
'' Tara.'' Panggil Andini.
'' Hmm.'' Balas Tara datar. Akhir-akhir ini sifatnya sudah banyak berubah, bak es batu, sikap dan sifatnya yang sangat dingin.
'' Jumpai mbak di taman belakang sekarang!'' Andini langsung menuju ke taman belakang rumah.
Andini sengaja memilih berbicara di taman belakang setelah memilih perhiasan, karena di dalam rumah keadaannya begitu ramai. Banyak para dekor dan persiapan lainnya untuk mempersiapkan tujuh bulanan kandungan Andini.
Tara hanya menurut dia mengikuti Andini dari belakang.
Andini duduk di bangku panjang yang tersedia di taman itu. Tatapan Andini menuju sang adik yang masih diam di hadapannya, segera Andini tarik lengannya untuk duduk di sampingnya.
'' Jam satu nanti, mbak mau menjenguk ayah. Kamu mau ikut?'' Tanya Andini yang langsung dibalas gelengan dari sang adik.
'' Aku belum siap untuk bertemu dengan dia mbak. Tolong mbak ngertiin aku.''Tara mengutarakan isi hatinya kepada Andini.
Andini hanya membuang nafas panjangnya. '' Kamu tidak mau melihat kondisinya?'' Tanya Andini lembut.
'' Buat apa aku harus mengetahui kondisinya? Bukannya dia yang mulai lebih dulu untuk tidak pernah tau tentang kondisi kita yang di tinggalkan dulu mbak?''
'' Kenapa kita harus memikirkan kondisinya?'' Andini di buat terdiam dengan kata-kata yang ntah bagaimana perasaannya jika seseorang dibicarakannya ada di disini?
'' Shutt...'' Andini menempelkan jari telunjuknya di bibir Tara.
'' Kamu tidak boleh berbicara seperti itu, biar gimanapun dia itu ayah kita. Kalau gak ada dia, maka kita juga tidak akan pernah ada di dunia ini, kamu paham?'' Timpal Andini.
'' Aku juga tidak pernah berharap untuk terlahir di dunia ini.'' Balasan Tara mampu membuat Andini marah.
'' Tara! Mbak gak pernah ngajarin kamu seperti ini. Kalau kamu gak mau jumpai dia gak apa, tapi setidaknya ada hati nurani kamu sebagai anak, untuk melihat keadaan ayah kamu, Tar.''
'' Kamu benci sama dia kan? Sama. Mbak juga benci sama dia, tapi mbak yakin di balik ini semua pasti ada keindahan yang menanti kita.'' Timpal Andini. Tara hanya menunduk menyerapi setiap kata yang dikeluarkan oleh sang kakak.
'' Mbak gak mau tau, jam satu nanti kamu harus ikut mbak kek kantor polisi. Mbak gak mau ada penolakan.'' Andini langsung berdiri dan ingin pergi meninggalkan Tara, tetapi Tara langsung menahannya.
'' Mbak.'' Suara Tara sudah bergetar menahan sesuatu yang hampir saja meledak.
Andini langsung memeluk Tara. Dirinya merasa bersalah, karena telah memarahinya.
'' Maafkan mbak. Mbak gak maksud buat kamu sakit hati, mbak hanya, hanya..''
'' Aku tau yang mbak lakukan ini benar. Aku cuma gak sanggup aja untuk bertatapan langsung dengan dia mbak, rasanya hatiku hancur jika bertatapan dengan nya.'' Tara mengeluarkan unek-unek nya di dalam pelukan Andini, dia menangis sejadi-jadinya.
'' Mbak paham sama keadaan kamu, tapi kamu tidak boleh begitu dengan dia, biar gimanapun dia itu ayah kita dek.''
'' Kamu mau kan bertemu sama ayah?'' Tanya Andini.
__ADS_1
Tara mengangguk.'' Iya.'' Jawab Tara yang sedang membersihkan air matanya.
'' Pinter. Adik mbak ini sangat-sangat cantik.'' Andini mengelus lembut pipi Tara.
'' Yasudah, mbak mau ke dalam dulu.'' Andini langsung meninggalkan Tara sendirian di taman. Andini sengaja meninggalkan Tara sendiri, agar dirinya bisa menenangkan dirinya sendiri.
' Aku harus bisa mengalahkan egoku.' Batin Tara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arga Andini dan Tara sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah baru Abdijaya atau Dandi.
Sebelum pergi, mereka berpamitan dengan Winda dan Wijaya. Andini duduk di samping Arga dan Tara duduk di jok belakang.
Arga langsung menjalankan mobilnya menuju rumah baru Abdijaya.
Cukup jauh perjalan dari rumah menuju kantor polisi. Butuh waktu empat puluh menit untuk menjalankan mobil agar sampai di area kantor polisi.
Mobil Arga langsung parkir di lobby kantor polisi dan Arga, Andini dan Tara segera turun.
Mereka bertiga sudah berjalan memasuki kantor polisi itu. Tara membawa sebuah rantang yqng berisi makanan sehat untuk Abdi. Awalnya dia menolak, tapi karena terus di paksa oleh Andini, dia akhirnya mau membawa rantang itu.
'' Selamat siang pak, bu!'' Sapa polisi yang bertugas menjaga pintu depan kantor polisi.
'' Siang pak.'' Jawab mereka serempak.
Sang polisi hanya memberi kesempatan lima belas menit untuk bertemu dan berbicara dengan Abdi. Seorang polisi langsung pergi menemui sel Abdi yang sedang di tahan.
'' Pak Abdijaya!'' Panggil polisi.
'' Saya pak.'' Sahut Abdi yang langsung berdiri dan berjalan ke arah polisi.
'' Ada tamu yang ingin bertemu dengan bapak.'' Polisi itu langsung membuka gembok sel itu dan langsung memborgol kedua pergelangan tangan Abdi.
Abdi hanya menurut. Dia langsung mengikuti sang polisi dari belakang, pandangannya hanya kebawah.
Hati Andini begitu teriris melihat kondisi Abdi saat ini. Badannya yang dulu berisi sekarang kurus di tambah lagi keriput yang sudah memenuhi wajahnya.
Kondisi Abdi saat ini sangat-sangat mengenaskan. Raut wajahnya terlihat tua.
'' Ayah.'' Panggil Andini yang langsung memeluk tubuh kurus sang ayah.
Abdi langsung tersadar, dirinya langsung menoleh kearah seseorang yang sedang memeluknya.
Tangan yang semulanya di borgol, kini sudah di buka oleh polisi, itu semua atas permintaan dari Arga. Secara perlahan tangan keriput itu menyentuh punggung Andini dirinya meneteskan air matanya.
__ADS_1
'' Andini.'' Ucap Abdi yang sudah berlinang air mata.
'' Ayah apa kabar? Kenapa ayah terlihat kurus sekali?'' Tanya Andini.
'' Ayah tidak apa-apa, kamu jangan mengkhawatirkan keadaan ayah.'' Jawab Abdi, dirinya mengecup kening Andini dengan lembut.
Tatapan Abdi tak sengaja tertuju pada Tara yang sedang mengenteng rantang. Tara hanya menatapnya tanpa mau berbicara sepatah kata pun.
'' Tara?'' Panggil Abdi. Andini langsung menguraikan pelukannya dengan Abdi, dirinya langsung menatap wajah Tara dan memberi kode untuk memeluk sang ayah.
'' Ayah minta maaf.'' Ucap Abdi menunduk, dirinya sadar atas perlakuannya terhadap anak-anaknya hingga dirinya tak sudi untuk memeluk sang ayah.
Tara langsung menghambur ke pelukan Abdi hingga mampu membuat tubuh Abdi terhuyung ke belakang. Tara menangis sejadi-jadinya.
'' Ayah terlalu jahat untuk dimaafkan.'' Kata Tara yang sesegukan.
'' Ayah tau kesalahan ayah. Ayah minta maaf sama kamu ya, nak? Ayah sangat menyesal telah meninggalkan kalian.'' Abdi langsung mengelus rambut panjang Tara.
Tara hanya bisa menangis di dalam pelukan hangat sang ayah. Andini terharu melihat adik dan ayahnya yang sedang berpelukan.
Sementara Arga. Dia hanya menatap haru kepada bapak dan kedua anak perempuannya ini.
'' Tara membaw makanan untuk ayah.'' Tara menunjukkan sebuah rantang yang sudah di isi dengan makanan sehat.
Abdi langsung tersenyum dan mengambil ahli rantang itu. '' Makasih anak gadis ayah.''
'' Dimakan ya, yah. Soalnya itu Tara sendiri yang nyiapin buat ayah.'' Ledek Andin. Tara hanya menatap horor kearah sang kakak, sementara Abdi dan Arga hanya tertawa.
Tawaan Arga terdengar di telinga Abdi. Dirinya langsung menatap wajah sang menantu yang sudah berapa kali ia buat celaka.
'' Arga!'' Panggil Abdi.
Arga langsung menoleh kearah Abdi.'' Iya yah.'' Jawab Arga. Arga langsung mendekati Abdi dan langsung memeluk tubuh Abdi.
'' Maafin ayah ya, Ga?''
'' Ayah sudah terlalu jahat untuk kamu. Ayah mertua yang paling jahat kepada menantunya sendiri.'' Ujar Abdi.
'' Aku sudah memaafkan ayah. Anak-anak ayah saja memaafkan ayah, massa aku tidak.'' Aga menguraikan pelukannya.
'' Makan lah yah. Tubuh ayah terlihat kurus selama di sini.'' Kata Arga.
Abdi langsung memakan makanan yang mereka bawa dengan lahap, sambil sesekali menoleh kearah mereka bertiga dengan senyuman manisnya.
Bersambung...
__ADS_1
Huhftt. Kira-kira siapa yang masih kesel sama abdi? Ayo komen ya😁
jangan lupa vote dan hadiahnya ya gengss, biar aku semangat terus ngetiknya 😊