
"Victor," panggil Valerie setelah menyelesaikan mengobati luka di tangan Lucher. Memastikan anak kecil itu sudah me jauh dan pergi ke kamarnya sendiri, Valerie menatap Victor dengan serius. "Kamu seharusnya tahu, ini bukan pertama kalinya Lucher di gertak dan di ganggu. Seharusnya kamu bertindak."
Victor masih tampak malas setelah mendengar ucapan seriusnya. "Ini hanyalah pertengkaran anak-anak yang tidak serius."
"Tidak serius katamu?" Valerie merasa sedikit marah. "Terkadang dia selalu terluka, apakah kamu menganggap ini tidak serius? Tidak hanya fisiknya, namun mentalnya akan terganggu jika ini terjadi terus menerus. Seain itu, para pelayan dan orang-orang di kediaman ini yang menyaksikan hanya diam dan menonton, mereka sama sekali tidak peduli melihat Lucher diintimidasi. Anak itu sangat menderita."
Kemalasan Victor lenyap. Ia terkejut oleh nada marahnya, ekspresinya menunjukan sedikit ketidakberdayaan. "Lalu, apakah aku harus memarahi anak kecil itu untuk tidak menggertak putraku?"
"Bukan seperti itu, tapi ...." Valerie kehabisan kata-kata. Ekspresinya menunjukan kegelisahan karena berpikir bagaimana mengatasi masalah ini.
"Sepertinya kamu benar-benar khawatir tentang dia." Hatinya masih saja terkejut. "Ternyata aku baru menyadari bahwa kamu adalah ibu yang penyayang."
Valerie tidak tahu apakah itu perkataan mengejek? Wajahnya menjadi lebih kesal bercampur malu.
Tatapannya yang tajam bisa di rasakan Victor yang sensitif. Sebelum wanita itu menyemburkan kekesalannya, ia berkata tenang namun serius. "Biarkan saja dia mandiri. Luka sekecil itu tidak serius, dan gertakan akan membuat mentalnya semakin kuat. Dia adalah anak laki-laki, sudah seharusnya dia bisa melindungi dirinya sendiri dan membalas gertakan kembali. Jika kamu memanjakannya, dia akan bergantung dan semakin lemah karena berpikir ada seseorang yang melindunginya."
Valerie agak tercengang. Sepertinya baru kali ini ia mendengar Victor berbicara dengan kalimat sebanyak itu. Valerie memandangnya, hatinya masih saja enggan, tapi perkataan pria ini ada benarnya. Setelah terdiam sesaat, ia bertanya pelan. "Apakah kamu seperti itu saat masih kecil? Pantas saja tidak ada yang mengganggumu."
__ADS_1
Ekspresi Victor berubah sedikit. Valerie merenung, apakah ia salah mengajukan pertanyaan? Tapi setelahnya Victor kembali pada ketenangannya. Sepertinya ia bertanya pada dirinya sendiri dan berpikir. "Ketika aku masih kecil?"
Setelah diam sejenak, ia berkata lagi. "Ku rasa kamu tidak perlu mengetahuinya."
Valerie diam menatapnya dan mengingat bagaimana Victor ketika masih kecil di dalam novel itu, tapi ia menyerah karena deskripsi nya tidak di jelaskan.
***
Semua orang di kediaman Spare tahu tentang kecelakaan yang di alami Valerie pada saat pesta perjamuan, termasuk para pelayan. Dan saat ini mereka tengah membicarakannya.
"Aku melihat Nyonya Valerie kemarin, wajahnya tertutup masker, pasti karena takut di lihat orang lain. Aku penasaran, apakah bekas lukanya sangat jelek?" Seorang pelayan Berbisik kepada pelayan lain.
"Ya. Aku sendiri pun merasa kagum akan kecantikannya, sayang sekali kejadian itu pasti meninggalkan bekas luka. Selain itu, ku dengar Nyonya terkena asam sulfat karena melindungi Tuan Victor."
"Benarkah? Bukankah dia selalu membenci Tuan Victor dan hanya menyukai Tuan Javier?" Pelayan itu terkejut. Karena dia hanya pelayan di vila, tentu saja tidak tahu perkembangan hubungan antara Victor dan Valerie yang lebih baik.
"Kita tidak tahu bagaimana perasannya. Hanya saja, wajahnya yang hancur saat ini aku benar-benar ingin melihat. Apakah itu lebih jelek dari bekas luka di wajah Tuan Victor?"
__ADS_1
"Hentikan rasa penasaranmu, aku merasa takut membayangkannya. Yang pasti, saat ini kedua pasangan itu benar-benar cocok."
Chelsea hendak turun untuk mengetahui keadaan Valerie, tapi itu terjawab setelah mendengar gosip para pelayan. Apa Valerie benar-benar cacat? Ia sangat terkejut.
Namun, di sisi lain Chealsea juga merasa bersyukur karena tidak punya waktu terburu-buru untuk melindunginya, karena jika itu terjadi, pasti dirinya yang akan menjadi cacat saat ini.
Tampaknya Chelsea menanggap dirinya memang protagonis wanita, karena ia terhindar dari bahaya. Sedangkan, Valerie yang hanya antagonis merupakan pelindungnya dari bencana
Ketika Chelsea tiba di bangunan belakang, ia melihat Victor berbaring santai di kursi paviliun, lalu tidak jauh ada Lucher yang sedang bermain dengan kucingnya--Brownie. Chelsea mengedarkan pandangan untuk mencari sosok Valerie, namun tidak ada di sana. Detik berikutnya, orang yang di cari berjalan keluar sembari memegang piring yang terletak beberapa potongan buah.
Seperti yang di katakan para pelayan, saat ini dia mengenakan masker. Chelsea langsung mendekat. "Valerie, aku mendengar bahwa kamu telah keluar dari rumah sakit, dan tujuanku ke sini untuk melihat keadaanmu."
Valerie yang sudah menyadari keberadaannya hanya tersenyum. "Aku baik-baik saja."
Chelsea tersenyum dan menunjukan sebuah barang di tangannya. "Aku membawakanmu beberapa obat penghilang bekas luka. Aku tidak tahu apakah kamu membutuhkannya."
Valerie meletakkan piring di atas meja dan menerima obat itu. "Ini mungkin akan membantu. Terima kasih."
__ADS_1
"Aku merasa nyaman melihat kamu sudah baik-baik saja. Saat kejadian itu terjadi, aku berada tidak jauh saat bahaya datang. Melihatmu tersiram asam sulfat, jantungku sangat terkejut sehingga berhenti berdetak." Ekspresinya terlihat sangat khawatir. "Tapi untung saja sekarang kamu lebih baik."
Chelsea sama sekali tidak menyebutkan bahwa dirinya juga berniat menyelamatkan Victor. Bagaimana pun, hasilnya sekarang bahwa Valerie yang berbuat itu, dan jika ia mengatakannya, pasti ia akan di anggap ingin di puji.