Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 30


__ADS_3

"Ayo. Makanlah yang banyak, Sayang."


Suasana makan malam di keluarga Joana terlihat sangat harmonis. Valerie benar-benar bisa merasakan kehangatan keluarga. Mereka terus menyajikan makanan ke dalam piringnya dengan antusias. Jenis kehangatan ini membuat darahnya berdesir. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sesekali mereka bercanda, membuat suana semakin hidup.


Setelah menyelesaikan makan malam, Valerie kembali ke kamar. Ia kira, dekorasinya akan sesuai dengan Valerie sebelumnya, yaitu dengan kemegahan yang mewah. Namun jauh dari ekspektasi, ternyata kamar ini terlihat sederhana dan elegan.


Valerie berkeliling melihat-lihat setiap sudut kamar. Seluruh ruangan berwarna warna putih pudar, lantainya di lapisi karpet wool yang tebal membuat kakinya terasa empuk.


Tiba-tiba pikirannya tertuju pada seseorang. Valerie sedikit merindukannya. Memikirkan bagaimana dia mengusirnya, ia menghela nafas kesal. "Sudahlah. Aku tidak boleh memikirkannya untuk saat ini."


***


Di bangunan kecil di belakang villa kediaman Spare, suasana sangat sunyi. Hanya ada suara bambu samar-samar yang tertiup angin.


Lalu, di dalam ruangannya pada saat ini, Victor tengah berbaring lurus dengan postur seperti mayat. Wajahnya tanpa ekspresi, seluruh tubuhnya terlihat sangat dingin. Matanya tertutup perlahan.


Ruangan terlalu tenang. Setelah beberapa saat, kelopak matanya terbuka kembali. Ia membalikkan tubuh ke samping dengan hampa. Tangannya terulur menyentuh ruang kosong di sebelahnya dan menarik bantal merah muda. Saat itulah ia bisa mencium aroma susu.


Merasa belum cukup, Victor memeluk bantal dan membenamkan separuh wajahnya di sana. Walaupun aroma itu semakin kuat, namun Victor tetap tidak merasa puas.


Saat membuka matanya kembali, wajah tanpa ekspresinya menjadi agak kesal. Ia melemparkan bantal itu ke arah asal. Bibirnya mengerucut. Ia merasa tidak nyaman memeluk bantal, tidak lembut sama sekali. Victor merasa lebih baik memegang pinggang Valerie yang lebih nyaman.


Namun, karena ketidakmungkinan, Victor bangun dan berniat mencari letak bantal yang di lempar. Ia berjongkok dan meraba-raba untuk menemukan benda itu. Secara tidak sengaja, lututnya membentur ujung lemari.


"Ssh ...." Victor meringis kesakitan.


Tetapi ia terus mencari bantal. Lemparan bantal terlalu keras, sehingga ia tidak tahu di mana letaknya. Setelah waktu yang lama, ia tidak menemukannya. Ekspresinya semakin muram.


Victor terbaring kembali dengan tangan kosong. Wajahnya sangat kusut.


***


"Nilai marah: 3."


Valerie yang tengah tertidur nyaman, langsung membuka mata dengan terkejut. Ia mengambil ponsel di samping. Jam yang tertera di sana menunjukkan pukul sebelas malam.


"Apa yang membuatnya marah?" Valerie bergumam seraya memegang kepalanya yang sakit.


Ia mencoba mengabaikannya dan menutup mata. Untung saja, suara itu semakin pelan, rasa sakitnya berangsur-angsur mereda. Hanya tiga saja membuatnya sakit, Valerie tidak membayangkan jika nilai marah Victor mencapai seratus persen. Mungkin dirinya akan mati kesakitan.


Akhirnya Valerie bisa tertidur di tengah gangguan kecil.


***


"Ada apa?" tanya Jian saat melihat pembantunya berdiri kaku di depan pintu dapur.

__ADS_1


"Tuan ... Nona ... dia berada di dapur."


Sena--pembantu di rumah Joana, berkata dengan bingung dan malu. Ia awalnya akan memasak seperti rutinitas setiap paginya, namun tidak menduga akan melihat nonanya yang tengah sibuk di sana.


Sena telah bekerja di sini lebih dari delapan tahun, dan ia sudah di anggap orang tua di keluarga ini. Tentu saja Sena menyaksikan pertumbuhan Valerie sejak kecil. Nyonya dan tuannya memiliki kepribadian baik dan sangat mencintai Valerie. Mungkin karena terlalu di manjakan, bahkan hanya dengan memasak air harus di sediakan. Sena tak pernah melihatnya memasak sekalipun.


Saat ini tiba-tiba melihat nonanya memasak, Sena pikir dirinya sedang bermimpi.


Jian pun sedikit terkejut. Ia berjalan menuju dapur dan melihat sosok putrinya yang tengah membuat sarapan. "Valerie."


Valerie langsung menoleh dan tersenyum. "Selamat pagi, Ayah."


"Kamu ... sedang membuat sarapan?" tanya Jian untuk memastikan kembali.


"Ya. Semuanya akan selesai sebentar lagi."


"Jangan melakukan ini." Sepertinya Jian tengah menahan amarahnya. "Benar saja, sepertinya keluarga Spare telah membuatmu menderita dan memaksamu memasak."


Valerie terkejut. "Tidak, Ayah. Aku sudah mengatakannya beberapa kali. Ayah salah faham."


"Ayah tidak salah faham. Saat kamu di rumah dulu, kamu selalu ayah manjakan, tak pernah sekalipun ayah biarkan melakukan hal-hal sulit. Tetapi sekarang, hanya dalam setengah tahun menikah dengan pria gila itu, kamu sangat kurus. Mereka sangat membuatku marah. Apakah mereka bangkrut sehingga mereka tidak menyewa pelayan dan memaksamu memasak?"


Valerie mengusap dahinya tanpa daya. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi untuk menyangkalnya. Namun, di sisi lain ia bisa merasakan cinta seorang ayah untuk putrinya.


Valerie mendekatinya dan bertingkah manja di lengan Jian. "Ayah, jangan marah. Ayah seharusnya tahu karakter putrimu sendiri. Siapa yang berani memaksaku? Aku melakukan ini karena menyadari bahwa aku mempunyai bakat memasak. Menurutku itu sangat menyenangkan. Ini murni kesukaanku sendiri, sama sekali tidak ada hubungannya dengan keluarga Spare."


Ekspresi Jian melunak perlahan.


Valerie menghela nafas lega dalam hatinya. "Selain itu, aku belum bisa melakukan apapun untuk ayah dan ibu sejak kecil. Jadi, saat ini aku ingin membuatkan sarapan untuk kalian. Aku ingin ayah mencoba rasa masakanku."


Ekspresi Jian terlihat senang mendengar itu. Ia memuji. "Aku yakin, masakan putriku pasti sangat enak. Ayah akan melahap semuanya."


Valerie terkekeh. "Kalau begitu, tunggulah di luar. Aku akan melakukannya."


"Hati-hati. Jangan sampai ada yang terluka."


"Ya, Ayah. tenang saja, aku akan memerhatikannya."


Jian sedikit tenang mendengar itu. Lalu ia keluar dari dapur. Jian duduk di meja makan dengan senyuman di wajahnya.


"Apa yang membuatmu bahagia?" Tiba-Tiba suara Riana datang.


Jian langsung menarik kursi untuk membiarkan istrinya duduk di sampingnya. "Putri kita tengah membuat sarapan untuk kita.


Riana tercengang. "Valerie membuat sarapan?"

__ADS_1


"Ayah, ibu, selamat pagi." Aska datang ke meja makan dan menjatuhkan tas sekolahnya ke kursi. "Siapa yang membuat sarapan?"


Aska menjulurkan kepalanya melihat ke arah dapur. Matanya langsung terbelalak. "Aku pasti masih bermimpi. Kenapa kakakku berada di dapur?"


"Dia membuat sarapan untuk kita. "Suara Jian agak bangga.


"Kakakku benar-benar membuat sarapan?" Aska sangat tidak percaya. Ia menatap ibunya. "Ibu, apakah kakak sakit? Perlukah kita memanggil ambulans?"


Ekspresi Jian langsung marah. "Apa maksudmu bocah?! Putriku tidak sakit! Aku tidak akan membiarkanmu memakan sarapannya nanti!"


Aska mengangguk santai. "Baiklah. Lagi pula siapa yang ingin bunuh diri begitu saja? Aku belum menikah dan ingin hidup lebih lama."


Tepat Jian akan bangkit untuk mengajar putranya, Valerie tiba-tiba masuk dengan sarapan di tangannya.


"Nona, biarkan aku membantumu." Sena mengajukan diri.


"Masih ada sisa di dapur. Tolong ambilkan ke sini," pinta Valerie dengan lembut.


Ini pertama kalinya Sena mendengar ucapan lembutnya. Ia merasa tersanjung dan segera menjawab. "Baik."


Aska menatap tercengang sarapan yang tersedia di meja. Ada beberapa piring makanan berat, lalu ada roti kecil yang di hias indah. Aska bertanya pelan. "Kakak ... kamu benar-benar membuatnya sendiri?"


"Jangan meremehkanka ku. Semua sarapan ini sangat enak." Valerie sangat percaya diri dengan keahlian memasaknya.


"Kamu sangat hebat! Tidak hanya cantik, putri ibu ternyata sudah pandai memasak." Riana memuji dengan tulus.


Riana mengambil satu roti. Ia mencium baunya yang enak dan memakannya.


"Meskipun luarnya sangat cantik, apakah dalamnya akan enak ...." Aska masih merasa ragu.


"Baiklah. Jika kamu masih takut mati, jangan memakannya." Jian menarik piring menjauh dari Aska.


"Ini sangat enak!" Suara Riana begitu nyaring dan semangat.


Jian langsung mengambil dan memakannya. Itu benar-benar enak. Ia menatap putrinya cerah. "Putriku benar-benar hebat!"


Menyaksikan itu, Aska tanpa ragu ingin memakannya. Namun, Jian menampar tangannya dan memelototinya. "Siapa yang sebelumnya sangat enggan?"


Aska memasang wajah sedih. "Aku ... aku ingin memakannya juga."


Valerie menggeleng tanpa daya. Ia mengambil piring lain yang berisi banyak roti dan kue. Ia menyerahkannya. "Makanlah."


Mata Aska berbinar. Ia langsung memasukan dengan suapan besar. Tidak di ragukan lagi, itu sangat enak!


Matanya yang bulat menatap Valerie berbinar. "Kakakku yang terbaik!"

__ADS_1


Valerie tertawa geli. Memandang ketiga anggota keluarganya yang berwajah bahagia, hati Valerie ikut senang.


__ADS_2