
Sesuai rencana Winda. Dirinya sudah mempersiapkan acara siraman untuk Andini, sebelum pengajian dan terima tamu di adakan esok hari.
Baru saja Andin masuk kedalam rumah, dirinya langsung dibuat terpukau dengan dekorasi yang memukau.
Sebuah dekorasi yang bertema bunga-bunga. Andini mulai menghampiri pelaminan itu.
Tiba-tiba saja sebuah tepukan di pundak Andini mampu membuatnya terkejut bukan kepalang.
'' Ndin.'' Panggil Winda.
'' Eh mama. Ada apa ma?'' Tanya Andini.
'' Cepet kamu siapan, sebentar lagi acara siraman kamu akan dimulai. Suruh Arga juga,oh iya, baju kamu sudah ada di kamar.'' Kata Winda.
Andini langsung melirik jam arjolinya, tertera pukul lima sore dan juga dirinya baru saja nyampe rumah. Masih ada rasa cepek yang menjalar di sekujur tubuhnya.
'' Capek ma. Andini dan mas Arga baru aja pulang.'' Keluh Andini.
'' Gak ada capek-capekan ya sayang. Mama udah nyiapin ini semua buat kamu, jangan buat rencana yang sudah mama siapkan gagal ya Ndin.'' Omel Winda.
Mau tak mau Andini hanya menurut dia langsung berjalan menuju kamarnya dan tak lama kepergiannya, datang lah Arga dari luar dan menghampiri sang ibu.
'' Mama.'' Panggil Arga.
Winda langsung menoleh dan menatap ke arah Arga.'' Arga. Ga, cepet kamu siapan, sebentar lagi acara siraman akan di mulai.'' Winda langsung mendorong tubuh Arga menuju kamar nya.
'' Siraman? Siraman apa ma?'' Bingung Arga.
__ADS_1
'' Sudah, nanti kamu tau sendiri.'' Balas Winda.
Sama seperti Andini. Arga juga menurut apa yang dikatakan sang ibunda.
''Huft, akhirnya siap juga, tinggal nunggu Arga dan Andini siapan. Aku juga mau mandi.'' Saat Winda berbalik badan dia mendapati Tara yang baru saja masuk dan membawa rantang kosong di tangannya.
Winda langsung menghembuskan nafasnya.'' Tara.'' Panggil Winda.
'' Iya ma.'' Jawab Tara.
'' Cepat siapan, sebentar lagi acara siraman mbakmu akan di mulai.'' Kata Winda. Dirinya begitu kesal dengan anak-anaknya, kenapa mereka tidak masuk secara barengan? Kenapa harus satu-satu? Bikin dirinya kesal saja untuk menjelaskan keinginannya.
'' Buat apa ma?'' Tanya Tara heran.
Winda langsung mendorong tubuh Tara. '' Gak usah banyak tanya nak. Ayo, cepat kamu bersiap.'' Ucap Winda. Tara hanya menurut.
Andini dan Arga juga turun dari tangga. Arga terlihat sangat menawan dengan baju adat Jawa yang melekat di tubuhnya dan blangkon yang di pakaikan di kepalanya dan tak lupa juga, Andini dengan baju kebaya ala adat Jawa yang Andini kenakan, tak lupa juga riasan tipis-tipis yang tercetak pada tempatnya di sertai sanggulan yang dibuat di rambutnya.
Arga dan Andini turun tangga secara bersamaan. Para tamu yang sudah berada di diarea situ tersenyum melihat pasangan muda itu.
'' Kalian sangat menawan.'' Senyum Winda. Mereka hanya tersenyum menanggapi Pujian dari sang mama.
Acara tujuh bulanan itu langsung di mulai. Pembukaan acara di buka dengan Ace sungkeman.
Sungkeman adalah tahap pertama dari serangkaian upacara mitoni. Sungkeman dilakukan oleh calon ibu kepada calon ayah. Setelah itu, calon ibu dan ayah melakukan sungkeman kepada kedua orang tuanya.
Sungkeman dilakukan untuk memohon doa restu agar kehamilan lancar dan bayi yang dikandung sehat.
__ADS_1
Hawa acara ini berjalan dengan haru saat mereka melakukan acara sungkeman kedua orang tuanya. Andini menangis tersedu-sedu, karena acara ini dirinya tak di temani satu orang pun kedua orang tuanya.
Dan yang kedua dilakukan dengan siraman. Tahap ini mungkin familiar untuk Bunda. Siraman adalah tahap di mana calon bunda dimandikan. Siraman merupakan simbol pembersihan diri, baik fisik maupun jiwa. Air siraman sendiri berasal dari tujuh sumber.
Di lanjut lagi ke acara pecah telur yang dilakukan oleh Arga. Setelah melakukan siraman, Arga melakukan tahapan selanjutnya, yaitu pecah telur. Telur yang digunakan adalah sebutir telur ayam kampung yang ditempelkan terlebih dahulu ke dahi dan perut Andini, lalu dipecahkan ke lantai.
Acara selanjutnya di sambung dengan memurus janur atau lawe. Dalam prosesi ini, janur atau lawe diikatkan ke perut Andini, lalu Arga akan memutus janur atau lawe tersebut. Sama seperti pecah telur, memutus janur atau lawe diyakini agar persalinan nanti berjalan dengan lancar.
Acar itu berjalan dengan khidmat dan acar selanjutnya di sambung dengan pecah kelapa yang akan di lakukan oleh Arga, serta berganti pakaian.
Acara kedua terakhir di yakini untuk menebak jenis kelamin bayi dan makna dari mengganti pakaian, yaitu melambangkan tujuh bulan dan harapan bagi sang bayi.
Mitoni yang dilakukan oleh Arga dan Andini, dalam tradisi Jawa, adalah serangkaian upacara siklus hidup. Mitoni sendiri berasal dari kata ‘am’ dan ‘pitu’. ‘Am’ menunjukkan kata kerja, sementara ‘pitu’ berarti tujuh atau hitungan yang ke tujuh.
Acara selesai tepat jam tujuh malam. Para tetangga, tamu dan keluarga mulai pamit pulang dan mereka akan datang lagi besok pagi di acara resepsi tujuh bulannya.
'' Capek mas.'' Keluh Andini yang mencoba meluruskan badannya.
'' Sama. Mama gak kira-kira bikin acara, belum lagi besok pagi sampai malam.'' Kesal Arga.
'' Kamu sih, kamu nugasin mama yang nyiapin tujuh bulanan bayi kita, gini deh jadinya.''
Mereka berdua langsung terlelap setelah selesai mandi. Mereka tidur dengan gaya yang tak beraturan.
Gak kira-kira ni si mak Winda. Bikin Pasturi ini capek aja, hadehh yang gak sabar nunggu cucunya launching 😎😂
Bersambung....
Jangan lupa like dan hadiahnya ya gengss biar aku semangat terus ngetiknya 😊💖
__ADS_1