
Andini dan Arga sudah berada di rumah dan lagi rebahan di dalam kamar. Mereka melepaskan penat setelah bepergian ke kantor polisi tadi.
Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak.
...----------------...
Malamnya mereka di bangunin oleh bi Nem untuk makan malam, karena waktu sudah menunjukkan makan malam.
'' Den, mbak bangun, di suruh ibu makan.'' Bi Nem terus mengetuk pintu kamar Andini dan Arga.
Andini yang sedang tetidurerasa terusik akibat gedoran dari bi Nem, dengan cepat Andini membuka pintu dengan wajah bantalnya.
'' Ada apa bi?'' Tanya Andini yang sudah membuka pintu.
'' Di suruh ibu makan mbak.'' Kata bi Nem.
'' Iya biar, nanti kami turun.'' Balas Andini sambil menguap.
Lalu bi Nem turun ke bawah dan Andini segera menutup pintu kamarnya kembali dan berjalan mendekati Arga yang sedang tertidur.
'' Mas bangun mas, udah malam.''
'' Bentar lagi Ndin, aku masih ngantuk.'' Balas Arga malas-malasan.
'' Ayo bangun mas. Langsung mandi biar seger.'' Andini langsung menarik lengan Arga hingga membuatnya terduduk.
Mau gak mau Arga bangun dari kasur dan menuju kamar mandi untuk mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Andini dan Arga sudah turun dari tangga dengan wajah yang terlihat lebih fresh.
Mereka langsung berjalan menuju meja makan yang sudah di isi oleh Wijaya dan Winda serta ada Tara di antara pasangan suami istri yang tak lagi muda ini.
'' Ayo makan Ndin.'' Ajak Winda.
'' Iya ma.'' Andini langsung duduk di kursi-nya, sebelum dia mengambil makan untuk dirinya sendiri, dia lebih dulu menyiapkan makanan untuk Arga.
'' Mau pake ayam mas?'' Tanya Andini yang tangannya sudah memegang mangkuk.
'' Hmm.'' Jawab Arga singkat dan ekspresi wajah yang seperti menahan sesuatu.
__ADS_1
Ternyata Winda memperhatikan raut wajah Arga yang cemberut dan dia berinisiatif untuk menanyakan ekspresi Arga itu. '' Kamu kenapa Ga?'' Tanya Winda.
'' Ngantuk ma, hoam.'' Arga langsung menguap.
'' Ya ampun, emang kurang tidurnya tadi. Dari siang sampai malam?'' Winda menaikkan satu alisnya.
'' Gak tau lah ma. Arga masih ngantuk.'' Jawab Arga.
Winda hanya menggelengkan kepalanya melihat putra semata wayangnya itu, ngidam apalah dirinya dulu saat mengandung Arga? Sampai-sampai hasilnya seperti ini.
Saat makan malam bersama. Winda tiba-tiba saja berkata sesuatu kepada Tara, dia menanyakan tentang ujian nasional yang sedang Tara jalani saat ini.
'' Bagaimana dengan ujian kamu hari ini Tar?'' Tanya Winda dengan memasukkan satu sendok yang berisi lauk dan sayur ke dalam mulutnya.
'' Alhamdulillah lancar ma, cuma aku gak suka sama temen aku yang duduk di belakang aku.'' Tara langsung menunjukkan wajah masamnya.
Semua yang ada di meja makan bingung dengan ucapan Tara barusan. ''Kenapa?'' Tanya mereka berbarengan.
'' Dia nyontekin jawaban aku.'' Jawab Tara yang mampu membikin semua yang ada di situ tertawa.
'' Oalah, kirain ntah apa lah tadi.'' Kata Wijaya di sela-sela tertawanya.
'' Pandai juga temanmu itu ya Tar? Kenapa kamu tidak minta kasih tau jawabannya sama dia?'' Tanya Arga.
'' Pinter apanya? Pinter nyontek. Nyesel aku duduk di depan dia.'' Kesal Tara, hal itu membuat mereka kembali tertawa ngakak.
'' Sudah lah, anggap aja kamu lagi sedekah sama temen kamu itu.'' Kini Winda yang berbicara.
'' Masalahnya ma, kalau aku sedekah sama orang baik, pasti akan mendapatkan pahala kan? Ini orangnya jahat ma. Dia pernah ngambil uang jajan aku diam-diam di dalam tas aku, aku nampak sendiri, tapi pas aku tanya dia gak mau ngaku.''
'' Jadi aku putuskan aku sangat-sangat merasa berdosa bersedekah dengan dia.'' Kesal Tara, tetapi yang lain justru ngakak mendengar dumelan Tara.
'' Susah Tar jangan di lanjutkan, perut mbak sakit kebanyakan ketawa.'' Ucap Andini yang di balas cengengesan gak jelas oleh Tara.
'' Hehehe. Abisnya aku kezel mbak.'' Tara langsung menyantap makanan nya lagi.
'' Oh iya Ndin. Kamu sudah USG?'' Tanya Winda. Mumpung dirinya ingat, dia langsung menanyakan jenis kelamin cucu pertamanya.
'' Belum ma. Andini dan mas Arga sengaja tidak USG, karena kami tidak ingin tau jenis kelamin bayi kita dan tentunya akan menjadi suprise tersendiri untuk kami berdua.'' Jawab Andini.
'' Benar itu.'' Timpal Wijaya.
__ADS_1
'' Ma.'' Panggil Andini.
'' Iya.'' Jawab Winda.
'' Mama, mama dulu pas melahirkan normal atau operasi ma?'' Tanya Andini ragu-ragu.
'' Normal Ndin, memangnya kenapa?'' Tanya Winda.
'' Andini bingung ma, nanti pas melahirkannya normal atau operasi.'' Keluh Andini.
Saat ini mereka berdua sedang berada di ruang tamu sambil menonton televisi.
'' Takut kalau operasi pasti sakit apalagi normal. Menurut mama Andini harus pilih yang mana.'' Kata Andini.
'' Dua-duanya sama-sama sakit nak. Tapi rasa sakit itu sungguh nikmat nak. Status kita akan berbeda jika sudah keluar malaikat kecil dari dalam rahim kita.'' Kata Winda.
''Hadiah terindah yang diharapkan seorang ibu adalah anak-anak yang Sholeh dan Sholehah. Mudah-mudahan kelak anak-anak kalian menjadi anak-anak yang Sholeh dan Sholehah.'' Lanjut Winda.
Andini hanya mendengarkan saja apa yang di ucapkan Winda.
''Walau mustahil menjadi ibu yang sempurna, namun seorang ibu pasti berusaha untuk menjadi ibu terbaik bagi anak-anaknya. Begitulah seorang ibu, dia akan menge-nyampingkan rasa sakit itu demi bertemu dengan seorang malaikat kecil yang sudah lama di nantinya.''
'' Apalagi saat anak sudah bisa berbicara, ya.. walaupun masih cadel, rasanya sangat gemas nak. Kata yang paling indah di bibir anak kita adalah kata 'Ibu', dan panggilan yang paling indah adalah 'Ibuku'. Ini adalah kata yang penuh harapan dan cinta, kata manis dan baik yang keluar dari kedalaman hati." Sambung Winda, sementara Andini sudah meneteskan air matanya.
'' Apa yang mama bilang benar ada nya ma. Tapi itu tidak berlaku dengan ibu kandung Andin ma.'' Andini langsung menangis dan Winda langsung memeluk tubuh menantunya.
'' Dia tidak pernah peduli dengan kami berdua ma. Dia pergi meninggalkan kami berdua saat kami belum mengerti apa-apa.'' Andini menangis hingga sesegukan.
'' Ibu kamu pergi pasti ada sebabnya nak. Mama yakin dia sangat sayang dengan kalian. Percayalah sama mama, pasti ibu kamu itu sangat sayang pada kamu dan juga Tara.'' Ujar Winda sambil mengelus-elus punggung Andini.
'' Bahkan dia tidak pernah melihat pertumbuhan kami ma. Dia dia...''
'' Shutt. Jangan di lanjutkan, Cobalah cari tahu terlebih dahulu kenapa ibu kamu pergi saat kamu masih kecil. Kamu tidak boleh menganggap dirinya ibu durhaka tanpa sebab.''
'' Iya ma. Terimakasih mama udah mau mendengar keluh kesah aku.'' Andini langsung mengelap air matanya.
'' Sama-sama anak mama yang cantik. Sudah jangan menangis lagi, sudah tidur gih udah malam.'' Suruh Winda Andini langsung mengangguk dan langsung berjalan menuju kamar nya.
Bersambung.....
Jangan lupa like dan hadiahnya ya gaes 😊
__ADS_1