Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 47


__ADS_3

Valerie asli masih berkuliah di sebuah universitas. Sebelumnya, dia mengambil libur satu bulan, dan sekarang adalah waktunya untuk masuk kembali ke kampus.


Saat ini, Valerie sudah bersiap dengan penampilannya. Gaun biru muda memperlihatkan sosoknya yang lebih kurus dan langsing, kakinya memakai sepatuh hak datar, wajah putih cantik dengan sedikit polesan make up, sebuah tas berisi beberapa barang.


Tentu saja ia mulai terbiasa berganti pakaian di depan Victor. Setelah bersiap, Valerie berbalik dan melirik pria yang duduk santai di kursi. "Victor, aku akan kembali kuliah hari ini. Jika tidak ada kursus, aku akan kembali makan siang di sini. Tetapi jika ada, aku akan makan siang di kampus."


"Oh," respon Victor acuh tak acuh.


Valerie yang terbiasa tidak peduli dengan responnya. Valerie memasukan buku-buku yang merupakan jadwal hari ini. Setelahnya, ia menoleh. "Aku pergi dulu. Selamat tinggal."


Valerie sudah akan berjalan, tetapi ia menoleh lagi melihat pria itu diam seperti patung. "Victor? Selamat tinggal."


"Ya," balasnya pelan.


"Apakah kamu akan merindukanku?" tanya Valerie dengan menggoda.


Setelah beberapa detik keheningan, suara magnetis pria itu terdengar. "Tidak."


"Ah, sayang sekali." Valerie menurunkan bahu dengan suara seolah kecewa. "Hmm ... kalau begitu, aku tidak perlu khawatir untuk kembali lebih lambat."


Valerie terkikik dan keluar pintu tanpa memerhatikan ekspresi Victor yang muram.


Saat menuruni tangga, Valerie bertemu dengan Lucher yang memegang kucingnya yang gemuk. Ia tersenyum manis dan menyapa. "Lucher, selamat pagi."


"Pagi," balas Lucher seraya tersenyum lebar sehingga menampilkan giginya yang rapi. Melihat Valerie membawa tas, senyumnya luntur. "Apakah kamu akan pulang lagi?"


Ekspresi pria kecil itu menjadi menyedihkan. "Bisakah kamu tidak pulang saat ini?"


Valerie tertawa geli melihat ekspresinya. Ia sedikit membungkuk dan menyentuh kepala Lucher. "Aku tidak akan pulang, tetapi akan pergi ke kampus."


"Kampus? Apa itu kampus?" Lucher memiringkan kepalanya dengan rasa ingin tahu.

__ADS_1


"Kampus itu seperti sekolah. Kamu pasti akan pergi ke sekolah saat besar nanti. Kamu juga pasti akan pergi ke taman kanak-kanak hanya dalam beberapa waktu lagi."


Mata Lucher langsung berbinar. "Aku akan pergi?"


"Tentu saja."


"Aku akan makan lebih banyak agar besar dan pergi ke sekolah!" seru Lucher semangat.


Valerie mengangguk dan menyentuh kepalanya. "Bagus."


***


Valerie sampai di tempat perkuliahan dengan hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit. Saat keluar mobil, matanya langsung tertuju pada dua orang wanita yang berdiri di gerbang. Mereka adalah sahabat Valerie asli.


Selama periode waktu ini, Valerie menerima pesan terputus-putus dari mereka, dan sebelumnya ia sudah membuat janji dengan mereka untuk menemuinya di gerbang kampus hari ini.


Di sisi lain, Archa yang merupakan sahabat Valerie berkata cemas. "Mengapa Valerie belum datang? Kelas akan di mulai sebentar lagi."


Saat Archa melihat ke depan, matanya menangkap wanita yang sangat cantik. Di kampus, banyak wanita cantik lain seperti Rea yang lembut, dan juga berbagai bunga kampus lainnya. Tetapi, Archa merasa wanita di depannya jauh lebih cantik dan menawan. Meskipun dia perempuan, tetapi melihat keindahan seperti ini sangat sulit untuk di abaikan.


Wanita itu berjalan ke arahnya. Semakin Archa melihat, ia hanya merasa familier. Detik berikutnya, wanita itu sudah ada di hadapannya dan berkata. "Archa, Rea? Apakah kalian sudah menunggu lama? Maaf, ada kemacetan lalu lintas di jalan, jadi aku terlambat."


Keduanya langsung tercengang. "Valerie?!"


Valerie sudah menduga reaksi mereka. Ia hanya tersenyum. "Kenapa? Apakah kalian tidak mengenaliku?"


"Ini benar-benar kamu!" seru Archa terkejut.


"Ini aku, Valerie," ujarnya. "Sepertinya aku terlalu kurus sehingga kalian tidak mengenaliku."


Mata Archa di penuhi ketidakpercayaan. "Apakah kamu melakukan sedot lemak atau operasi plastik?"

__ADS_1


Valerie menggelengkan kepala seraya terkekeh. "Tidak. Itu erlalu merepotkan."


Archa masih tidak percaya. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh wajah Valerie yang halus dan lembut. Ia berkata bodoh. "Ini benar-benar asli. Kamu berubah sangat drastis! Bagaimana caramu menurunkan berat badan?!"


"Jangan meremehkan tekadku untuk menjadi cantik. Jika di jelaskan, akan sangat panjang," ucap Valerie dengan senyuman manis. "Ayo pergi. Kita akan lebih terlambat."


"Wow! Jangan tersenyum padaku! Ini terlalu menyilaukan!" seru Archa dengan tangan menutup mata. Tetapi memang begitu kenyataannya.


Valerie tertawa melihatnya berlebihan. Ia menoleh dan meihat Rea yang masih tercengang. "Ada apa?"


"Valerie, kamu sangat cantik. Hanya beberapa minggu tidak melihatmu, kamu sudah berubah begitu banyak."


Valerie hanya tersenyum rendah hati, tetapi di dalam ia tertawa bahagia dan bangga.


***


Saat ketiganya memasuki kelas, bel langsung berbunyi. Valerie yang mendengar itu hanya merasa nada deringnya sama seperti saat Victor marah. Tiba-tiba ia berpikir apa yang pria itu lakukan saat ini.


Semua orang di kelas hanya menahan diri dari rasa ingin tahu saat Valerie masuk, karena dosen sudah hadir masuk ke dalam kelas. Mereka sangat penasaran siapa dia, hanya bisa berbalik dan melihat Valerie di barisan belakang.


"Valerie, banyak orang yang diam-diam melihatmu," bisik Archa.


Valerie terlihat acuh tak acuh. "Biarkan saja. Jangan terlalu memerhatikan mereka, aku takut perhatian dosen akan tertuju ke sini."


Archa meletakkan kepalanya di meja dengan wajah menoleh ke arah Valerie. "Hmm ... aku masih penasaran kenapa kamu bisa secantik ini. Sayangnya, tidak peduli betapa cantiknya kamu, orang buta tidak bisa melihatnya "


Archa berekspresi menyesal dan menambahkan. "Kamu sudah menjadi cantik dan tidak layak untuk Victor. Valerie, kapan kamu akan menceraikannya?"


Valerie langsung menatapnya dengan tercengang. "Cerai?"


Perceraian apa?

__ADS_1


__ADS_2