
"Victor taman kanak-kanak akan di mulai sebentar lagi. Ayo kita antar Lucher ke sekolah."
Valerie berpikir, jika Lucher di bandingkan dengan anak-anak lain seusia ini, dia terlalu pintar dan penurut. Bahkan anak itu sudah terbiasa memakai pakaian dan sepatu sendiri tanpa orang dewasa. Selain itu, Lucher terbiasa mandi dan mengurus diri dengan mandiri.
Saat mendengar ucapan Valerie, Lucher langsung mengangkat kepala dengan mata berbinar. Ia sangat menginginkan pergi ke sekolah.
"Terserah kamu," balas Victor santai.
"Kalau begitu, kamu harus ikut."
"Kamu saja sendiri."
Valerie mengerutkan kening tidak setuju. "Harus ikut! Kita harus mengirimnya bersama."
Victor tampak mengalah. "Ya."
Senyum Lucher semakin cerah. Ia menatap kedua orang dewasa di depannya dengan mata bersinar.
Setelah sarapan, Valerie mengambil topeng di sampingnya dan memakainya. Lalu ke berkata kepada Victor. "Tidak banyak kelas hari ini. Aku akan membiarkanmu kue ketika kembali."
Victor menatap wajahnya. Topeng putih itu merusak pemandangan saat Valerie memakainya. Dia juga membawanya ke sekolah. Apakah karena bekas luka di wajah?
Melihat sosok kurus itu pergi, Victor mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.
***
Di sore hari, saat Valerie dan Archa akan berniat pulang, tiba-tiba ada sebuah suara aneh yang menghentikan langkah keduanya.
"Sepertinya aku mendengar suara anjing menggonggong?" terka Archa.
"Ya, aku juga. Apakah di tumpukan jerami itu?" Valerie menunjuk ke sebuah arah.
"Mungkin anjing liar yang tidak sengaja datang ke tempat kuliah kita. Ayo pergi." Archa tidak terlalu peduli dan terus berjalan maju.
__ADS_1
Saat mereka melewati tumpukan jerami itu, gonggongannya anjing itu lebih jelas, dan tampak menyedihkan.
"Tunggu sebentar. Aku ingin melihat-lihat dahulu," ujar Valerie.
Archa mengamati temannya yang berjalan ke tumpukan jerami tempat sumber suara itu datang. Ia sedikit terkejut, mengapa tiba-tiba temannya itu menjadi begitu penuh kasih?
Valerie melewati pohon dengan bunga mawar yang di tanam di sana dan berjalan menuju belakangnya.
Di rumput di balik itu, ia melihat anak anjing yang terbaring tengkurap. Anjing itu mengangkat kepala menatapnya dan menggonggong dengan lemah.
Archa yang mngikuti pun melihatnya. Keningnya langsung berkerut jijik. "Jelek sekali."
"Di mana itu jelek? Sangat lucu!" sanggah Valerie. Di bandingkan hewan peliharaan yang lembut dan cantik lainnya, Valerie lebih menyukai anjing yang menyedihkan ini.
Valerie berjongkok dan menatap anjing itu. Ia terkejut menemukan sebuah luka berdarah di kaki anak anjing. Entah sudah berapa lama, sepertinya darah telah mengering. "Kakinya terluka, sepertinya dia tidak bisa bergerak. Pantas saja dia menggonggong, mungkin karena tidak bisa bergerak untuk mencari makanan."
Archa langsung bersimpati. "Mungkin dia akan mati kelaparan di sini."
"Bagaimana mungkin aku membiarkannya? Aku akan memberinya makan." Valerie menyentuh kepala anak anjing. "Apakah kamu ingin pergi denganku?"
"Kamu akan memeliharanya?" Archa menatapnya tidak percaya. "Kamu sangat tidak menyukai kucing atau anjing sebelumnya, dan anak anjing ini sangat jelek, bagaiman mungkin kamu akan memeliharanya?"
"Aku suka. Sepertinya dia tersesat di sini. Aku akan merawatnya." Valerie melihat bahwa hewan itu tidak menolak membuatnya senang.
Archa menggeleng dengan helaan nafas. "Terserah kamu saja."
Valerie menggendong anak anjing itu dengan senyum di wajahnya.
***
Hari sudah gelap saat Valerie kembali ke rumah. Jelas bahwa kedua lelaki di rumah itu sudah selesai makan malam
"Kamu kembali!" Lucher menatap Valerie dengan mata besar berbinar.
__ADS_1
Victor bersandar malas di kursi, perlahan mengangkat kepala menatap Valerie, wajahnya dingin tanpa ekspresi. Jelas bahwa dia sangat tidak puas dengan keterlambatan Valerie.
"Maaf, aku terlambat karena sesuatu," kata Valerie karena sangat merasakan ketidakpuasannya.
Valerie menyentuh anak anjing di pelukannya. Kakinya yang terluka sudah di balut, karena ia pergi ke dokter hewan untuk memvaksinasi sehingga membutuhkan banyak waktu.
Melihat kepala kecil yang menonjol di lengan Valerie, Lucher menjatuhkan mainan dan berdiri dari lantai untuk menghampiri Valerie. Ekspresinya sangat penasaran. "Apakah itu anak anjing?"
"Ya. Dia terluka, dan aku mengambilnya."
"Wah! Aku ingin melihat!" Lucher berjinjit dengan ekspresi gembira.
Valerie berjongkok untuk membiarkan pria kecil itu melihat. "Dia anjing baik, tapi tubuhnya sedikit kotor. Setelah aku memandikannya, kamu boleh bermain."
Lucher melompat senang. "Bolehkah aku menyentuhnya?"
"Tentu saja." Verke tersenyum.
"Valerie!!" Suara marah nan dingin Victor tiba-tiba terdengar.
Sudah lama sekali Valerie tidak mendengar suara yang sangat dingin ini, sehingga ia langsung menegang ketakutan. Ia menatapnya mengeluh. "A-da apa? Kenapa kamu berteriak keras?"
"Kamu sudah kembali terlambat, dan kamu membawa seekor anjing?" Wajah Victor lebih dingin.
Valerie terkejut. Ia berjalan dengan anjing di pelukannya dan menjelaskan. "Aku melihat dia terluka setelah pulang kuliah, jadi aku mengambilnya untuk pengobatan."
Dari jarak dekat, Victor bisa melihat anjing itu dengan jelas. Sangat jelek dengan tatapan bodoh membuatnya semakin tidak suka. "Kamu bahkan tidak ikut makan malam hanya karena anjing jelek ini?"
"Aku akan makan nanti." Valerie memandangnya dengan tidak senang dan bertanya. "Apakah kamu tidak menyukainya?"
"Kenapa aku harus menyukainya? Kamu tidak bisa memelihara anjing di sini," ucapnya dengan nada suram.
"Mengapa?" Valerie mengerutkan kening. Anak anjing itu tampak ketakutan oleh Victor dan berteriak sedikit terganggu. Valerie menundukkan kepala dan menyentuhnya dengan nyaman, suaranya lembut. "Jangan takut, atau apakah kamu lapar? Aku akan memberimu nanti."
__ADS_1
"Valerie!" Victor menggertakkan gigi. Dia sangat marah karena ini pertama kalinya dia di abaikan.
"Nilai marah: 30."