
Dua bulan telah berlalu. Kandungan Andini sudah memasuki bulan ke tujuh dan Arga berniat untuk mengadakan tujuh bulanan sang kandungan yang ada di dalam rahim Andini.
Semua persiapan tujuh bulanan sudah di handle oleh Winda. Arga memberikan tugas pada Winda untuk mempersiapkan acara ini. Winda mengambil dua acara, satu acara siang dan satunya acara di malam hari. Saat di siang hari, para tamu akan berdatangan untuk memberikan selamat pada Andini, jika di malam hari. Winda mengadakan pengajian dan santunan kepada anak panti asuhan.
Ini semua atas ide Winda, mereka semua tidak ada yang berani menolak. Kalau menolak juga percuma saja, Karena keinginan Winda tidak mau di ganggu gugat.
Saat ini Andini dan Arga sedang berada di dalam kamar. Mereka baru saja membeli keperluan mereka, seperti atasan hingga bawahan tak lupa pula alas kaki mereka. Arga sengaja tidak menyuruh orang untuk membeli keperluan mereka, karena dia ingin membeli nya sendiri sambil berjalan-jalan dengan Andini.
Andini sudah mengganti pakaiannya menjadi pakaian santai, kini dia mulai membaringkan tubuhnya tepat di samping Arga yang sedang tiduran.
Ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh Andini. '' Mas.'' Panggil Arga.
Arga yang semula terpejam, kini perlahan membuka matanya.'' Ada apa?'' Tanya Arga yang sudah duduk menghadap Andini.
'' Hmmm.'' Andini memainkan jari-jarinya. Dia bingung harus berbicara dari mana dulu.
Arga sudah tau dengan kegelisahan Andini. Dia sudah menebak, kalau istrinya ini ingin bertemu dengan sang ayah.
'' Kamu mau bertemu dengan ayah kan?'' Tanya Arga. Andini langsung menatap Arga dan mengangguk.
'' Iya mas. Apa boleh aku ketemu sama ayahku mas? Aku ingin melihat kondisinya.''
__ADS_1
Jawaban dari Arga sangat di tunggu oleh Andini, karena dua bulan lalu dia juga pernah berkata untuk menjumpai sang ayah dan Arga menyetujui hal itu. Tapi, hingga sekarang dirinya juga belum bertemu dengan sang ayah, asal Andini berbicara untuk menjumpai sang ayah, Arga selalu bilang, kalau perginya nanti harus bersama dengan dirinya, tapi sampai sekarang Arga selalu sibuk dengan pekerjaannya.
Andini sadar akan hal itu, maka dari itu dirinya tidak pernah membahas untuk bertemu dengan sang ayah saat bersama suaminya. Tapi untuk sekarang dirinya memberanikan diri untuk membahas itu kembali.
Arga mengangguk setuju. '' Dia juga ayah ku. Kamu tidak boleh memanggilnya dengan ayahku, paham?'' Andini terharu mendengar lontaran kata yang di ucapkan Arga.
Dirinya sangat bersyukur atas rencana sang kakak-nya, yang sudah menjebaknya dengan suaminya itu. Berkat rencana mereka, kehidupan Andini lebih berwarna lagi dan dirinya lebih semangat menjalani hari-harinya.
'' Serius?'' Lagi-lagi Arga hanya mengangguk.
'' He'em. Nanti siang kita akan menjenguk nya, ajak juga Tara, dia pasti ingin bertemu dengan ayah nya.''
'' Berbicara secara perlahan. Batu saja bisa bolong jika di sirami air hujan terus menerus, begitu juga hati manusia. Sekeras-kerasnya hatinya, pasti ada sisi lembutnyajuga. Dia akan luluh, kalau kamu kasih dia pengertian.'' Hati Andini kembali berbunga-bunga saat Arga berucap berusan.
'' Oke. Kalau begitu, aku mau ke kamar Tara dulu.'' Andini mulai beranjak dari kamarnya menuju kamar sang adik.
Andini berjalan dengan hati yang riang dan senang. Saat asyik berjalan, Winda yang kebetulan yang sedang memilih perhiasan dan tidak sengaja melihat Andini, langsung saja memanggilnya.
'' Ndin!'' Panggil Winda, Andini langsung menoleh ke sumber suara itu yang sudah mendapati Winda dengan beberapa perhiasan yang sudah terhubung dengan tubuhnya. Andini mengurungkan niatnya untuk ke kamar sang adik,dia langsung menghampiri Winda dan duduk di sebelahnya.
'' Ada apa ma?'' Tanya Andini.
__ADS_1
'' Ini ada perhiasan. Coba kamu pilih yang mana yang kamu suka, kalau ada yang kamu suka ambil aja. Oh iya, bi Nem.'' Panggil Winda.
Seorang paruh baya berjalan tergesa-gesa untuk menghampiri sang majikan.
'' Ada apa bu?'' Tany bidan Nem, selaku kepala asisten rumah tangga di rumah Wijaya.
'' Ambil empat kotak perhiasan dan kasih dengan teman bibi yang lain.'' Ucap Winda dengan menunjuk kotak yang berisi satu set perhiasan.
'' Hah! Yang bener bu?'' Raut wajah bi Nem sangat terkejut.
'' Bener.'' Winda tersenyum melihat bi Nem.
Biar Nem mulai mengambil empat kotak perhiasan dan ingin membawanya kedalam untuk memberikan kepada teman-temannya.
Sebelum pergi. Biar Nem, di perintahkan untuk memanggil Tara uang yang sedang berada di kamarnya.''
'' Bi, tolong bibi panggilkan Tara untuk keruang tamu ya. Saya tadi menemukan satu perhiasan yang cocok untuk dirinya.'' Kata Winda yang memegang satu kotak perhiasan yang sudah ia sukai sejak pandangan pertamanya.
Bersambung.....
Jangan lupa like dan hadiahnya ya gaes
__ADS_1