
Matahari kuning sudah bersiap tenggelam di arah barat menyisakan senja yang indah di langit penuh awan.
Ketika Valerie sampai di rumahnya, langit benar-benar sudah meredup menunggu kegelapan. Namun, ia sangat terkejut ketika mendapati dua tamu di rumahnya. Ia menatap pria dan wanita yang berdiri di luar dengan ekspresi terpana.
"Untung saja kamu kembali cepat. Jika kami menunggu lebih lama lagi, di perkirakan mungkin kami akan segera pergi." Pria itu tersenyum tipis di wajahnya, tampak ramah. "Aku sangat terkejut ketika mendengar dari seorang pelayan bahwa kamu keluar."
Victor tidak membutuhkan Valerie untuk menuntunnya. Ia sudah terbiasa dan tahu persis arah-arah mansion kecilnya.
Victor berkata dingin. "Sepertinya kamu datang lebih awal."
Ethan, yang merupakan dokter pribadi Victor, hanya tersenyum dengan melirik sekilas seorang wanita di sampingnya. "Itu karena seseorang ingin melihatmu, jadi aku membawanya ke sini."
Chelsea--wanita di samping Ethan, tersenyum anggun saat memandang Victor. "Victor, lama tidak bertemu."
Valerie menyipitkan matanya saat menatap wanita itu. Dia terlihat cantik dengan temperamen luar biasa. Setiap gerakannya terlihat anggun dan lembut, pakaiannya hanya sedikit terbuka.
Seolah suara Chelsea hanya angin lewat, Victor mengabaikannya. Ia berjalan pelan menuju pintu. "Ayo masuk."
Di pimpin Victor, mereka masuk satu-persatu.
Saat sudah sampai di dalam ruangan, Ethan melihat sekeliling dengan ekspresi heran. Di bandingkan dengan ruangan gelap dan suram sebelumnya, saat ini kamar Victor terlibat lebih hidup dan cerah. Selain itu, ada beberapa vas dengan cabang bambu menimbulkan banyak vitalitas.
Sekarang tempat ini terlihat seperti tempat tinggal orang, karena dulu Ethan menganggapnya tidak wajar. Terlalu menakutkan jika di jadikan tempat tinggal.
Ethan sudah berniat untuk memeriksa mata Victor seperti biasa, namun tiba-tiba ucapan Victor membuatnya terkejut.
"Periksa tangannya terlebih dahulu." Wajahnya menoleh sedikit ke arah Valerie.
"... Hah?"
Lucher yang sedari tadi diam di samping Valerie, tidak bisa menahan untuk berbicara. Ia menunjuk lengan Valerie dan berkata cemas. "Paman Ethan, lengannya terluka.. itu pasti sangat meyakitkan."
Keterkejutan Ethan menjadi tercengang. Saat ia tahu tentang kepergian Victor dengan Valerie sudah menjadi hal luar biasa di hatinya, dan saat ini, Victor benar-benar memerhatikan Valerie?
Ethan mengingat, dulunya Victor dan Valerie seperti orang asing yang tinggal dalam satu atap, dan sangat tidak peduli satu sama lain. Setiap kali ia datang untuk memeriksa Victor, baginya Valerie seperti orang transparan.
Valerie sama terkejutnya dengan perkataan Victor. Ia menjadi sedikit hangat di hatinya. Ia kira pria ini benar-benar acuh tak acuh padanya saat ia terluka.
__ADS_1
Valerie mengulurkan tangannya saat Ethan mendekat untuk memeriksa.
Di sisi lain, Chelsea tengah memegang kotak hadiah di tangannya, lalu ia berjalan ke arah Victor dengan senyuman. "Victor, aku telah menyiapkan hadiah ulang tahun untukmu. Awalnya, aku ingin merayakan ulang tahunmu, namun kebetulan aku akan bertanding di luar negeri."
Victor mengabaikannya.
Ethan mengangkat kepalanya setelah melilit perban dan selesai mengobatinya. "Lukanya tidak terlalu dalam. Itu akan baik-baik saja dalam beberapa hari."
Valerie diam-diam memandangi tatapan Chelsea dan menutup mata. Tangannya sudah di bius dan tidak terlalu perih. Ia menatap Ethan tersenyum. "Terima kasih."
Ethan mendorong kaca matanya. "Sama-sama."
Chelsea yang di abaikan, berusaha menahan senyumnya. Suaranya lebih lembut. "Aku akan meletakkan hadiah ini di atas meja. Jangan menolaknya, oke?"
Victor sedikit melengkungkan bibirnya ketika mendengar bahwa Valerie baik-baik saja. Suaranya dingin saat menjawab Chelsea. "Terserah."
Mengira bahwa senyumannya untuknya, Chelsea sangat gembira. Apalagi hadiahnya tidak di tolak. Namun, ketika tatapannya jatuh ke wajah Victor yang terluka, ia merasa tidak nyaman tidak peduli bagaimana penampilannya. Senyum di bibirnya agak menyempit.
Ethan mulai memeriksa mata Victor.
"Apakah masih terasa belakangan ini?"
"Tidak," balas Victor rendah.
"... Apa?" Ethan terkejut
Setelah memeriksanya, mata Victor tetap sama seperti sebelumnya. Sama sekali tidak ada perubahan. Tentu saja ia terkejut saat mendengar jawabannya.
"Akhir-akhir ini tidak terlalu sakit."
Ketika ia tidur setiap malam, selama ia mencium bau susu pada Valerie, ia akan tertidur nyenyak sepanjang malam. Selain itu, matanya tidak sakit seperti biasa. Victor pikir, Valerie cukup berguna.
"Aku tidak bisa mendeteksi perubahannya, tetapi mungkin kondisimu merupakan awal perbaikan matamu," terka Ethan sedikit tidak yakin. "Aku akan kembali mempelajarinya. Obat yang aku berikan kepadamu harus di minum tepat waktu."
Ethan merasa tertekan karena sebelum-sebelumnya Victor tidak pernah mendengar intruksinya. Namun saat ini, jawabannya tak terduga.
"Baiklah."
__ADS_1
***
Keesokan harinya, Valerie bangun karena rasa sakit di lengannya.
Walaupun hanya tergores, namun tetap saja menyakitkan. Valerie bangun dan duduk.
Ia menoleh dan melihat Victor yang berbaring tegak. Ketika ia akan tidur di malam hari, Victor menggunakan postur ini. Apakah dia tidak bergerak sedikit pun saat tidur? Jika ia sendiri, pasti tidak akan merasa nyaman dan pegal.
Valerie sesikit menguap dan mengusap matanya. Lalu ia beranjak menuju kamar mandi.
Seperti kebiasaannya setiap bangun di pagi hari, Valerie akan nercermin untuk mengamati perubahan dirinya.
Pada saat beratnya seratus dua puluh lima kemarin, wajahnya masih bulat. Namun saat ini, selain pipinya yang menirus, perut dan pahanya pun agak mengecil. Ia tidak menduga akan turun banyak hari ini.
Menatap cermat orang di pantulan cermin, Valerie menyadari bahwa fitur wajahnya menjadi halus dan indah, warna kulitnya tidak lagi kuning atau gelap, dan saat ini wajahnya bisa mendekat dengan kata 'cantik'. Yang paling penting adalah, mata ini tidak lagi terjepit seperti sebelumnya, melainkan hitam bening dan berair.
Valerie memiliki sepasang mata persik yang menarik sebelumnya, namun tubuh ini seperti mata aprikot yang cantik.
Valerie merasa terkejut dan gembira. Ia mengira, tampaknya wajah ini masib memiliki potensi lebar. Setelah berat badannya turun 20 kg dan kulitnya cerah, ia yakin penampilannya tidak akan jauh lebih buruk.
Suasana hati Valerie lebih cerah dari pada matahari di luar. Ia bersenandung ceria sembari berjalan keluar kamar mandi. Namun, saat melihat seorang pria berdiri di depan lemari, langkahnya berhenti.
Jari-jari panjang pria itu membuka kancing terakhir piyama hitamnya. Lalu dia membuka piyamanya dengan santai.
Mata Valerie melebar ketika melihat tubuh bagian atas pria itu yang telanjang. Ia menatapnya penuh minat tanpa mengalihkan pandangan.
Valerie berpikir, pria seperti Victor yang selalu diam di rumah sepanjang hari pasti begitu kurus dan terlihat sakit-sakitan. Namun, saat tubuh atasnya sepenuhnya terbuka, dadanya lebar, otot-ototnya agak menonjol, tipis tapi tidak lemah. Terutama, garis-garis otot mulus sempurna terus memanjang ke bawah.
Saat malam itu untuk pertama kalinya melihat tubuh Victor, Valerie tidak bisa melihatnya jelas karena cahaya redup. Namun saat ini, matahari bersinar ke dalam kamar membuat tubuhnya terlihat jelas.
Walaupun Valerie sudah banyak melihat tubuh sixpack dan berotot pria, tapi Victor benar-benar sempurna dan pas di matanya.
Victor bergerak mengambil pakaian yang telah siap di gantungan, lalu ia mengenakannya dengan perlahan.
Sampai kancing bajunya sudah di kancingnya seluruhnya, Valerie benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangan. Jika pria ini tidak cacat di wajahnya, pasti dia akan sangat luar biasa.
"Setelah sekian lama memandangku, apakah kamu puas?"
__ADS_1
Wajah Valerie langsung memerah.