
'' Halo. Ada apa Alvin? Kenapa kamu nelepon saya?'' Tanya Arga pada Alvin dari sebrang telepon.
'' Bos, saya sudah mendapatkan informasi tentang kecelakaan lima minggu lalu. Dan sesuai dugaan bos. Pelakunya adalah pak Abdi.''
'' Nanti akan saya kirim bukti-buktinya sama bos.''
'' Baik.'' Arga langsung mematikan ponselnya.
Klik'
'' Kurang ajar. Aku tidak akan melepaskan mu Abdijaya. Tadinya aku ingin memaafkan kamu, karena kamu ayah istriku, tapi saat kamu dalang di balik kecelakaan ku, aku gak akan membiarkanmu hidup dengan tenang.'' Geram Arga, sementara dibelakangnya ada seseorang yang sedang mendengarkan ceritanya, ia tak lain adalah Andini.
Andini sengaja mengikuti Arga, karena rasa penasaran yang sudah menyatu dalam tubuhnya, hingga dirinya harus membuntuti Arga.
Andini sangat syok mendengarkan apa yang di ucapkan Arga barusan.
'' Mas.'' Panggil Andini.
Deg!
'' Andini?'' Gumam Arga. Dia langsung menoleh ke belakang dan terlihat Andini sudah berdiri tepat di belakang dirinya.
'' Andini. Ngapain kamu kesini?'' Tanya Arga basa-basi.
'' Mas. Apa benar pak Abdi dia itu ayahku?'' Bukannya menjawab pertanyaan Arga, tetapi dirinya malah melontarkan sebuah pertanyaan kepada sang suami.
'' Em... Bukan, bukan. Kamu salah dengar.''
'' Kamu jangan bohong mas. Aku sudah mendengar apa yang kamu ucapkan tadi. Dia benar ayah kandungku kan?''Andini kembali bertanya.
'' Ti-tidak. Sudah ayo kita balik ke meja lagi.'' Arga terus mengalihkan pembicaraan nya dengan Andini. Rasanya dirinya belum sanggup untuk berbicara jujur.
'' Tidak. Kamu jawab yang jujur. Abdijaya itu dia ayahku kan mas, ayah kandungku kan mas?''Andini sedikit meninggikan suaranya.
' Aku harus menjawab apa?' Arga sibuk dengan ide-ide yang tidak ada yang terlintas di pikiran dirinya.
'' Jawab.'' Teriak Andini.
__ADS_1
'' Iya. Dia ayahmu, ayah kandungmu yang telah menelantarkan kamu dan adikmu. Ya.. Dia yang kamu pikir ayahmu, karena kemiripan di wajahnya. Itu memang benar adanya.''Arga kini harus menjawab pertanyaan Andini.
Ada sedikit takut saat dia melontarkan kenyataan kepada Andini. Dia takut kondisi Andini akan nge-drop.
'' A-pa? Dia ayahku? Ayah yang sudah delapan belas tahun menghilang?'' Andini langsung terduduk di lantai. Saat ini dia tidak bisa berkata-kata, hanya ada keterkejutan yang sedang menjalar di dalam tubuhnya.
'' Benar. Dan perlu kamu tau. Dia sangat jahat untukmu, dia bukan seorang ayah yang baik untukmu, Ndin.''
Andini langsung di bantu berdiri oleh Arga. Tapi pertolongan itu di tepis oleh dirinya.
''Aku bisa sendiri. Apa maksud kamu, kalau ayahku tidak baik untukku?''Ketus Andini.
'' Karena dia sudah menyebabkan terjadinya kecelakaan yang aku alami lima minggu lalu. Ayahmu yang sudah membuat ku menjadi patah tulang untuk waktu yang cukup lama.'' Marah Arga.
'' Tidak. Tidak mungkin ayahku seperti itu mas. Kamu jangan memfitnahnya.'' Andini langsung berlari begitu saja.
Arga langsung mengejar Andini yang sedang tersulut emosi itu.
'' Andini tunggu. Kamu jangan lari-lari, nanti kamu jatuh.'' Peringat Arga di saat larinya.
Ucapan Arga terus saja terngiang-ngiang di telinga Andini Dirinya masih bingung, mana yang harus dia percaya? Suaminya atau ayahnya.
' Yang mana yang harus ku percaya? Ayahku atau kamu mas?' Batin Andini.
Sampai dirinya sudah berdiri tegak di pinggir jalan raya. Dirinya saat ini benar-benar ingin sendiri. Pikirannya masih belum stabil.
Ditempat yang sama, terlihat seorang pria paruh baya yang sedang keluar dari sebuah mobil sedannya.
Dirinya ingin masuk ke dalam kafe itu. Tapi ekor matanya tak sengaja melihat seorang wanita yang sedang berdiri di pinggir jalan raya itu.
'' Andini? Ngapain dia ada disini? Dia pasti tidak sendiri. Tapi mana suaminya itu?'' Gumam lelaki setengah abad itu.
'' Haha. Umpan sudah di depan mata. Aku akan membuatmu menderita Arga, walau harus mengorbankan anakku sendiri.'' Abdi tersenyum misterius dalam Gumamnya.
Andin langsung mendekati Andini yang sedang menangis tersedu-sedu. Dan tanpa di sadari nya, ada seorang lelaki yang sudah berdiri di belakangnya dan bersiap-siap untuk mendorongnya.
'' Satu dua ti...''
__ADS_1
Abdi mendorong tubuh Andini dengan sekuat tenaganya. Tapi dirinya salah sasaran, bukannya Andini yang dia dorong, melainkan Arga yang terdorong olehnya. Karena Arga sudah lebih dulu menarik Andini dan dirinya tidak sengaja terdorong oleh Abdi dan dengan bersamaan sebuah sepeda motor berlalu dengan sangat kencang, hingga mampu membuat dirinya terpental beberapa centimeter dari tempatnya berdiri.
'' Mas Arga.'' Teriak Andini pecah, saat dirinya menoleh ke arah seseorang yang sedang menariknya barusan. Ini sudah kedua kalinya ia melihat sang suami tak sadarkan diri.
'' Mas bangun. Tolong..... Siapapun tolong suamiku.'' Andini terus berteriak meminta pertolongan.
'' Sial. Aku salah sasaran, tapi ini malah bagus. Semoga saja kamu tidak selamat, hahah selamat jalan Arga Wijaya.'' Gumam Abdi dia ingin kabur dari tempat kecelakaan itu. Tetapi langkahnya terhenti saat tangan seseorang menggenggam erat tangan dirinya.
'' Jangan coba-coba untuk kabur. Bapak harus bertanggungjawab atas perbuatan bapak barusan.'' Ternyata salah satu warga melihat aksi keji Abdi barusan dan saat dia mengetahui Abdi ingin kabur. Dirinya langsung mencegah aksi Abdi itu.
''Tidak-tidak. Saya tidak melakukan apapun.'' Abdi terlihat gelagapan saat seorang warga menggenggam tangannya.
'' Bapak tidak usah ngelak. Saya melihat dengan kedua mata saya sendiri, kalau bapak penyebab kecelakaan ini.'' Warga itu langsung menyeret untuk di tunjukkan kepada warga-warga yang lain.
'' Kenapa kalian hanya melihatnya saja? Cepat panggilkan Ambulans kemari. Suamiku membutuhkan pertolongan medis.'' Andini menjerit, saat tak ada satupun yang be-empati untuk menelepon ambulans untuk membawa suaminya.
'' Sudah Bu. Sebentar lagi ambulans nya datang.'' Ucap scurity yang bertugas di kafe yang sempat ia singgahi itu.
Saat sedang cemas-cemasnya. Salah satu warga yang sedang menarik Abdi untuk menjumpai Andini yang sedang memangku kepala Arga di kedua pahanya.
'' Maaf bu. Saya tadi melihat bapak ini yang dengan sengaja mendorong tubuh suami ibu.'' Ucap warga itu sambil menunjukkan wajah Abdi.
Andini langsung mendongak dan melihat siapa yang sedang berbicara padanya barusan.
Deg!
Dirinya benar-benar syok saat melihat seorang yang sangat ia kenali dan barusan saja dirinya dan suaminya bertengkar, karena membahas tentang dirinya.
'' Pak Abdi?'' Gumam Andini.
'' Pak. Saya minta tolong untuk amankan pelakunya. Saat urusan saya sudah siap, saya akan mengurus-nya.'' Andini bingung harus berbuat apa, dirinya hanya mampu melakukan tindakan saat suaminya siuman nanti.
'' Baik bu.''
'' Bila perlu tolong bapak bawa orang ini ke kantor polisi.'' Andini enggan untuk menatap wajah Abdi yang sedari tadi dirinya sudah menatap dirinya.
Bersambung...
__ADS_1
Maaf banget telat up, soalnya akunya lagi sibuk banget akhir-akhir ini.
Jangan lupa vote dan hadiahnya ya gaes 😊