Istri Simpanan Tuan Arga

Istri Simpanan Tuan Arga
Tidak sayang lagi


__ADS_3

Andini dan Tara semakin khawatir mendapati tubuh tak berdaya yang tergeletak di atas tempat tidur. Mereka langsung menghampiri Lena dan beralih menatap ke arah bibi yang sedari tadi menggosok-gosok


punggung tangan Lena.


'' Sudah panggil dokter bi?'' Tanya Tara.


Bibi itu mengangguk. '' Sudah, bapak tadi sudah menelepon dokter dan kata dokter sebentar lagi akan sampai.''


Bibi langsung turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar itu. Lalu berganti dengan Andini yang duduk di atas tempat tidur itu dan mengelus lembut punggung tangan sang ibu.


Perlahan mata yang tertutup berkedip beberapa kali hingga akhirnya terbuka seluruhnya. Pandangan pertama ia lihat ada Andini gegas dia bangun dari tidurnya dan langsung memeluk Andini.


Mata Lena juga tak sengaja melihat Tara yang sedari tadi melihat aktivitas mereka berdua. Lena langsung memanggilnya dan ketika Tara mendekat, Lena juga memeluk putri kedua nya itu tak kala eratnya.


Rasanya sakit yang ia derita sirna begitu saja setelah bertemu dengan kedua anaknya ini.


'' Kalian apa kabar?''


'' Kenapa tidak pernah datang kemari lagi? Apa kalian sudah tidak sayang sama ibu?''


'' Tidak bu, kami sedang sibuk mempersiapkan segala keperluan pernikahan Tara, ibu ingatkan Tara minggu ini akan menikah?'' Andini menaikan satu alisnya.


Sudah tak heran lagi tentang pernikahan Tara dan Alvin ini. Tara memutuskan untuk menikah dengan Alvin di usia belianya ini, dirinya merasa mantap untuk bersanding dengan kekasihnya di pelaminan dan tentunya atas restu dari keluarganya.


'' Iya benar. Putri kecilku akan menjadi milik orang lain, huh waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru saja ibu melahirkan kamu kemarin dan sekarang kamu akan di pinang oleh orang dan pergi ikut kemana suamimu pergi.'' L3na berbicara dengan suara parau.

__ADS_1


'' Ibu janagb sedih. Nanti setelah aku menikah, aku akan minta sama kak Alvin untuk cari rumah di dekat komplek sini, kalau bisa di samping atau depan rumah ibu kayanya juga rumah di depan lagi kosong ya, bu?'' Tara mencoba menghibur ibunda.


Wajah yang tadi murung seketika bersinar. '' Benar. Rumah itu memang lagi mencari pengontrak, kalau kamu mau, ibu bisa bilang sama yang punya rumah atau gak mau tinggal di sini aja bareng sama ibu?'' Lena menatap Tara penuh harap.


'' Aku sih mau aja, tapi takutnya kak Alvin yang gak mau bu. Soalnya dia pernah bilang kalau dia tidak mau menerima bantuan dari siapapun selagi dia masih bisa ngejalaninnya sendiri.''


'' Nanti biar aku bilang sama kak Alvin untuk menyewa di dekat komplek sini, mana tau dia mau.''


'' Yasudah ibu tidak memaksa.''


percakapan mereka terhenti ketika mendengar suara batuk yang berasal dari sebelah mereka.


Uhuk!


Uhuk!


Uhuk!


'' Enggak!'' Ketus Andini.


Lena dan Tara tertawa kecil melihat ekspresi wajah Andini yang seratus delapan puluh derajat yang berubah menjadi jutek.


Tidak lama dari itu datanglah dokter dan Dirga di belakangnya dengan wajah panik.


Dan betapa terkejutnya Dirga ketika melihat sang istri yang sudah bisa bercanda ria dengan kedua anak sambungnya itu berbeda sekali dengan sebelumnya yang terkulai lemas di atas tempat tidur.

__ADS_1


Bergegas Dirga mendekati Lena. '' Kamu tidak apa-apa?'' Tanya Dirga khawatir.


'' Aku sudah jauh lebih baik mas. Kamu jangan khawatir ya? Aku sudah sehat berkat Andini dan Tara ada di sini.''


Dirga dibuat melongo dan akhirnya Lena tidak jadi di periksa hanya saja di beri vitamin untuk menambah nafsu makan dan beberapa obat yang harus diminum tepat pada waktunya.


Setelah mengantarkan dokter itu sampai depan gerbang, Dirga kembali lagi ke kamarnya untuk kembali lagi melihat kondisi angkot istri.


'' Kamu ini, bikin aku panik aja. Aku sudah sport jantung.'' Gerutu Dirga.


Lena hanya tersenyum. '' Maaf.''


Dirga kembali menatap sang istri dan tersenyum. '' Makanlah biar lekas sembuh.''


Lena mengangguk. '' Oh iya Ndin, Gaishan mana?'' Tanya Dirga celingak-celinguk mencari keberadaan Gaishan yang dari tadi tidak terlihat oleh matanya. Tak bisa di pungkiri bahwa dirinya juga sangat sayang kepada cucu tirinya itu, mungkin karena dirinya tidak di berikan anak oleh sang maha kuasa, jadi dirinya begitu sayang kepada anak-anak kecil yang ada di dekatnya.


'' Sama bibi kali om.''Jawab Andini.


'' Jangan panggil 'om'. Panggil saya papa atau suka hati kalian asalkan jangan memanggil saya dengan sebutan 'om'.'' Ujar Dirga yang di balas anggukan kepala dari kakak beradik itu.


'' Sip, pa.'' Kata kakak beradik itu sambil tersenyum.


Dirga juga tersenyum mendengar nama panggilan baru itu. '' Yasudah papa mau main dulu sama Gai.'' Dirga pamit pergi dari kamar dan tinggal lah mereka bertiga.


'' Ibu harus makan yang banyak biar sehat. biar bisa lihat nikahan aku nanti.'' Kata Tara yang sudah menyuapi Lena yang ke sekian kalinya, Lena sudah berulang kali menolak untuk tidak di suapi lagi karena dirinya sudah benar-benar kenyang, tapi keras kepalanya Tara tak mampu di kalahkan dengan perkataan Lina, dia terus menyuapi Lina hingga makanannya habis dan membantunya untuk minum dan makan obat.

__ADS_1


__ADS_2