
'' Itu yang sebelah kiri mas.'' Kata Andini sambil menunjuk buah mangga yang gede.
'' Mana?'' Tanya Arga yang sudah berada di atas pohon. Ya.... Mau gak mau Arga menuruti keinginan nyeleneh Andini, dia harap anaknya akan baik-baik saja saat makan buah durian yang di curinya nanti.
'' Itu mas yang sebelah kiri kamu, itu.'' Andini terus menunjuk dengan tangannya yang sudah memegang dua buah mangga yang sudah di petik Arga.
Arga langsung melihat ke arah tangan Andini dan segera ia petik buah yang diminta Andini.
'' Dapat.'' Gumam Arga. Saat dirinya ingin turun tak sengaja dia menjatuhkan buah yang Andini mau ke atas atap rumah, hal itu menimbulkan bunyi suara yang cukup kuat hingga mampu membuat pemilik rumah kedengaran.
Cepat-cepat Arga turun tapi dirinya masih kalah cepat dari pemilik rumah. Sang pemilik rumah sudah lebih dulu di berdiri di depan halamannya dengan membawa sapu di tangan kanannya.
Dengan wajah galak pemilik rumah itu berteriak sekencang-kencangnya. '' Maling.'' Teriak pemilik mangga.
Karena panik Arga tak melihat kalau dirinya salah memijak dahan dan sudah pasti dirinya jatuh ke tanah, untung jarak pohon dan tanah tidak begitu jauh, jadi dia terjatuh rasanya tidak begitu sakit. Dengan cepat dia bangkit dan mengambil buah yang jatuh dan segera berdiri dan bersiap-siap untuk kabur sebelum keburu sang pemilik rumah menghampiri dirinya.
Sambil berlari meninggalkan tempat itu Arga berteriak. '' Terimakasih pak buah mangga-nya.'' Teriak Arga tak lupa juga saat dia ingin keluar dari pagar bambu itu dia meletakkan uang merah dua lembar dan dengan cepat dirinya berjalan ke arah Andini.
'' Ndin ini aku udah bawa...., loh kemana Andini?'' Saat Arga ingin menyodorkan buah mangga untuk Andini, tapi Arga tidak melihat keberadaan Andini.
Matanya terus menatap sekeliling hingga bola matanya tak sengaja melihat seorang wanita yang sedang berlari seperti bebek karena pinggang belakangnya dan perut nya maju. Andini berlari dengan megal-megol persis saat bebek berjalan.
'' Kabur mas.'' Teriak Andini saat berlari kecil. Segera Arga berlari untuk menyamai larian Andini.
'' Jangan lari Ndin.'' Peringat Arga.
'' Berhenti.'' Arga langsung menarik lengan Andini.
'' Capek mas.'' Adu Andini.
''Ya pasti capek abis lari, kamu ngapain tadi lari?'' Tanya Arga kesal.
'' Aku kaget mas, tiba-tiba pemilik rumah itu datang bawa sapu. Jadi aku langsung kabur.'' Jawab Andini yang masih terlihat ngos-ngosan.
__ADS_1
Arga hanya menggeleng. Padahal kalau pemilik itu marah, pasti dia akan memarahi dirinya dan memukuli dirinya bukannya Andini. Ada-ada aja tingkah lakunya semenjak hamil ini.' Batin Arga.
Segera mereka berjalan mencari tempat istirahat dan mereka mampir ke sebuah taman bunga yang letaknya tak jauh dari rumah mereka. Mereka langsung duduk di bangku taman.
Arga berdiri dan berjalan mendekati sebuah penjual air mineral kemasan di sekitaran taman bunga ini.
'' Bang, air mineralnya satu.'' Kata Arga.
'' Ini mas.'' Penjual air kemasan keliling itu memberikan sebotol air mineral kepada Arga.
Arga menyodorkan uang dua puluh ribu rupiah untuk membayar airnya dan Kembu dia berucap, kalau kembaliannya untuk sang penjual, sama saat dirinya membayar sarapannya tadi.
'' Makasih mas.'' Teriak penjual itu, Arga hanya tersenyum dan kembali berjalan ke arah Andini yang sedang duduk di bangku taman.
'' Nih, minum dulu.' aku Ucap Arga sambil menyodorkan sebuah air mineral kemasan kepada Andini.
Andini langsung menerimanya dan langsung meminumnya dengan buru-buru. '' Pelan-pelan aja Ndin, nanti kamu terdesak minuman.'' Peringat Arga.
'' Lega. Kamu gak mau mas?'' Kata Andini sambil memperlihatkan botol air yang sudah berisi separuh. Arga langsung mengambil botol itu dan langsung meminumnya.
'' Mana mangga-nya mas?'' Tanya Andini yang sudah menadahkan tangan-nya.
Arga langsung menyerahkan dua mangga yang barusan dia petik dari pohonnya.
'' Ini. Gara-gara ini, hampir aja aku di gebukin bapak serem itu.'' Kesal Arga, sementara Andini malah tertawa.
'' Maaf ya mas.'' Ucap Andini.
'' Hmm. Sudahkan? Ayo kita pulang.'' Ajak Arga.
'' Bentar mas, aku mau makan mangga.'' Pilihan yang sangat tepat. Andini memilih mangga yang berada di kiri Arga dan ternyata mangga itu sudah matang. Saat Andini sudah berhasil mengupas kulit mangga dengan giginya, segera ia memakan mangga itu dengan menggerogoti daging buah mangga itu.
'' Mau?'' Tawarnya.
__ADS_1
Arga mengangguk setuju.'' Boleh.'' Andini langsung menyuapi buah mangga itu ke dalam mulut Arga.
'' Emm, manis.'' Kata Arga saat sudah berhasil memakan buah mangga itu.
'' Hebat kan aku mas. Aku gak salah pilih.'' Kata Andini yang masih seru menggerogoti daging buah mangga itu.
'' Halal gak ini Ndin untuk anak kita? Secara kita mendapatkannya dengan cara mencuri ini tanpa mengasih tau pemiliknya.'' Kata Arga.
'' Ya... jelas tidak lah mas, secara kita aja udah mencuri. Tapi gak apa-apa mas, kita ngelakuin ini kan sekali-kali, jadi aman-aman aja.'' Celoteh Andini yang mulutnya sudah di penuhi oleh mangga tak lupa di pinggiran bibirnya terdapat air dari sari-sari mangga yang ia makan. Dengan tangannya, Arga mengelap air itu.
'' Udah mau jadi ibu, makan itu yang bener.'' Peringat Arga.
'' Oteh pipi.'' Jawab Andini sambil mengangkat jempolnya.
Sesaat Arga merasakan menjadi bolang ( bocah petualang). Walau dirinya kesal, saat melakukan hal-hal konyol dengan Andini, tapi ada sisi bahagianya saat melakukan apapun yang dibutuhkan istri buncitnya ini. Selagi dirinya masih mampu memenuhi keinginan Andini, maka itu akan di buatnya, demi sang Arga junior.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Arga. Dia mau saja menuruti kemauan nyeleneh Andini dan lebih herannya kenapa dirinya tidak bisa menolak itu? Itulah kebesaran cinta yang merasuk di tubuh Arga.
Dirinya dulu cinta mati dengan Defi, sampai-sampai dirinya mau menyusul seorang Defita Aldonna ke sebuah negeri China, hanya untuk mengejar cintanya yang tak akhir ceritanya cintanya tidak happy ending dengan Defi.
Berbeda dengan Andini. Seorang wanita yang ia temui di sebuah gudang tua dan mereka terjebak semalaman di gudang itu, hingga akhirnya mereka di tuduh berbuat yang tidak-tidak oleh warga dan hal itu mengharuskan mereka untuk menikah.
Menikah, yang awalnya mereka kira menikah itu karena terpaksa dan dengan seiringnya waktu, kata keterpaksaan yang sempat ada dalam benak mereka sirna dan sudah di ganti dengan rasa kasih dan sayang yang tak lupa cinta yang menyelimuti mereka.
'' Ayo kita pulang.'' Ajak Arga.
Andini langsung menadahkan tangan-nya. '' bangkiti mas.'' ucapnya manja.
Arga tersenyum dan langsung menerima uluran tangan Andini dan membangkitkan tubuh Andini.
Bersambung....
Jangan lupa like dan hadiahnya ya gaes 😊
__ADS_1