
Hampir memakan waktu tiga jam Arga di dalam ruangan bedah itu. Hingga akhirnya seorang suster keluar dari ruangan operasi itu.
Kedua orang tua Arga langsung berdiri saat seorang perawat menghampiri mereka.
'' Bagaimana operasinya sus?'' Winda bertanya dengan nada sedikit gemetar.
''' Oprasi-nya berjalan dengan lancar dan sekarang pak Arga sudah bisa dibawa ke ruang rawat, pa, bu.''
Suster itu langsung masuk ke dalam ruangan itu tak lama keluarlah brankar yang di tiduri oleh Arga, tak lupa di sampingannya ada selang infus.
Brankar yang di tumpangi Arga berjalan melewati kedua orang tuanya.
Tubuh yang lemah serta banyaknya perban yang melingkar di kepala dan lengan Arga, mampu membuat hati seorang Winda teriris. Dia begitu khawatir dengan keadaan anaknya, seandainya musibah yang di tanggung Arga bisa di bagi, mungkin dirinya akan menanggung rasa sakit itu. Dia tak tega melihat anaknya sakit begini.
Winda dan Wijaya mengikuti kemana arah Arga dibawa.
'' Dokter. Bagaimana kondisi anak saya sekarang dok?'' Tanya Wijaya.
'' Untuk kondisi pak Arga sudah stabil pak. Bapak tinggal nunggu pasien sadar.''
'' Kalau begitu, kami pamit sebentar pa, bu. Saya ingin mempersiapkan kamar untuk pasien.'' Dokter itu pun langsung mengikuti brankar yang membawa Arga.
Hingga sampai di ruangan VIP yang memang Wijaya sendiri yang memutuskan untuk memakai kamar itu. Arga sekarang sudah di pindahkan serta peralatan kesehatan dirinya juga sudah di pindahkan ke dalam ruangan VIP itu.
'' Tolong untuk sekarang jangan terlalu banyak suara saat di dalam ruangan pak Arga, karena itu akan membuatnya tidak nyaman.'' Peringat dokter.
'' Satu lagi bu, pa. Jika di antara bapak dan ibu ingin berkunjung, sebaiknya hanya seorang saja.'' Dokter itu terus saja memperingati tentang apa yang boleh dan tidak boleh saat pengunjung mengunjungi ke ruangan pasiennya.
Lalu dokter itu benar-benar pergi dari hadapan mereka di ikuti juga oleh tujuh suster yang siap siaga dalam menangani kondisi Arga mulai dari melakukan tindakan operasi, hingga memindahkannya ke dalam ruangan inap.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
'' Halo pak. Pak ternyata target tidak mati, dirinya selamat dari kejadian maut itu.'' Lapor lelaki misterius.
'' Sial. Bagaimana bisa? Dasar tak becus kamu bekerja. Saya tidak mau membayar mu.'' Seseorang dari balik telepon nampak marah, saat rencananya tidak berjalan sesuai yang diharapkan nya.
Abdi sengaja mengerahkan anak buahnya untuk mengintai setiap kondisi Arga yang sudah dianggapnya mati. Tapi nyatanya itu tidak, hal itu mampu membuat dirinya marah, karena rencananya gagal
'' Tidak bisa gitu pak. Kalau bapak tidak mau membayar saya, saya akan melaporkan kejahatan bapak pada pak Wijaya.'' Ancam lelaki itu.
'' Yasudah. Nanti saya transfer.''
Klik'
'' Sial. Nyawanya sudah seperti kucing. Bagaimana bisa dia hidup? Mobilnya saja hancur dan kenap...? Ahhh. Rencana ku gagal.'' Teriak Abdi prustasi.
'' Aku harus melakukan sesuatu. Gak akan aku biarkan Arga menginjak bumi ini, aku bersumpah atas hal ini.''
...----------------...
'' Mbak mau liat kondisi mas Arga.'' Dari tadi Andini terus meronta-ronta untuk di kasih keluar dengan adiknya.
'' Mbak gak boleh kemana-mana. Kondisi mbak belum stabil.'' Tara terus menggenggam erat kedua tangan Andini.
'' Awas Tar. Mbak mau liat kondisi nya, mbak takut terjadi yang enggak-enggak dengan mas Arga.'' Andini langsung menangis tersedu-sedu. Ntahlah dirinya sekarang begitu cengeng, apakah ini termasuk hormon kehamilan-nya juga? Ntahlah tidak ada yang tau mengenai hal itu.
'' Please. Jangan larang mbak untuk bertemu dengan suami mbak, dek. Mbak ingin melihat kondisinya.'' Andini terus memohon kepada sang adik.
'' Yaudah. Tapi harus sama aku, aku yang megang tangan mbak.'' Akhirnya Tara menyetujui permintaan Andini, karena dia tak tega melihat sang kakak, terus-menerus merengek minta bertemu dengan suaminya.
__ADS_1
Tara dan Andini langsung keluar dari kamar Andin di rawat. Lalu mereka berjalan ke arah yang sama sekali tidak mereka ketahui arah tujuan perginya mereka.
'' Ruangan bang Arga di mana ya mbak?'' Tanya Tara celingak-celinguk mencari setiap sudut rumah sakit.
'' Gak tau dek. Kita jalan aja, nanti kalau jumpa suster, baru tanya.'' Tara hanya menurut saja
Andini dan Tara pergi ke lantai paling bawah untuk menanyakan pada resepsionis di mana ruangan Arga berada.
Sepanjang perjalanan Andini terus saja memegangi perutnya. '' Kenapa mbak? Perut mbak sakit?'' Tanya Tara khawatir.
'' Gak terlalu sakit kok, Tar.''
'' Tidak-tidak. Mbak jangan bohong, aku tau perut mbak lagi sakit. Sekarang aku yang akan mohon sama mbak. Mbak tunggu aja di sini, biar aku yang nanya sama resepsionis-nya. Kali ini, please, mbak jangan ngebantah lagi. Aku mohon.'' Tara menyatukan kedua punggung tangannya.
'' Hmm. Baiklah, mbak akan nunggu di sini.'' Akhirnya Andini mengalah juga, mengingat dirinya tidak boleh egois. Dia sadar yang di bawanya saat ini bukan dirinya sendiri, tapi ada seorang malaikat kecil yang sedang dia kandung.
Tara langsung masuk ke dalam lift untuk menuju lantai satu.
Untung saja Arga dan Andini di rawat di rumah sakit yang sama, jika tidak mereka akan bolak-balik ke rumah sakit untuk menjenguk Arga dan Andini.
bersambung....
Jangan lupa vote dan hadiahnya ya gaes 😊
Hay². Aku ada cerita seru nih baru netas masih anget-angetnya. Cerita romance di campur komedi yang akan mewarnai hari-hari kalian🤭😁
Jangan lupa mampir ke karya temenku ( Istri Dadakan Tuan Aryan) karya Rizki Nabila, di jamin seru deh. Jangan lupa mampir yuk
__ADS_1
Cus langsung mampir gaes. Di jamin ceritanya pasti seru.