
Alvin dan Tara di izinkan untuk jalan-jalan keluar, karena baik Andini maupun Arga telah mengenal baik Alvin sang kekasih Tara, jadi mereka putuskan untuk mengizinkan mereka keluar.
Saat ini Andini dan Arga duduk di ruang tamu, mereka terlihat jenuh bingung harus melakukan apa, Winda dan Wijaya tidak dirumah hal ini membuat mereka jenuh karena di rumah tidak ada siapapun.
'' Sepi banget mas.'' Kata Andini yang sudah menyender di bahu Arga.
'' Iya nih. Mama sama papa lagi pergi undangan. Tara dan Alvin lagi jalan-jalan, bagaimana kalau kita melakukan senam saja? Untuk menghilangkan rasa jenuh kita.'' Tanya Arga memberi ide.
'' Malam-malam begini senam? Gak salah mas?'' Bingung Andini.
'' Tidak dong malah bagus. Ingat gak apa kata dokter Hani? Dia menganjurkan kamu untuk lebih banyak bersenam atau melakukan aktivitas.''
'' Iya aku ingat mas. Emmm, kalau begitu ayo lah kita senam, aku mau pas persalinan aku, aku ingin melahirkan normal jadi aku mau menjalankan langkah-langkah agar bisa melahirkan normal.'' Kata Andini penuh semangat yang membara.
'' Kalau begitu, ayo kita senam-nya di kamar pasti lebih nyaman.'' Otak Andini langsung berputar setelah mendengar kata kamar.
'' Wah-wah, kayaknya aku terjebak lagi sama ucapan kamu mas.'' Tebak Andini.
'' Tepat sekali! Baguslah kalau kamu sudah tau alur ceritanya hehehe.''Arga cengengesan tak jelas.
'' Kamu ini mas, tiada hari tanpa m****m.'' Kesal Andini. Dia langsung meninggalkan Arga sendirian di ruang tamu.
'' Swety tunggu aku baby.'' Arga langsung mengejar Andini dengan berlari kecil.
Sementara Andini hanya berdigik geli saat mendengar kata-kata alay yang keluar dari mulut Arga.
'' Dia sangat berbeda. Di kantor dia akan terlihat dingin dan di rumah, dia seperti cacing kepanasan.'' Gumam Andini.
Arga berhasil mendapatkan lengan Andini dia langsung menarik tangan Andin dan hampir saja Andini terhuyung ke belakang akibat ulah Arga untung saja dengan sigap Arga dapat menangkap tubuh Andini.
'' Jangan menolak ku Andini. Aku sudah lama berpuasa akan hal ini, apa kamu.u tega melihat ku yang harus berpuasa panjang sepeti ini?''
'' Ini baru kehamilan belum lagi saat kau.u melahirkan nanti, pasti aku Joni ku akan mati kelaparan karena tidak di beri makan.'' Arga berucap dengan wajah yang memelas.
'' Hmm baiklah..'' Akhirnya Andini mengalah, dia menyetujui ajakan Arga untuk nina-ninu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Udah dong mas."Ucap Andini pada Arga yang sudah menjalankan ronde ke sekian kalinya.
__ADS_1
Arga tidak menanggapi ucapan Andini. Sudah tiga malam dirinya tidak mendapatkan kepuasan n**su nya. Jadi malam ini Arga ingin berbalas dendam dengan menggempur Andini hingga ke sekian kalinya ronde berjalan.
Andini sendiri tidak bisa menolak permintaan Arga, karena sejak kehamilan di trimester ketiga, trimester yang dimana tinggal menunggu lahirnya buah cinta Arga dan Andini.
Kehamilan Andini yang sudah memasuki bulan ke sembilan ini, mampu meningkatkan hormon endorfin dirinya yang menggebu-gebu.
Malam yang panjang bagi mereka berdua. Setelah selesai dengan percintaan mereka, Andini memutuskan untuk membersihkan tubuhnya.
Tiba-tiba saja perut Andini merasa kram yang sudah tidak mampu untuk ia tahan. Akhirnya Andini terjatuh di depan pintu kamar mandi dengan memegang perut buncitnya.
Arga yang melihat Andini yang sudah terduduk di depan pintu kamar mandi, Arga langsung lompat dari kasurnya dan langsung menghampiri Andini yang sudah memegang perut buncitnya.
"Andini, kamu kenapa?" Tanya Arga panik dan langsung memapah tubuh Andini untuk di dudukan di atas kasur.
" Gak tau nih mas, perut aku kram banget." Adu Andini.
Arga merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa Andini. Dirinya tidak bisa menahan hasratnya untuk sesaat, sekarang lihatlah Andini, dirinya seperti pasti karena ulah dirinya yang bermain terlalu kencang.
"Awww, sakit mas." Ringis Andini menahan sakit, Arga di buat panik dengan ringisan Andini.
'' Maaf Ndin. Gara-gara permainan tadi perut kamu jadi sakit.'' Arga merasa bersalah akibat kelakuan yang di perbuat nya barusan.
Tapi saat Arga hendak membuka pintu kamar, Andini menghentikan Arga. '' Mas!'' Panggil Andini. Arga menoleh ke arah Andini.
'' Ada apa? Apa rasanya semakin sakit?'' Tanya Arga khawatir.
Andini menggeleng.'' Sudah tidak terlalu sakit mas. Mas, cepat kamu mandi besar, biar nanti kamu tidak perlu lagi mandi besar saat kita ke rumah sakit mas.'' Andini mulai melakukan gerakan yang di suruh dokter Hani yaitu berdiri dan berjongkok sesuai anjuran dokter untuk bisa melahirkan normal.
'' Tapi kamu perut kamu masih sakit Ndin.'' Kata Arga tidak tega meninggalkan Andini sendiri.
'' Gak usah mikirin aku mas. Perutku udah mendingan, cepat kamu mandi mas biar gak repot harus mandi-mandi lagi.'' Kata Andini yang kini sudah duduk di atas balon untuk ibu hamil.
Andini terus mengatur nafasnya agarnyeri di perutnya bisa sedikit berkurang.
Lima belas menit Arga baru keluar dari kamar mandi dia langsung menghampiri Andini yang sedang duduk di atas balon untuk ibu hamil itu.
Arga mengelus perut Andini. '' Masih kram perutnya?'' Tanya Arga.
Andini mengangguk dengan wajah yang sudah merah padam menahan rasa sakit. '' Sakit ma...'' Ringis Andini.
__ADS_1
'' Tunggu di sini, aku mau panggil mama.'' Arga langsung keluar dari kamar dan langsung menuju ke kamar mama Winda.
Sesampainya di sana, Arga langsung menggedor pintu kamar Winda tanpa jeda. " Ma, mama buka ma. Andini ma." Arga berteriak tak jelas.
Karena teriakan Arga yang sangat kuat, teriakan itu mampu membangunkan seisi rumah. Tara maupun bi Nem keluar dari kamarnya.
" Ada apa Ga?" Tanya Winda saat baru membuka pintu.
" Iya bang ada apa?" Tanya Tara disela-sela saat menguap.
" Andini. Andini ma, dia-dia, kata dia perutnya kram ma. Ayo ma liat dulu Andini nya." Kata Arga yang sudah panik sendiri.
Winda Tara dan bi Nem langsung mengikuti Arga yang sudah lebih dulu berjalan menuju kamarnya.
" Awww. Mas......sakit." Ringis Andini yang sudah meremas perutnya.
Arga langsung membuka pintu dan langsung menghampiri Andini yang sudah meringkuk kesakitan di atas kasur.
" Andini sudah mau melahirkan Ga, cepat siapkan perlengkapan baju Andini dan bayinya bi. Mama akan bilang sama papa untuk mengantarkan kita ke rumah sakit." Winda bergegas menuju kamarnya untuk membangunkan suaminya.
Saat semuanya sudah berkumpul. Arga langsung menggendong tubuh Andini untuk di masukan ke dalam mobil untuk di bawa ke rumah sakit.
Di sepanjang perjalanan, Arga terus saja menggenggam erat tangan Andini dengan sesekali mencium punggung tangan Andini.
'' Yang kuat ya mimi-nya Arga junior.'' Kata Arga sambil mengelap keringat Andini yang sudah mengucur deras di seluruh tubuhnya.
'' Hey anak pipi, pipi tunggu kamu ya. Kamu jangan buat Mimi sakit, kasihan mimi.'' Arga terus berbicara dengan perut Andini. Ada perubahan saat Arga berbicara dengan perut Andini, serasa rasa sakit yang dirasakannya sedikit berkurang.
'' Rasa sakitnya sudah berkurang mas.'' Senang Andini.
'' Oh ya?''
'' Anak pintar. Jadi gak sabar untuk cepat-cepat ketemu sama Arga junior.'' Arga terus berbicara dengan perut Andini yang sedikit demi sedikit rasa sakit di perutnya mulai berkurang.
Dan kadang kala saat Arga sedang mencium perut Andini bayi dalam kandungan Andini menendang-nendang seolah-olah dia senang akan perlakuan sang ayah terhadap dirinya.
'' Dia nendang-nendang mas.'' Girang Andini rasa kram pada perutnya langsung hilang saat anaknya yang berada di dalam perutnya tidak bisa diam dia terus saja bergerak kesana-kemari.
'' Gumush.'' Kata Arga sambil mencium perut Andini.
__ADS_1