
Acara itu akan segera di mulai. Para tamu sudah berkumpul dirumah Wijaya. Mulai rekan bisnis Wijaya dan teman arisan Winda mereka semua datang dengan pasangan mereka masing.
Winda dan Wijaya dengan antusias menyambut kedatangan mereka semua. Andini hanya tersenyum melihat semakin banyaknya tamu yang berdatangan.
Dirinya berniat untuk mengabari sang suami untuk cepat pulang dari kantor. Lantunan lagu mulai terdengar dengan bass yang besar.
Andini sibuk mencari-cari keberadaan sang anak yang entah pergi kemana. Andini mencoba memanggil nama Gai.
'' Gai.'' Panggil Andini.
Andini mendekati kerumunan anak-anak yang sedang duduk bersama.'' Lana. Nampak Gai?'' Tanya Andini.
Lana mengangguk. '' Sana Nty (Aunty) sama omah-omah.'' Jawab Lana.
Andini memperhatikan sekeliling, hingga pandanganya tak sengaja tertuju pada dua orang beda generasi itu.
Andini langsung mendekati kedua orang itu. Andini langsung menegur sang putra. '' Gai.'' Panggil Andini. Sang anak langsung menoleh ke sumber suara itu.
Sang anak hanya tertawa tak jelas. ''Mimi.'' Wanita yang berada di samping Gai juga menoleh kesuara itu.
Lagi-lagi Andini terkejut dengan wanita paruh baya yang ada di depan matanya. '' Bu Lina?'' Andini langsung menyalami tangan Lina.
'' Andini.''
Tatapan Andini tertuju pada sang anak yang sedang memakan permen lollipop yang di berikan Lina. '' Dari mana aja Gai? Mimi cari-cari kemana-mana gak ada.''
'' Mimi, Jai cama onah dicini. Mamam pelmen.'' Jawab Gai yang masih berbicara cadel.
Andini tak bisa menahan tawanya saat Gai mengucap kata 'Onah'. '' Onah siapa nak?'' Tanya Andini.
Gai menunjuk kesebelah dirinya. '' Inyi mi.'' Lina tersenyum. Saat tangan kecil itu menunjuk dirinya.
''Apa kabar bu?'' Tanya Andini sambil tersenyum.
'' Baik. Kamu apa kabar?'' Tanya Lina.
'' Baik bu. Ibu kemari sendiri?'' Tanya Andini sambil mencari-cari suami Lina.
'' Iya. Bentar lagi suami ibu nyusul. Kamu juga sendiri?'' Tanya Lina balik.
'' Iya bu, tapi nanti sore mas Arga akan kemari.''
Lina hanya ber- oh saja. '' Kalau begitu kita kesana aja yuk bu. Disini panas.'' Andini menunjuk tempat yang sejuk dari tempat mereka berdiri.
'' Ayo...''
Andini langsung menggendong Gaishan dan berjalan beriringan dengan Lina.
__ADS_1
Mereka langsung duduk di bangku taman belakang rumah. Gaishan terus saja mengulum-ngulum permennya, anak itu paling suka yang namanya permen.
''Kamu umur berapa Ndin?'' Lina langsung memecahkan keheningan terhadap mereka berdua.
'' Dua puluh enam bulan jalan dua puluh tujuh, hehehehe.''
'' Ibu asli orang mana bu?'' Tanya Lina.
'' Ibu asli orang xxx Ndin.'' Andini hanya membulat kan mulutnya.
Mereka asyik sendiri berbincang. Mereka bercerita tentang pekerjaan suami mereka, suami meraka selalu sibuk dengan tugas-tugas kantor nya. Hingga bi Nem menghampiri mereka dan memutuskan pembicaraan mereka berdua.
'' Ndin. Suami kamu nyariin kamu tuh.'' Kata bi Nem. Ada perasaan tidak enak, ketika memanggil mantu majikannya dengan sebutan nama, tapi Andini juga tidak ingin di panggil dengan embel-embel 'Ibu atau Mbak'
'' Oke bi.''
'' Bu, aku tinggal dulu ya? Gai. Kamu mau disini apa ikut mimi?''
'' Cini aja mi.'' Jawab sang putra.
'' Titip Gai ya bu.'' Andini langsung pergi meninggalkan mereka.
Andini langsung menjumpai suaminya yang sudah menunggu dirinya. '' Mas.'' Sapa Andini saat sudah berada di dekat suaminya.
Arga yang sedang berbicara dengan rekan bisnisnya langsung menoleh ke belakang. '' Dari mana aja sih yang?'' Tanya Arga.
Arga langsung berdecak kesal. '' Tapi kamu yang nyuruh aku pulang cepat. Apa kamu lupa?''
'' Oh iya, aku lupa. Kamu mau mandi dulu apa makan dulu mas?'' Tanya Andini.
'' Mandi dulu deh kayanya.'' Andini langsung membawa jas dan tas kantor Arga. Mereka berdua menuju ke kamar Arga untuk membersihkan tubuh Arga.
Andini langsung menyiapkan sepasang pakaian sang suami. Andini menunggu Arga dengan memainkan ponselnya. Tak lama terdengar suara teriakan dari dalam kamar mandi. '' Sayanggg......''
Andini langsung berlari mendekati kamar mandi. '' Apa mas.'' Andini berucap dengan wajah penuh khawatir.
'' Tolong ambilkan aku handuk. Aku lupa bawa handuk. '' Andini langsung menghentakkan kakinya. '' Ku kira ada apa lah tadi. Ngomong nya apa gak bisa pelan.''
'' Hahahaha.'' Andini semakin kesal saat mendengar suara tertawa Arga.
Andini langsung menyambar handuk yang ada di kamar dan segera kembali ke kamar mandi. '' Nih.'' Andini langsung menyerahkan handuk itu dan kembali ke tempatnya semula.
Tak lama Andini memberikan handuk. Arga keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang nya. Arga langsung mendekati Andini.
Andini yang menyadari kedatangan Arga, dirinya langsung menatap dengan wajah ketus. '' Apa?'' Tanya Andini jutek.
'' Pakein baju dong.'' Arga sudah merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
'' Kan bisa sendiri.'' Andini membuang pandangannya kearah lain.
'' Tangan aku pegal habis kerja.'' Dengan terpaksa Andini memakaikan pakaian Arga. Mulai dari atas hingga bawahnya.
Arga hanya tertawa kecil melihat wajah ketus Andini. '' Yang ikhlas dong, biar dapat pahala.''
Andini langsung menuju meja rias untuk mengambil sisir dan minyak wangi serta krim rambut Arga. Andini langsung menggosokkan krim itu ke rambut Arga. '' Aku bisa sendiri.'' Arga langsung menjauhkan kepalanya dari tangan Andini.
Andini dengan refleks menjambak rambut Arga. '' Awws....'' Ringis Arga.
'' Eh sorry-sorry mas, kamu sih ngapain ngejauh kan aku jadi refleks.''
'' Aku bisa sendiri, makasih sudah bantu aku. Tapi kalau kamu memang benar-benar tidak ikhlas bantuin aku gak apa-apa, aku bisa sendiri kok.'' Arga mulai membuat drama nya.
'' Bu-bukan begitu mas. A-aku tidak bermaksud seperti itu, aku ikhlas kok. Sini biar aku sisirin.'' Arga tak tahan untuk tidak tertawa melihat wajah bersalah Andini.
Andini juga menyiapkan sepatu dan kaus kaki. Arga pun memakai sepatu nya dan dirasa mereka Arga sudah selesai dengan pakaiannya, mereka memutuskan untuk kembali ke acara arisan sang mama yang semakin banyak orang berdatangan.
Saat tiba di bawah Andini langsung mengambil makan Arga. Arga memutuskan untuk duduk di sebelah sang papa yang sedang berbincang dengan pak Dirga dan Revan. '' Udah seger aja bos.'' Kata Revan.
'' Iya, saya baru selesai mandi. Oh iya, istri kamu gak kamu ajak kemari Van?'' Tanya Arga.
'' Dia lagi di jalan bos, tadi saya sudah menelepon katanya dia sedang arah kemari.'' Jawab Revan.
'' Ngomong-ngomong ini arisan apa hajatan ya pak bos besar? Kok meriah banget.'' Tanya Revan heran.
'' Gak tau tuh mama nya Arga, maunya yang meriah-meriah.'' Jawab Wijaya pusing.
Mereka sedang berbincang-bincang mengenai bisnis dan tak lama Andini datang dengan tangan membawa piring yang berisi makanan. Andini langsung menyerahkan piring itu pada suaminya.
'' Bentar ya mas, aku mau ngambil minum dulu. Kamu mau es atau air putih aja?'' Tanya Andini.
'' Es aja deh.'' Andini langsung kembali ke meja makan yang sudah di siapkan oleh Winda. Dia langsung mengambil gelas dan sepiring kecil kue-kuean. Andini kembali ke tempat Arga.
'' Nih mas es nya. Ini kuenya, cobain deh mas rengginang nya, enak lo mas.'' Arga tersenyum manis.
'' Terimakasih istriku.'' Revan langsung mengubah ekspresi wajah nya menjadi wajah eneg.
'' Mual saya bos.'' Kata Revan.
'' Bang Revan masuk anjjjing, eh angin maksudnya.'' Revan langsung memanyunkan bibirnya.
'' Lakik sama bini sama aja.'' Gerutu Revan. Wijaya dan yang ada di situ tertawa melihat tingkah Revan.
'' Kalau begitu aku ke belakang dulu ya mas, mau ngasih makan Gai dari tadi main terus sampe lupa makan.'' Andini langsung pergi meninggalkan ketiga lelaki berbeda generasi itu.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like dan hadiahnya ya gaes 😊💋💋💋💋💋💜