
Di sore hari, matahari hangat menyinari semua yang ada di bawahnya. Pepohonan hijau bergoyang karena di terpa angin yang sejuk. Waktu yang santai, Valerie mengajak Victor menikmati senja yang akan datang di paviliun. Ia menyiapkan cemilan kue favorit pria itu dan dua cangkir teh.
Saat keduanya duduk berdampingan, Valerie menoleh menatapnya. Sinar kekuningan matahari jatuh ke wajahnya, dan Valerie bisa dengan jelas melihat bekas luka di wajah kirinya. Semakin lama, Valerie hanya merasa bekas lukanya semakin mengecil. Itu tidak seburuk sebelumnya.
"Kenapa akhir-akhir ini kamu selalu menatapku?"
Valerie tidak terkejut dengan pertanyaannya. Benar-benar sensitif walaupun dia buta.
Valerie tersenyum dan melihatnya lebih dekat. Tangannya terulur dengan ujung jari menyentuh lembut tempat itu. "Victor, aku menemukan bahwa bekas lukamu semakin mengecil."
Valerie merasa heran, mengapa bekas lukanya mengecil? Apakah itu akan benar-benar membaik dan menghilang? Mungkinkah dia juga mempunyai keberuntungan sepertinya? Victor memang tidak bisa melihat, tapi Valerie melihatnya sendiri. Ketika sebelumnya, Valerie mungkin itu ilusi, tapi untuk kedua kalinya mengamati bahkan menyentuh, ia benar-benar percaya bahwa memang bekas luka itu mengecil.
Ujung jari Valerie yang dingin dan lembut menyentuh sisi wajahnya, rahang Victor menegang. Namun ia masih tampak acuh tak acuh. "Benarkah?"
"Hm. Aku tidak berbohong. Kamu bisa menyentuhnya sendiri."
Alis Victor terangkat. "Lalu, jika bekas lukaku mengecil, apakah kamu merasa senang?"
Mata Valerie bersinar. "Tentu saja aku senang Jika bekas lukanya mengecil, maka lukamu kemungkinan sembuh."
__ADS_1
"Tidak heran kamu senang." Victor mencibir. "Kamu tidak perlu lagi melihat wajahku yang menjijikkan."
Valerie mengerutkan kening dengan bibir mengerucut. "Itu aku yang dulu, tapi tidak dengan sekarang. Jangan mengungkitnya lagi."
"Kata-kata yang kamu ucapkan seperti air yang tumpah, yang tidak bisa di pulihkan kembali."
"Tapi aku akan berusaha!" Valerie menempel pada pria itu. "Bekas lukamu benar-benar tidak menjijikkan bagiku."
Valerie mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Victor yang terdapat bekas luka. Sama sekali tidak singkat, bibirnya tetap di sana. Karena terkejut, Victor langsung duduk tegak dengan seluruh tubuh menegang. Ia mencengkeram tangan Valerie sehingga Valerie langsung menjauhkan wajahnya.
"Valerie!" bentak Victor tiba-tiba.
Victor menggertakkan gigi. "Siapa yang mengizinkanmu mencium wajahku?"
Mungkin Valerie bisa mengerti reaksi Victor. Karena, jika pipi kanannya yang ia cium mungkin reaksinya akan lebih baik. Tapi Valerie sama sekali tidak takut, malah dengan berani mengecupnya kembali.
Ekspresi Victor berubah. Ia meraih pinggang Valerie dan berkata mengancam. "Kamu semakin berani!"
Kelembutan yang tersisa membuat bekas lukanya mati rasa, lalu aroma tubuh yang harum memenuhi indera penciumannya, Victor hanya merasa hatinya di penuhi kebahagiaan yang aneh.
__ADS_1
Valerie merasa pinggangnya yang di genggam sedikit sakit, tapi ia tidak mengeluh dan membiarkannya, malah dengan sengaja memeluk kembali pinggang pria itu.
"Aku hanya membuktikannya padamu. Jangan menganggap bahwa aku tidak menyukai wajahmu, aku sudah menyentuh dan menciumnya, dan aku sama sekali tidak menganggap menjijikkan atau mengganggu." Valerie menatap mata pria itu yang berjarak sangat dekat seraya mengulurkan tangan menyentuhnya pipi kiri Victor dengan telapak tangan. "Lalu, jika lukamu sembuh, aku juga akan merasa sangat bahagia."
Setelah beberapa saat terdiam, Victor berkata rendah. "Aku tidak peduli dengan penampilan wajahku yang jelek."
"Tidak. Kamu sangat tampan. Apalagi jika lukamu pulih, aku tidak tahu seberapa tampan kamu," ujar Valerie jujur.
"Valerie, apakah mulutmu berlumuran madu?" Victor memeluk wanita itu dengan mata berkilat cahaya. "Aku menjadi sangat ingin mencicipinya."
Valerie tersipu dan mencubit lengannya kesal. "Tidak. Aku tidak membiarkanmu untuk mencicipinya."
Cubitan itu sangat lembut sehingga Victor mengira dia hanya menggelitik. Hatinya gatal dan seolah membengkak karena perasaannya sekarang.
Di bawah senja yang mulai datang perlahan, Victor membawa Valerie duduk di pangkuannya dan mencium bibirnya tanpa menahan diri. Valerie yang awalnya terkejut, akhirnya menutup mata dan melayaninya.
Di tempat terbuka, tentu saja tidak akan tidak mungkin jika ada seseorang yang melihatnya. Seperti dua orang yang kini berdiri menyaksikan di balkon berbeda Vila atas.
Suami istri yang selalu menunjukkan kasih sayang satu sama lain, kini melihat mantan tunangan mereka berciuman dengan orang lain. Nuella memandang goyah mereka dengan tangan mencengkeram besi balkon, dan Javier di sisi lain mengepalkan kedua tangannya dengan perasaan yang sangat tidak nyaman menyerbu hatinya.
__ADS_1
"Seharusnya ... Seharusnya tidak seperti ini ...."