
Di sisi Valerie, ia sama sekali tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya yang bergosip. Ketika akhirnya dia duduk, Valerie menatap Victor. Ia tahu bahwa pria ini kebosanan.
Valerie mengambilkan segelas jus untuk Lucher. Setelah itu, dia mencondongkan tubuh ke dekat Victor dan bertanya lembut. "Apakah kamu merasa bosan?"
Valerie merasa cemas di dalam hatinya. Ia sedikit takut orang-orang yang membicarakan Victor tadi akan menyakitinya. Tetapi, karena tidak ada bel yang berdering, Valerie sedikit lega karena tahu bahwa dia tidak marah.
Karena terlalu berisik, Valeri mendekati telinga Victor. "Setelah pesta di mulai, kita akan kembali setelah makan. Karena tidak ada kue kesukaanmu di sini, aku akan membuatnya nanti di rumah, oke?"
Wajah tanpa ekspresi Victor berubah. Ia merasa telinganya lembut dan gatal karena suaranya yang manis. Ada kegembiraan di matanya. Mencium aroma susu dengan rakus, ia berkata. "Ya."
"Valerie, kemarilah. Ayah akan membawamu menemui beberapa orang," kata Jian dengan mata menatap Victor tidak senang. Ia tidak akan membiarkan putrinya terus berurusan dengan pria ini di tengah pesta!
"Baiklah," jawab Valerie. Ia menoleh ke arah Victor dan Lucher. "Aku akan pergi sebentar. Victor, jangan kemana pun. Dan Lucher kamu harus mengikuti ayahmu, oke?"
"Valerie, apakah kamu memperlakukanku sebagai anak kecil?"
"Tidak. Aku hanya khawatir tidak akan menemukanmu nanti."
Victor mendengus. Lucher di sampingnya mengangguk patuh sembari memakan makanan.
Setelah Valerie pergi, Lucher meletakkan makanannya dan berkata. "Ayah, aku ingin ke kamar mandi."
Victor menundukkan kepala. "Buang air kecil?"
Lucher mengangguk. "Ya."
"Baiklah." Victor berdiri dan mengulurkan tangan. "Bawa aku untuk memimpin jalan."
Lucher memegang tangan ayahnya yang besar. Lalu ia berjalan sembari menunjukkan jalan. Di bandingkan dengan aula yang penuh suara berisik, koridor di luar relatif lebih tenang, udara lebih segar.
"Hei, bukankah itu Victor?" Suara seorang laki-laki tiba-tiba terdengar di samping. "Tuan Muda Victor kita telah buta, dan sekarang dia mengandalkan anak kecil untuk memimpin jalan. Bukankah itu sangat lucu?"
__ADS_1
Lucher menatap orang dewasa itu dengan cemberut. Ia memegang tangan ayahnya sedikit ketakutan, dan segera ke kamar mandi.
"Jangan dulu pergi, Tuan Victor. Kita sudah lama tidak bertemu satu sama lain. Aku mendengar bahwa kamu telah bersembunyi di kediaman Spare sejak kamu buta dan sama sekali tidak berani keluar. Mengapa hari ini kamu keluar dari cangkangmu?"
Pria itu menjatuhkan rokoknya dan menginjaknya hingga hancur. Lalu ia memberi isyarat kepada orang di belakangnya untuk maju berjalan ke arah Victor.
Koridor itu jarang ada yang lewat, tetapi jika sesekali ada, mungkin mereka merasakan atmosfer yang tidak menyenangkan sehingga mereka pergi dengan cepat.
Lucher menatap mereka dengan ketakutan. Tangannya yang memegang tangan Victor mengerat. Ia bersembunyi di belakang kaki ayahnya.
"Ugh, lihatlah. Matanya buta, dan wajah bekas luka bakarnya benar-benar menakutkan. Zero, menurutmu apakah wajah ini seperti monster?"
Orang yang di panggil Zero menunjukkan ekspresi jijik. "Untung ini siang hari, jika di malam hari aku akan merasa takut. Pukuli saja dia."
Orang-orang itu tertawa setelah mendengar ucapan Zero. Orang yang memimpin mereka bernama Sean, dia melangkah maju dan mendekati Victor. "Tuan Victor--Ah! Sepertinya aku harus memanggilmu Tuan buta dan buruk rupa, apakah kamu mengenaliku?"
Victor tanpa ekspresi. "Aku tidak tertarik untuk mengetahui siapa kamu. Enyahlah, jangan menghalangi."
"Oh, sangat arogan. Bahkan jika kamu buta, kamu benar-benar bangga?" Sean tersenyum kemenangan dan terus mengolok-oloknya. "Sekarang pewaris keluarga Spare adalah Javier. Dan kamu hanya sampah yang terbuang hingga di kucilkan. Sangat konyol jika mengingatmu yang awalnya berada di paling atas, dan jatuh begitu saja "
Sean masih ingat bagaimana Victor yang sombong dan arogan tengah duduk di kursi kantor. Ia dan ayahnya membungkuk lama hingga Victor mengusir mereka dengan acuh tak acuh. Seperti memandang anjing yang menyedihkan.
Untungnya, kesialan Victor membuatnya senang. Dia mengalami kecelakaan hingga wajahnya terbakar dan matanya buta. Pada saat itu, perusahaan keluargamya semakin baik dari sebelumnya.
Sekarang, melihat Victor yang keluar dari persembunyiannya, bagaimana mungkin Sean akan menyia-nyiakan ini?
Pandangan Sean beralih pada Lucher yang bersembunyi di belakang Victor. Ia mengangkat alis. "Apakah ini anak harammu? Ambil dia."
Zero langsung meraih Lucher. Sean menghentikan Victor yang akan bergerak. "Tuan Victor, jangan bergerak. Jika begitu, aku khawatir kamu akan melukai anak harammu "
Ekspresi Victor sangat muram dan dingin. "Ingin memukulnya?"
__ADS_1
"Ya." Sean tersenyum miring. "Berlututlah di hadapanku."
***
Di dalam aula perjamuan, Valerie mengikuti orang tuanya untuk bertemu beberapa penatua dan menyapa. Ia merasa sedikit malu, tetapi banyak orang yang kagum padanya.
"Kakak, lihatlah ibu. Dia sangat bahagia. Sepertinya ibu tidak sabar untuk menunjukkan kepada dunia bahwa betapa cantiknya kakak."
Valerie hanya tersenyum.
Banyak waktu yang berlalu sebelum pesta pernikahan di mulai. Sebagian besar tamu yang hadir sudah duduk. Ketika Valerie kembali ke kursi bersama keluarganya, ia baru menyadari bahwa Victor dan Lucher tidak ada.
Valerie mengerutkan kening dan panik. Ia mengedarkan pandangan melihat sekeliling. Meja bundar besar di aula penuh sesak dengan banyak orang, tetapi Victor dan Lucher tidak terlihat.
Valerie merasa tidak enak hati saat ini. Ia menatap Jian dan berkata cemas. "Ayah, aku akan pergi sebentar untuk mencari suamiku. Aku tidak tahu kemana dia pergi."
"Sebentar lagi perjamuan akan di mulai. Victor bukanlah anak kecil lagi dan tidak akan hilang. Mungkin dia hanya pergi ke kamar mandi sebentar," ucap Jian dengan tidak senang. Jian tidak mau di tengah pesta ini putrinya harus berlarian mencari pria itu.
Valerie merasa itu masuk akal. Ia akhirnya duduk kembali di kursi, tetapi kecemasan di hatinya tidak mereda. Ia hanya berharap pria itu cepat kembali.
Di ruang terbuka di sudut hotel, beberapa orang pria tergeletak di tanah dengan urat biru yang muncul di wajahnya. Jelas ia terlihat kesakitan hingga tidak bisa bernafas .
"Cepat bangun dan lawan dia lagi! Hanya melawan orang buta, kenapa kalian begitu sulit menghadapinya?!"
Sean tidak menduga kemampuan Victor sangat baik walaupun tidak bisa melihat. Sean terus mengumpat dengan ekspresi kesal dan marah.
Victor berdiri tidak jauh, wajahnya tampak seolah berlumuran es yang beku, gelap dan muram. Mereka adalah orang-orang kaya yang hanya tahu makan dan tidur, mereka kira melawan orang buta akan mudah, tapi dalam beberapa menit mereka di pukuli hingga cedera.
Lucher yang menyusut di sudut hanya menonton. Ia takut dan gugup, melihat ayahnya mengalahkan mereka, matanya di penuhi kekaguman. Ia hanya merasa ayahnya pahlawan yang besar.
Lucher langsung berlari ke sisi ayahnya. Tiba-tiba tubuhnya di tarik oleh Sean. Lucher menendang dan berontak. Sean mencubitnya. "Jangan berteriak! Atau aku akan memukulmu!"
__ADS_1
Mata Lucher di penuhi air mata. Ia menatap ayahnya dan berteriak. "Ayah ...."
Sean memegang tubuh Lucher dengan kuat dan menatap Victor ganas. "Victor! Jika kamu berani melawan lagi, aku akan menyakiti anakmu!"