
Andini masih setia berdiri di depan pimtu ruangan Arga di rawat. Dirinya mengintip dari celah kaca yang di sediakan di pintu itu.
Dirinya harus menunggu sampai Arga sadar agar dia bisa masuk kedalam. Brankar yang sudah di siapkan untuk Andini menginap di kamar rawat Arga juga sudah di siapkan, tinggal nunggu kapan Arga sadar aja.
'' Cepet bangun mas, aku kangen kamu.'' Gumam Andini.
Lalu dia beralih ke kursi tunggu dan duduk di sana.
'' Mbak. Aku mau pulang dulu ya? Aku mau ganti baju sama ngambil baju ganti mbak.'' Tara berujar.
'' Besok aja ya? Ini udah terlalu malam. Nanti kamu di jalan Kenapa-napa.''
Andini takut saat Tara pulang sendirian. Dirinya trauma akan hal itu, karena dirinya sekarang yang sudah menjadi korbannya.
''Aku pulang nya bareng sopirnya bang Arga, mbak. Jadi mbak gak usah takut.''
''Tara akan pulang bareng sama sopir, dia tidak akan pulang sendiri. Jadi kamu tidak usah khawatir ya?'' Winda juga ikut membujuk menantunya untuk bisa mengizinkan sang adiknya pulang.
'' Yasudah lah. Kamu hati-hati ya?'' Peringat Andini.
'' Sip mbak. Kalau gitu aku pamit dulu ya, assalamualaikum.''
'' Waalaikumssalam.'' Balas Andini dan Winda.
'' Mama juga mau pulang. Kamu gak apa-apa kan di sini sendiri?'' Tanya Winda.
'' Mama mau ngapain?''
'' Mama ada perlu sebentar. Kamu gak apa-apa kan?''
''Hmmm. Yaudah lah.''
''Secepatnya mama akan balik ke sini lagi. Oh iya, kalau kamu mau, kamu bisa masuk ke dalam ruangan Arga. Tapi kamu jangan berisik ya?'' Kata Winda sambil membelai lembut rambut cokelat Andini.
Mata Andini berbinar. Hatinya tidak bisa bohong, saat sang mertua mengijinkannya untuk masuk ke dalam kamar rawat sang suami. Inilah yang di inginnya sedari tadi, akhirnya dia mendapatkannya.
'' Oke ma. Mama hati-hati pulang nya ya.''
'' Iya. Kamu kalau lelah, tidur saja di tempat tidur yang sudah di siapkan di brankar ya? Mama pergi dulu ya.'' Lalu Winda benar-benar pergi dari hadapannya dan sekarang tinggal dirinya seorang.
__ADS_1
Semuanya sudah pergi. Mulai dari papa mertuanya, mama mertuanya hingga ke adik kecilnya. Dirinya selalu menganggap adiknya hanya seorang anak kecil. Makanya dia terlalu posesif akan kehidupan Tara, semua tentang Tara Andini lah yang mengatur. Sempat ada rasa kesal di dalam benak Tara, karena dirinya merasa sudah dewasa, tapi masih saja di perlakukan layaknya anak-anak kecil. Tapi rasa itu dia buang jauh-jauh. Pernah dia merasa kehilangan, saat kakaknya ke kota dengan suaminya.
Dia merasa dunianya begitu sunyi, tidak ada yang mengomel-ngomel tak jelas, tidak ada yang bisa di ajak adu mulut. Maka dari itu dia buang perasaan itu jauh-jauh, dirinya merasa bersyukur sama sang maha pencipta. Karena dirinya sudah mengirim seorang kakak yang begitu sayang dan perhatian kepadanya, Tara yakin apa yang diperbuat Andini untuknya, itu yang terbaik untuk dirinya.
Kakak sekaligus ibu dan sahabat untuk dirinya. Semua masalah yang Tara hadapi, akan di curahkan kepada sang kakak. Dia bercerita sambil tiduran di pangkuan sang kakak. Mulai dari masalah sekolah hingga sampai ke percintaan, tidak ada sedikitpun di tutupi nya. Saat Tara bercerita Andini hanya bisa mengelus rambut sang adik, ini setiap kali di lakukannya setiap sang adik berkeluh kesah di dirinya.
'' Ahh. Rasanya dulu Tara masih kecil, ntah kapan aku bisa menganggapnya bahwa dia sekarang sudah tumbuh menjadi dewasa.'' Ujar Andini, ntah mengapa terbesit kisah masa lalunya dengan sang adik. Kisah-kisah
yang begitu indah.
Lalu Andini bangkit dari duduknya. Dan membuka pintu kamar tersebut, lalu dia masuk. Andini langsung mendekati sang suami dan langsung duduk di kursi samping bad tempat tidur Arga.
Di raihnya punggung tangan Arga, lalu di elusnya. Rasa sedih tak mampu ia tahan, saat melihat kondisi suaminya. '' Mas. Aku datang, kamu cepet bangun ya. Kata anak kamu. Dia kangen sama pipinya mas.'' Andini terus membelai lembut punggung tangan itu.
'' Mas. Bangun napa, mas. Emangnya kamu gak kangen sama anak kamu? Dia dari tadi nyariin kamu terus, soalnya kamu belum ngelus dia katanya.'' Andini terus bermonolog sendiri, dia tak tau kalau orang yang sedang di ajak berbicara sudah bangun dari tadi.
Arga sengaja ingin mengerjai Andini. Sebenarnya dirinya sudah sadar dari air tadi. Tapi dia ingin berpura-pura. Arga ingin mengasih suprise untuk istri tercintanya. Dia sengaja bekerja sama dengan mama dan adik iparnya, saat Andini pergi ke toilet. Arga meminta kepada sang ipar dan mama, untuk membiarkannya berdua dengan sang istri. Dirinya juga tak bisa di bohongi, kalau tubuh dan jiwanya jauh lebih kangen di bandingkan rasa kangen sang istri.
Andini mulai meneteskan air matanya satu persatu, air mata itu mampu mengenai punggung tangan Arga.
'' Kenapa kamu menangis miminya Arga junior? Bukannya kata Mimi, mimi itu kuat?'' Arga sudah tak bisa lagi untuk berpura-pura, dirinya tak tega juga membiarkan air mata emas istrinya jatuh sia-sia.
'' Yaa... persis seperti apa yang kamu lihat. Aku sudah sadar, bahkan sebelum kamu kemari.'' Jawab Arga.
'' Apa? Jadi kamu denger dong apa yang aku omongin?'' Mulut Andini benar-benar tak bisa tertutup, akibat rasa terkejutnya.
'' He'em. Kamu bilang Arga junior kangen sama pipinya, karena belum menjenguknya kan?'' Ledek suaminya.
'' Hah? Kayanya aku gak ada ngomong gitu deh. Kamu ini mas, mana ada aku ngomong gitu.'' Dengan spontan Andini mencubit pinggang Arga. Hal itu mampu membuat Arga meringis kesakitan.
'' Aww. Sakit sayang. Kamu ini gak ada manis-manisnya, suaminya lagi sakit bukannya di manja, malah di KDRT.'' Arga mendengus kesal. Dirinya hanya berpura-pura sakit, walau sebenarnya cubitan Andini tak terasa apapun pada dirinya.
'' Kamu sih bikin kesel. Kan jadi spontan akunya.''
Arga hanya menatap wajah bersalah sang istri. Andini langsung menunduk saat di tatap dalam oleh suaminya.
'' Maaf.'' Satu ucapan itu mampu mengeluarkan air mata yang sengaja di tahannya.
Arga langsung menarik tangan Andini dan langsung membekap kepalanya di dadanya. '' Sudah-sudah aku hanya bercanda. Kamu jangan nangis lagi ya?'' Ucap Arga mencoba menenangkan istrinya.
__ADS_1
'' Kamu jahat. Kamu udah bohongi aku.'' Andini terus berontak di dalam dekapan Arga.
'' Bukan bohong sayang, tapi suprise. Aku mau kasih kamu suprise, biar kamu seneng.'' Balas Arga sambil membelai lembut rambut sang istri.
'' Aku gak bahagia. Kamu tau kan aku khawatir sama kondisi kamu? Jahat.''
''Sutt. Diem, aku gak mau kamu ngomong itu. sekarang tidurlah di samping ku.'' Arga mengurai pelukannya.
Andini bingung dengan apa yang barusan di ucapkan oleh Arga. Tidur di sampingnya? Bagaimana bisa? Sementara kasurnya beda satu meter dari kasur Arga.
'' Maksudnya?'' Bingung Andin.
'' Ck. Kamu tidur di sini, sudah ayo.'' Arga menepuk pelan kasur di sebelahnya.
'' Muat?'' Tanya Andini bingung. Wajah Andini sekarang sudah seperti anak kecil yang sedang kebingungan mencari jawaban ujian.
'' Ck. Lama'' Arga langsung menarik tangan Andini dan Andini langsung berbaring di sebelah Arga.
'' Aku pikir, aku akan menjadi jamud, mas.'' Ujar Andini di saat Arga menepuk-nepuk punggungnya dengan menggunakan tangan satunya, lebih tepatnya tangan yang tidak di perban.
'' Jamud? Apa itu jamud?'' Bingung Arga.
'' Janda muda. Hehehe, soalnya aku dapet kabar dari mama kondisi kamu sangat mengenaskan.''
'' Kamu ya.'' Arga langsung mencubit gemas hidung sang istri.
'' Aku kan pernah bilang sama kamu. Aku ini kuat, selagi kamu terus ada di sampingku.''
'' Gombal.'' Kini pipi Andini sudah memerah akibat gombalan receh sang suami.
'' Benar. Buat apa aku gombal? Kamu dan calon Arga junior adalah sumber kekuatan ku Jadi kamu tidak perlu takut akan aku yang gak selamat dari kecelakaan itu.''
'' Hmm. Baiklah pipi.'' Andini langsung membenamkan wajahnya di dada Arga.
'' Bagaimana dengan perutmu? apa masih sakit?'' Tanya Arga dan di jawab gelengan kepala oleh Andini.
'' Jangan berisik mas, aku mau tidur. Aku udah ngantuk.''
Tak lama dari itu terdengar suara dengkuran halus dari balik dada Arga. Arga hanya bisa tersenyum manis, saat melihat sikap Andini.
__ADS_1
'' Ini yang akan membuat ku candu Andini Kusuma Pratiwi. Kamu sebagian dari hidupku, kamulah separuh nyawaku. Tak bisa terbayangkan bagaimana hidupku jika tidak ada kamu.'' Gumam Arga, lalu dia ikut tidur dan menyusul mimpi sang istri. Dirinya sengaja memiringkan tubuhnya agar Andini lebih leluasa lagi untuk bergerak.