
Lena dan Dirga berjalan menuju depan dan di saat bersamaan, Abdi telah selesai berbicara dengan Affan yang selaku mantan rekan bisnis dirinya dulu.
'' Kalau begitu saya deluan ya pak?'' Pamit Abdi. Affan hanya mengangguk.
Abdi Pun pergi meninggalkan Affan. Dirinya celingak-celinguk mencari keberadaan Mita yang dari tadi tak nampak batang hidungnya.
' Kemana dia?' Batin Abdi.
Abdi merasa Mita tak berada di depan. Jadi abdi putuskan untuk mencarinya di belakang rumah, karena Mita pernah bercerita kalau dirinya sedang sedih atau capek dirinya akan ke taman belakang rumah mau rumah Arga atau Wijaya, Mita akan memasukan kedua kakinya kedalam kolam renang untuk menetralisir kondisi tubuhnya.
Saat abdi berjalan ke arah belakang rumah dan di lawan jalannya ada sepasang suami istri yang sedang bergandengan tangan menuju halaman depan rumah Wijaya. Abdi berjalan dengan menundukkan kepalanya, sampai-sampai dirinya tidak fokus dengan arah depan. Hingga panggilan namanya mampu membuat dirinya menoleh ke sumber suara itu.
''Ayah!'' Panggil Tara.
Abdi langsung menoleh ke arah Tara yang sedang duduk di bangku dekat kolam. Abdi langsung berbelok ke arah Tara dan menghampiri sang bungsu yang sedang duduk di bangku.
Dan saat Abdi belok ke arah Tara, pasangan paruh baya itu pun berjalan di jalan yang baru di pihak oleh Abdi.
'' Sedang apa kamu di sini nak?''
Sekelibas Lena mendengar suara lelaki yang hampir mirip dengan suara di masa lalunya. Ingin rasanya dirinya menoleh kearah sumber suara itu, tapi tangan sang suami menghalangi penglihatan dirinya.
Akhirnya Lena gagal untuk melihat siapa pemilik suara yang begitu mirip dengan seseorang di masa lalunya.
Di bangku dekat kolam, Tara dan Abdi sudah duduk bersampingan. Abdi mulai mengelus lembut rambut sang bungsu, dirinya begitu kangen dengan si bungsu, karena hampir seminggu lebih tidak bertemu.
'' Kamu kok sendiri nak? Nak Alvinnya mana?'' Tanya Abdi.
__ADS_1
'' Tau!'' Tara mengedikan bahunya.
Abdi menggeleng, dirinya tahu. Pasti ada yang tidak beres dengan hubungan antara Tara dan Alvin.
Abdi langsung menggenggam erat tangan Tara, lalu dirinya mulai menanyakan tentang apa yang terjadi dengan dirinya dan sang kekasih. '' Ada apa? Sepertinya ayah mencium bau-bau patah hati di putri ayah yang cantik ini.''
Tara menghembuskan nafas beratnya. '' Huftt. Gak ada yah, aku cuma capek aja.'' Ucapanya mengelak.
'' Bohong!"Bantah Abdi.
Lagi-lagi Tara hanya menghela nafas panjang. Abdi terus memandangi wajah mulus nan cantik milik si bungsu. " Ngomong sama ayah kalau ada yang janggal di hati kamu. Bagi duka kamu sama ayah, siapa tau ayah bisa bantu sebisa ayah." Abdi mengelus-elus rambut Tara.
" Bingung yah harus mulai dari mana."
" Kenapa begitu?"
Abdi hanya menggeleng. " Bagaimana bisa tidak tau awal ceritanya nak. Sudah cerita sama ayah, ayah janji sama kamu, ayah akan menolong semampu ayah."
" Aku kesel sama kak Alvin yah!" Akhirnya setelah Abdi membujuknya untuk berbicara tentang masalah yang sedang di alaminya, akhirnya Tara mau juga bercerita tentang problem dirinya dan kekasihnya kepada sang ayah.
Abdi langsung berpura-pura panik. " Alvin kenapa? Dia nyakitin kamu? Atau dia nyelingkuhin kamu? Ayah akan kasih pelajaran sama Alvin kalau dia benar-benar nyakitin perasaan anak manis ayah ini." Abdi yakin Alvin pasti tidak akan melakukan apa-apa terhadap anaknya, karena hampir dua tahun lebih mereka bersama, belum pernah Abdi mendengar keributan antara Tara dan kekasihnya.
" Dia gak ngapa-ngapain aku yah."
" Terus?"
" Dia itu gak ada waktu buat aku yah. Ayah mau tau gak?"
__ADS_1
Abdi menggeleng. " Tidak. Ayah tidak tau, kan kamu belum ada cerita." Abdi sengaja meledek sang anak agar suasana tidak menegang.
" Ayahhhh....." Ucap Tara manja.
Abdi hanya menyengir, lalu mengangkat kedua lima jari kanan dan kirinya. " Maaf."
Tara tidak menggubris perkataan Abdi. Dirinya mulai bercerita tentang problem yang dialaminya dan kekasihnya. Semua segala unek-unek telah ia keluarkan, ada sedikit lega saat bercerita dengan sang ayah.
" Sudah ceritanya?" Tanya Abdi. Tara mengangguk.
" Kira-kira, aku lanjut atau putus aja ya, yah." Tara meminta saran pada sang ayah.
Abdi sedikit bingung memberi bantuan masalah Tara dan kekasihnya, tapi sebisa mungkin dirinya membantu sang anak agar keluar dari kesalah pahaman ini.
" Emangnya kamu sudah tidak cinta lagi sama Alvin?"
Tara menggeleng. " Aku masih cinta sama kak Alvin yah."
" Terus. Kalau masih cinta, kenapa kamu ingin mengakhiri hubungan kamu dengan Alvin. Ayah lihat-lihat, Alvin sepertinya sayang banget sama kamu."
" Tapi masalahnya adalah, kak Alvin gak pernah ada waktu buat aku yah. Ayah tau gak, satu hari ini aku diajak dia untuk menemui rekan-rekan bisnis nya, aku tidak di perdulikan."
" Kan aku kesel. Siapa sih yang gak kesel yah?"
Abdi hanya tersenyum menanggapi cerita sang anak.
Bersambung......
__ADS_1