor mengadopsi seorang anak asing begitu saja. Maka dari itu, Nuella lebih percaya jika Lucher salah anak haram Victor. Dan ia sama sekali tidak menyukai anak ini.
Walaupu begitu, Nuella harus mempertahankan citranya. Menahan rasa tidak suka, karakternya harus tetap di pandang baik oleh siapapun. Ia menatap Victor yang berdiri tegak di belakang Valerie. Nuella menyipitkan matanya, wanita ini ... apakah berpura-pura baik kepada Lucher hanya di depan Victor saja? Nuella tidak mau mengetahuinya lebih dalam, dan seharusnya ia tidak peduli dengan kehidupan mereka.
__ADS_1
"Lucher memang tidak menangis. Dia menangis mungkin saat melihat kalian berdua datang. Aku melihat, wajah anak dari paman pertama di cakar oleh Lucher, tapi untungnya tidak tergores. Maafkan aku, mungkin jika aku mengetahui pertengkaran keduanya lebih awal, ini tidak akan menjadi masalah." Nuella menyalahkan dirinya sendiri.
Tatapan Valerie tetap pada Lucher. "Mengapa kamu bertengkar dengannya?"
Lucher sedikit tertekan oleh tatapan Valerie. Mata besarnya berputar. Valerie mengulangi. "Mengapa, Lucher?"
Mungkin ketertekanan di timbulkan oleh rasa bersalah dalam dirinya, bukan pada tatapan Valerie. Lucher kira, dia akan memarahinya, tetapi suaranya Valerie sangat lembut dan sama sekali tidak mengandung kemarahan. Malah, saat ia menatap matanya, hanya ada kekhawatiran.
Mata Lucher berkaca-kaca seolah melampiaskan keluhannya. Ia mengulurkan tangan ke arah Valerie dan menunjukkan jari-jarinya. "Sakit ... tanganku sakit ...."
Valerie menunduk melihat jari-jari kecilnya memerah dan ada goresan merah. Ia terkejut. "Kenapa ini?"
"Tanganku di injak olehnya. Ini sangat menyakitkan." Lucher melepaskan tangisannya.
Valerie merasa sangat marah, apalagi mengingat Video pengawasan di mana Lucher di gertak. Ia menarik nafas untuk menahan amarahnya. "Apakah anak kecil nakal itu menggertakmu?"
"Um. Dia mengatakan ayah jelek, dan dia juga mengatakan bahwa kamu sangat jahat." Lucher menunduk dan mengepalkan jari-jarinya. Ia masih mengingat kata-kata nya.
"Ayahmu adalah iblis yang jelek, dan ibumu juga adalah monster yang jahat! Bahkan kamu pun akan menjadi seperti mereka! Keluarga kalian bertiga benar-benar sangat jelek!"
"Ibu tirimu sangat jahat! Dia pasti akan membunuhmu!"
Lucher merasa sangat marah mengingat kembali kata-kata itu. Ia menatap Valerie dengan mata memerah. "Ayah tidak jelek, kamu tidak jahat, hiks. Mereka yang jahat ...."
Valerie meluluhkan tatapannya dan memeluknya. "Ya. Ayahmu tidak jelek, dan aku akan memeperlakukanmu dengan baik. Selain itu, kami adalah anak yang paling baik dari pada dia."
Lucher memeluk leher Valerie dan mengangguk malu-malu.
__ADS_1
Nuella mengerutkan kening dengan erat. Sepertinya itu bukan kepura-puraan. Ia bisa melihat ketulusan di dalam tatapannya. Tapi, mengapa dia selalu merasa tidak nyaman?