Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 76


__ADS_3

Chelsea menatap masker yang menghalangi setengah wajah Valerie dan bertanya. "Apa yang di katakan dokter tentang luka di wajahmu?"


"Itu tergantung pada penyembuhan luka untuk memutuskan apakah di perlukan cengkok kulit atau tidak."


Chelsea mengangguk mengerti dan mengalihkan pada Victor dan berujar lembut. "Victor, dalam beberapa hari aku akan berlatih dan mengikuti partisipasi."


Victor yang tengah santai, tampak tidak sabar dan mengerutkan kening mendengar perkataannya. "Apa hubungannya dengan ku?"


Chelsea sudah terbiasa dan mengenal karakternya, jadi senyum lembut di wajahnya tidak berubah. "Aku hanya ingin memberitahumu, dan itu memang tidak ada hubungannya denganmu. Selain itu, jangan khawatir, aku tidak akan menganggu. Aku ke sini hanya untuk melihat keadaan Valerie dan memberinya salep. Setelah melihatnya baik-baik saja, aku merasa lega. Sekarang aku akan pergi dahulu."


Tatapannya kembali pada Valerie. "Semoga lukamu cepat sembuh. Sampai bertemu kembali."


"Ya."


Setelah melihat punggungnya menjauh, Valerie melihat salep yang Chelsea berikan. Itu memang obat yang sangat efektif untuk menghilangkan bekas luka, tapi sebenarnya ia sama sekali tidak berniat untuk menggunakannya. Bagaimana pun, obat ini tidak sebagus kemarahan Victor.


"Valerie, kemarilah." Suara Victor tiba-tiba datang. Tangan pria itu menepuk pahanya.


"Apa yang kamu inginkan?" Valerie Kodean itu dan merasa heran.

__ADS_1


"Kemari," ucapnya lagi.


Valerie mengambil sepotong buah dan memasukannya ke dalam mulut pria itu. "Bagaimana jika aku tidak mau?"


Victor memakannya buat itu dengan mengerutkan kening. Namun, membayangkan memeluk tubuh beraroma susu Valerie pasti akan membuatnya nyaman. Jadi ia berkata lagi, terlihat keras kepala. "Cepat kemari, peluk aku."


Valerie langsung tersipu. Masalahnya, pria itu menepuk pahanya, apakah dia bermaksud untuk duduk di pangkuannya?


Memikirkan bahwa kemarahannya efektif, Valerie yang berniat menurut langsung menolak. "Tidak."


Tidak biasanya, sekarang ekspresinya terlihat agak sedih. Memikirkan jika Valerie selalu peduli tentang kemarahannya, ia berkata sedikit mengancam. "Aku akan marah jika kamu tidak mau."


Namun, mata Valerie langsung berbinar, dan ancamannya malah di anggap anugrah. "Benarkah?"


Valerie menunggu dia marah, namun hanya ada kerutan di ekspresinya. Jadi, ia dengan sengaja berkata. "Aku merasa sangat tidak nyaman jika kamu memelukku, jadi aku tidak menginginkannya. Kamu selalu memelukku terlalu erat."


Benar saja ....


"Nilai marah: 8."

__ADS_1


Kepalanya mulai sakit dan berdering. Tetapi, rasa sakit itu Valerie nikmati, dan matanya bersinar saat menatap Victor yang berekspresi suram. Valerie langsung mendekat dan mencondongkan tubuh berinisiatif memeluknya.


Aroma yang di inginkan datang, dan tubuh lembut menempel padanya. Victor langsung menarik sudut mulutnya mengejek yang berbeda dengan matanya yang senang. "Bukankah kamu mengatakan tidak nyaman?"


Valerie tersenyum dan berkata genit. "Aku tidak Nyaman jika kamu memelukku, tapi aku suka jika aku yang memelukmu."


Victor mendengus. Tentu saja tidak menolak pelukannya, justru itu terasa longgar sehingga ia membawa Valerie ke pelukannya lebih erat. Lalu ia menutup matanya dengan nyaman.


"Nilai marah: 2."


Valerie tidak menolak dia memeluknya seperti itu. Mendengar amarahnya belum mereda sepenuhnya, ia berkata manis. "Aku akan membuatkanmu kue malam ini."


"Nilai marah: 0."


Valerie menutup mata menikmati pelukannya, di tambah dengan angin sepoi-sepoi dan suara gemericik daun bambu di sekitar membuatnya sangat nyaman hingga tertidur.


Di saat dia tertidur, mata tertutup pria itu langsung terbuka memperlihatkan pupil abu-abu yang terlihat indah. Beban berat orang di pelukannya sepenuhnya ia tanggung, namun itu sama sekali tidak membuatnya merasa terbebani. Tubuhnya sangat ringan dan lembut.


Memegang orang itu di pelukannya, Victor langsung teringat malam di mana Valerie melindunginya. Saat itu ia benar-benar merasa sangat marah dan menyembunyikan rasa takut yang ia rasakan untuk pertama kalinya. Dan untuk pertama kalinya pula, kebutaan yang ia alami sungguh merepotkan. Jika bisa melihat, mungkin ia bisa mencegah orang itu sehingga Valerie tidak akan terluka untuk menyelamatkannya.

__ADS_1


Mengapa wanita ini melakukan hal berbahaya itu untuknya?


Victor menjentikkan jari di keningnya dan mengutuk dengan bisikan lembut. "Bodoh."


__ADS_2