
'' Jangan pernah sakiti istriku.'' Marah Arga.
Ada sakit yang menjalar di dalam relung hatinya, tapi dia harus bisa bermain dengan otak dan tidak boleh bermain dengan hati. Karena itu akan membuatnya lemah.
'' Istri?'' Gumam Defi sambil memelototkan matanya.
'' Iya. Aku dan Andini sudah menikah dan aku pastikan kamu tau tentang hal ini, bukan?''
'' K-kamu tega. Kamu tega mengingkari janji suci pernikahan kita, hiks hiks hiks.''
'' Sudah lah. Aku tak butuh air mata buaya mu itu. Jika kamu ingin mencari ribut dengan ku, please nanti saja, sekarang aku tidak bisa melayani drama- mu sekarang.''
Arga langsung menggendong tubuh Andin, tetapi belum sempat Arga menggendongnya, Defi sudah terlebih dulu mendorong tubuh Andin hingga jatuh ke lantai.
Brak!
Semua karyawan yang ada di situ terkejut melihat perlakuan Defi kepada Andini.
'' Andini.'' Arga berteriak, saat melihat darah segar keluar dari balik rok pendeknya.
'' Darah.'' Gumam Andini. Dan dia langsung tak sadarkan diri.
'' Andini. Bangun, hey. Kamu harus bisa bertahan demi bayi kita.'' Arga langsung menggendong Andini.
Saat dia hendak melewati Defi, tiba-tiba saja Defi menggenggam erat tangan Arga dengan tatapan tajam.
'' Aku belum selesai.'' Tekan Defi.
Plak!
Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi mulus nan putih milik Defi. Tamparan yang sangat keras, mampu membekas di pipinya itu.
'' Awas kamu jangan halangi jalanku. Dan perlu kamu ingat, jika Andini kenapa-kenapa, aku tidak akan tinggal diam. Akan aku pastikan kamu tidak bisa hidup dengan tenang.'' Ancam Arga.
__ADS_1
''Rudi.'' Panggil Arga kepada scurity kantor.
'' Iya, pak Arga. Ada apa pak?'' Tanya Rudi sambil berjalan tergesa-gesa.
'' Tolong kamu antar Bu Andini ke rumah sakit. Sita, kamu juga ikut dengan Rudi. Kalian pastikan kondisi nya baik-baik saja.'' Perintah Arga.
Mereka langsung membawa Andini ke rumah sakit.
'' Dasar wanita jal*ng, murah. Wanita kampung yang gak punya harga diri." Teriak Defi histeris.
Dan Arga langsung menghubungi orang tuanya, agar dia tau semua kebusukan menantunya ini dan tak lupa juga, dia menelepon Alvin, orang suruhannya untuk membawa semua bukti kejahatan Defi dan Rio.
'' Hey. Aku di sini mas, kamu sudah tega mengkhianati cinta ku.'' Defi mulai meneteskan air matanya
" Gak usah mendrama. Aku sudah tau kebusukan mu, kamu tunggu sebentar, aku akan membawa bukti-bukti tentang dirimu.''
'' Budi!'' Teriak Arga memanggil manager kantornya.
'' Iya pak.'' Budi menghampiri Arga dengan berlari.
Lalu Budi kembali lagi ke meja nya untuk memanggil Rio agar menjumpai Arga.
'' Jangan anggap aku bodoh. Aku tak sebodoh yang kalian pikirkan.'' Ucap Arga.
Nampak gelagat Defi tidak seperti pertama kali datang kemari. Dirinya terlihat begitu gelisah.
' Gawat! Apakah mas Arga sudah mengetahui perselingkuhan ku dengan Rio.' Batin Defi panik tapi sebisa mungkin dia mengubah ekspresi nya menjadi biasa saja.
Gak lama dari adu mulut yang diciptakan oleh Defi. Tibalah Alvin beserta bukti-bukti yang sudah ia kumpulkan selama ini dan di belakang dirinya ada kedua orang tua Arga.
'' Ni bos, semua bukti sudah ada di situ.'' Alvin menyerahkan map cokelat kepada Arga.
Arga langsung membuka map dan mengeluarkan sebuah benda kecil dari dalam map itu.
__ADS_1
''Tolong siapkan yang saya suruh.'' Kata Arga.
Mereka langsung menyiapkan sebuah proyektor.
'' Sudah pak.''
Arga langsung mengotak-atik mesin tersebut. Arga langsung men-colok converter VGA to HDMI ke laptop. Setelah itu Arga langsung men-colok converter ke laptop nya.
beberapa menit kemudian, akhirnya kabel VGA proyektor ke converter sudah terhubung, lalu Arga menekan tombol windows+ p.
'' Ini ada apa sebenarnya si Ga?'' Tanya Winda.
'' Arga mengundang mama dan papa kesini, untuk menonton layar lebar di dalam kantor.''
'' Apa sih kamu ini. Kan bisa liat di bioskop, kenapa harus di kantor sih?'' Winda terlihat begitu kesal saat mendengar jawaban sang anak. Dia sudah merelakan arisannya untuk menyanggupi permintaan Arga, agar dirinya dan sang suami ke kantor Arga.
Layar monitor sudah menunjukkan angka di mulai dari lima hingga ke satu.
Nampak sudah sebuah video tentang Defi dan Rio. Mereka dengan seksama melihat isi layar tersebut. Arga menanggapi ekspresi wajah mereka yang tampak syok dengan senyuman.
'' Defi!'' Geram Winda. Winda menghampiri Defi dan tanpa persetujuan dari sang empu, Winda langsung menampar pipi Defi hingga tertoleh ke samping.
Pipi Defi terasa kebas karena menerima dua tamparan dari ibu dan anak ini.
'' Jahat banget kamu ya? Anakku begitu tulus mencintaimu, tapi. Tapi apa yang kamu balas padanya, hah? Sebuah pengkhianatan. Sudah ku duga, kamu memang bukan perempuan baik-baik.'' Marah Winda, sementara Defi hanya terdiam.
Winda lalu menoleh ke arah Rio dan langsung menghampiri dirinya.
Plak!
'' Pengkhianat. Kamu telah mengkhianati anakku. Aku sudah menganggap mu seperti anakku sendiri. Karena kamu begitu dekat dengan anakku, makanya aku sudah menganggap mu seperti anakku sendiri.''
Rio dan Defi sama-sama terdiam. Mereka bingung harus berbuat apa sekarang. Semua rencananya hancur tidak ada yang bersisa.
__ADS_1
'' Aku sudah melaporkan dirimu ke polisi. Tunggu lah sebentar lagi, polisi akan membawa mu pergi dari masalah yang kau buat ini.'' Kata Arga datar.
Ya... setelah dapat kabar dari Alvin bahwa Defi dan Rio akan merencanakan sesuatu yang akan membuatnya paling jahat di muka bumi ini, tapi rencana mereka hancur sudah, karena Arga sudah lebih dulu bergerak cepat.