Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 13


__ADS_3

Pada sebelumnya, orang tua Victor bepergian ke luar negeri. Dan mereka akan kembali pada hari ini.


Kepala pelayan dengan sopan memberitahu Valerie. "Nyonya, semua orang sudah berkumpul. Anda harus segera pergi mengambil alih Tuan."


Valerie menoleh ke arah Victor yang tengah memakan sepotong kue.


Lalu tatapannya kembali pada kepala pelayan dan tersenyum. "Terima kasih telah memberitahuku. Aku akan segera ke sana."


Kepala pelayan itu mengangguk sopan dan pergi.


Lucher yang sudah menghabiskan kuenya dengan banyak krim stroberi di mulutnya, segera berkata. "Ayo, aku akan mengantarkanmu ke kakek dan nenek."


Lucher menjadi lebih terbuka semenjak Valerie membuatkan kue untuknya. Bahkan ia lebih berani berbicara padanya.


Valerie hanya tersenyum. Ia mengambil tisu dan membungkuk untuk menyeka krim di sekitar mulut kecilnya.


Lucher terkejut. Namun ia diam dengan ekspresi malu-malu di wajahnya.


Setelah selesai, keduanya bersiap pergi. Namun Lucher menghentikan langkahnya untuk melihat ayahnya. "Ayah tidak pergi?"


"Tidak." Victor melanjutkan makan kuenya begitu saja tanpa menoleh.


Lucher hanya mengangguk. Dan keduanya pergi ke ruang tamu vila.


Di ruang tamu, ruangan itu di penuhi tawa dan kegembiraan. Namun, saat Valerie dan Lucher masuk, tawa itu berhenti.


Ekspresi Nuella tidak berubah. Ada senyum dalam yang aneh di wajah cantik polosnya. Sedangkan, Javier menatapnya jijik.


"Kamu sudah tiba. Duduklah di sini bersama putramu." Ibu Victor--Gracia berbicara pada Valerie.


Walaupun sudah tua, Gracia masih memiliki pesona yang anggun. Valerie agak menyukainya. Ia memimpin Lucher dan duduk. Pria kecil itu duduk di sampingnya dan bersandar dengan membawa kucingnya.


Gracia mengambil sesuatu dan memberikan bungkusnya itu kepada Valerie. "Ini adalah Suvenir yang ku bawa dari luar negeri untukmu."


"Terima kasih, Ibu."


"Bagaimana kabar Victor?"


Seolah menanyakan sesuatu yang asal, nadanya sangat terasing. Tidak ada kepedulian sedikitpun.


Namun Valerie tetap menjawab ramah. "Dia baik-baik saja."

__ADS_1


Gracia mengangguk asal. Ia sama sekali tidak menyukai menantunya. Sama sekali tidak mencerminkan putri kaya. Sejak dia menikah dengan putranya, ia sama sekali tidak pernah membawanya untuk bersosialisasi atau ke perjamuan makan. Bagaimanapun Gracia sangat malu.


Sebaliknya dengan cucu menantunya--Nuella, dia bisa dapat di andalkan. Dia berpenampilan cantik dan bertemperamen lembut. Walaupun keluarga Spare dalam keadaan putus asa, namun dia memiliki sikap yang di inginkannya.


Setelahnya, Gracia bercakap-cakap, mengobrol, dan tertawa dengan Nuella dan Javier. Seperti keluarga harmonis dan bahagia. Sedangkan, Valerie dan Lucher seperti penonton.


Valerie tidak memiliki emosi apapun. Hatinya tenang. Ia menoleh dan melihat Lucher yang tengah menatap neneknya dengan mata besar, tapi Gracia mengabaikan tatapannya seolah dia tidak ada.


Matanya menjadi sedih dan kehilangan.


Semenjak kecelakaan itu, keluarga Spare tidak lagi terlalu peduli dengan Victor. Tidak seperti pada saat Victor melambung tinggi membanggakan keluarga Spare, mereka memuji-mujinya. Namun setelah kecelakaan, mereka menjauh dan tidak peduli padanya. Dengan itu, mereka juga tidak peduli dengan anak yang di bawa kembali.


Lucher adalah anak angkat yang Victor bawa dan membesarkannya. Namun semua orang menganggapnya anak haram. Tentu saja nenek dan kakeknya tidak pernah memberikan Lucher kasih sayang.


Valerie memandang ekspresinya yang sedih. Ia tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk mengusap kepalanya menarik atensi si kecil dan menatapnya polos.


Ia tersenyum lebih hangat, lalu membungkuk dan berbisik ceria. "Ayunan di halaman sudah di perbaiki. Setelah kembali, maukah kamu bermain denganku? Aku akan mengayunmu."


Mata Lucher langsung berbinar cerah. Ia mengangguk semangat.


***


Di sisi lain, Javier merasa heran dengan perubahan Valerie. Saat terakhir mengobrol dengannya, sikapnya sangat berbeda dan terasing, seolah wanita gila yang mengerjarnya dan membiusnya adalah orang berbeda.


Selain itu, Valerie tidak muncul untuk makan bersama beberapa hari. Dan saat ini, dia berinisiatif untuk kembali. Bukankah dia mundur untuk kemajuan selanjutnya dan menarik perhatiannya?


Javier menurunkan pandangannya. Ia meletakkan tangannya di pinggang Nuella dengan intim. "Apakah audisimu kemarin berhasil?"


Nuella dengan sengaja melirik Valerie seolah memamerkan keintiman Javier kepadanya. Namun bahkan Valerie tidak melirik mereka sedikitpun membuat hatinya kesal.


Di permukaan senyumannya lembut dan malu-malu. "Aku berhasil."


Di kehidupan ini, ia akan menjalankan karirnya sendiri. Dia tidak akan pernah bernasib seperti kehidupan sebelumnya. Tinggal di rumah suram itu dan menghadapi iblis seperti Victor setiap hari.


"Baguslah. Jika kamu memiliki masalah, kamu harus memberitahuku. Aku akan membantumu sesulit apapun. Bagaimanapun, kamu harus tetap bahagia." Suara Javier sangat manis dan dekat dengan telinga Nuella.


Nuella tersipu. Ia mengangguk malu-malu. Nuella melirik Valerie lagi, dia sedang mengobrol dengan Lucher. Mereka sepertinya akrab. Tidak ada kemarahan atau jijik di matanya saat menatap anak itu, malah matanya terlihat lembut dan tulus.


Nuella menyipitkan matanya heran. Kenapa dia berubah terlalu cepat? Apakah dia berpura-pura?


Dulu, ia merasakan rasa sakit yang perih. Tidak hanya menjadi seorang istri dari pria kejam, tapi setelah menikah dia menjadi seorang ibu tiri. Sekarang ia yakin bahwa hidupnya tidak akan pernah menyesal. Javier mencintainya, nenek mertuanya memperlakukannya dengan baik.

__ADS_1


"Sudah larut. Aku akan mengantar anakku pulang. Dan mungkin suamiku menungguku di rumah." Valerie tiba-tiba berkata.


"Baiklah, dan rawat dia dengan baik." Gracia tersenyum.


Gracia merasa menantunya agak berbeda. Namun, ia merasa senang dengan perubahan ini.


***


Setelah keluar dari vila, Valerie membawa Lucher ke ayunan seperti janjinya.


"Kamu naik dan duduk. Aku akan mengayunkannya."


Lucher menegang. Matanya tertuju pada ayunan dengan penuh kerinduan, namun saat ia melihat Valerie, masih ada ketakutan di matanya. Bagaimanapun, ia masih memiliki sedikit rasa takut.


Valerie tentu saja memerhatikannya. Ia berpura-pura akan pergi. "Apakah kamu berubah pikiran? Jika tidak ingin bermain, ayo kita kembali ke atas."


Lucher menjadi cemas. Ia ingin bermain! Matanya menjadi lembab. Ia bergumam seolah ia adalah orang yang paling di aniaya. "Kamu membohongiku.."


Valerie mengangkat alis dan tersenyum. Ia membungkukkan badannya hingga wajahnya sejajar dengan si kecil. "Apakah Lucher ingin bermain ayunan?"


"Aku ingin bermain!" Lucher dengan cepat mengangguk karena takut dia akan pergi.


Lucher meletakkan Brownie di rumput bersih. Lalu ia mendekati ayunan dan berjinjit untuk duduk. Namun tidak sampai. Ia menoleh ke arah Valerie yang memerhatikan gerakannya. Wajah kecilnya malu. "Aku tidak bisa memanjatnya duduk."


Valerie terkekeh pelan. Ia membungkuk dan mengangkat tubuh gemuknya duduk di kursi ayunan.


Lucher terperangah dengan tubuhnya yang tiba-tiba terangkat. Sebelum ia bereaksi, ia sudah duduk di ayunan dengan kaki melayang. Tangannya memegang kedua tali ayunan. Ketegangannya menjadi kegembiraan.


Perlahan Valerie mengayunkannya. Ia ikut tersenyum melihat wajah imutnya tertawa. Wajahnya cerah, ia tertawa hingga menampilkan gigi putih kecilnya.


"Aku ingin lebih tinggi!"


"Pegang talinya erat-erat."


"Ya!"


Valerie tertawa melihatnya begitu semangat. Ia mengayunkannya lebih tinggi sesuai keinginanmu.


Valerie melihat Lucher yang begitu bahagia. Hatinya sedikit masam. Di dalam novel, Lucher hanya memiliki Brownie sebagai temannya. Walaupun ayahnya sedikit peduli, namun tidak setiap waktu. Victor terkadang acuh tak acuh. Sejak kecil, ia tidak pernah keluar untuk bermain bersama anak lainnya.


Seekor kucing dan pria buta, bagaimana dia bisa bermain dengan mereka?

__ADS_1


__ADS_2