
Setelah selesai menyusun pakaian di lemari. Winda berjalan ke arah sang cucu dia langsung mengeluarkan ponselnya untuk memotret wajah sang cucu.
Selesai dengan acara potret memotret, Winda kembali duduk di sofa. Winda mengupas kulit jeruk yang tersedia di atas meja, lalu dia memakannya satu persatu dengan mata melihat ke arah ponsel yang sedang menampilkan gambar yang baru saja di ambil.
Cklek'
Pintu kamar itu terbuka dan memperlihatkan seorang Tara dari balik pintu itu, dia terlihat lebih fresh dari sebelumnya.
Tara masuk ke dalam dan mendekati Winda yang sedang memakan jeruknya. '' Nih jeruk.'' Tawar Winda.
'' Iya ma. Emm, mbak Andin nya tidur ya ma?'' Tanya Tara.
'' Iya. Oh iya, kamu kemari sama siapa?'' Tanya Winda yang sudah menghadap ke arah Tara.
'' Sama Alvin ma. Mama gak jadi pulang? Kata mama, hari ini mama ada arisan sama di kafe sama teman-teman mama.'' Kata Tara.
'' Benar. Yaudah kalau begitu mama pergi dulu ya? Kamu jaga babi Gai, mama mau pulang dulu. Sebentar lagi Arga juga datang, kalau kamu gak mau lama-lama di sini kamu bisa pergi kalau Arga sudah datang.'' Kata Winda. Winda langsung keluar dari ruangan itu, saat melewati bangku tunggu, Winda tak sengaja bertemu dengan Alvin yang sedang duduk di kursi tunggu.
'' Eh Alvin.'' Tegur Winda.
Alvin langsung berdiri dan menyalim tangan Winda. '' Sehat tan?'' Tanya Alvin.
'' Sehat. Kamu kenapa tidak masuk?'' Tanya Winda.
'' Bentar lagi Tan.'' Jawab Alvin.
'' Oh yaudah, kalau begitu tante pamit dulu ya. ''
'' Iya tan.''
Winda langsung pergi meninggalkan Alvin di bangku tunggu. Alvin langsung masuk ke dalam yang sudah ada Tara yang sedang duduk di sofa.
'' Ay.'' Panggil Alvin.
Tara langsung menoleh ke arah sumber suara itu. '' Eh kak. Duduk sini kak.'' Tara menepuk-nepuk sofa di sebelahnya.
Alvin langsung duduk di sebelah Tara. '' Mau?'' Tawar Tara.
Alvin langsung mengangguk. '' Boleh'' Kata Alvin.
Tara langsung memotong buah apel menjadi beberapa bagian, lalu memberikan pada Alvin. '' Nih kak.'' Kata Tara yang sudah menyodorkan potongan apel kepada Alvin.
'' Suapi dong. Lagi males ni tangan aku ay.'' Kata Alvin yang sudah membuka mulutnya.
Tara langsung menyuapi Alvin dengan potongan buah apel itu. Alvin dengan senang menerimanya lalu dia mengunyah buahnya dengan senyuman manis nya.
'' Manis, sama seperti kamu, hehehehe.'' Kata Alvin cengengesan.
Tara langsung memukul pelan lengan Alvin. '' Gombal banget.'' Kata Tara yang pipinya sudah menghangat.
'' Bener ay. Oh iya kalau boleh tau nama anaknya bos Arga apa ay?'' Tanya Alvin.
'' Gaishan Raffasyah Al Hafis Wijaya, cantik kan kak namanya?'' Tanya Tara antusias.
'' Iya. Nama yang bagus, mudah-mudahan sikapnya sama bagusnya dengan namanya.''
'' Amin.''
'' Oek.. oek.. oek..'' Alvin dan Tara langsung mendengar suara tangisan babi Gai, Tara langsung bangkit dari duduknya menuju box bayi yang terletak tak jauh dari sofa yang mereka duduki.
__ADS_1
Tara langsung melihat babi Gai yang sepertinya tidak nyaman, dia meliuk-liukkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
'' Kenapa sayang? '' Tanya Tara dengan senyuman nya.
Bukannya berhenti menangis, babi Gai malah menguatkan suara tangisannya, hal itu langsung membuat Tara panik.
'' Kak, Gai tambah nangis kak.'' Adu Tara yang wajahnya sudah panik.
Alvin langsung mendekati Tara. '' Gendong aja ay, mana tau dia gak nangis lagi.'' Kata Alvin.
'' Gak berani gendongnya, kakak aja nih gendong. Cepet kak di gendong, nanti keburu mbak Andini bangun karena suara Gai.'' Tara kelihatan panik sendiri dengan suara tangisan baby Gai.
Alvin menurut. Dia langsung menggendong baby Gai dan benar saja, tangisannya langsung mereda setelah di gendong oleh Alvin.
'' Eh diem dia ay.'' Ucap Alvin tersenyum lebar.
'' Iya ya kak. Hebat juga kakak bisa buat bayi berhenti nangis.'' Ucap Tara memuji Alvin.
'' Anak bos Arga aja bisa diam sama aku, apalagi anak kita nanti. Jadi gak sabar pengen cepat-cepat punya baby, pasti seru.'' Alvin tersenyum-senyum sendiri saat membayangkan dirinya dan Tara sudah menikah dan memiliki baby.
Sementara seseorang hanya tersenyum melihat pasangan muda itu. ' Kalian sangat cocok.' Batin Andini, ternyata dirinya sudah terbangun dari tidurnya.
Alvin langsung menimang-nimang babu Gai dengan sesekali dirinya menyanyikan lagu anak-anak untuk baby Gai.
Sementara Tara hanya duduk di sofa. Tara memperlihatkan kepribadian Alvin. Tara bersyukur karena bisa mendapatkan seorang kekasih yang baik seperti Alvin.
'' Mau dong kak, aku pengen gendong ponakan gembul aku.''
Baby Gai terlahir dengan bobot empat koma satu kilo, cukup besar dari bayi-bayi yang lainnya.
Alvin langsung memindah alih baby Gai ke tangan Tara. '' Pelan-pelan ay. '' Kata Alvin memperingati Tara.
'' Udah cocok belum kak, aku jadi emak-emak?'' Tanya Tara.
'' Cocok-cocok aja.'' Jawab Alvin.
Baby Gai mulai menguap dan secara perlahan matanya mulai tertutup. Tara langsung menghembuskan nafas pelan, dirinya lega akhirnya baby Gai kembali tidur.
'' Udah tidur ni kak bayinya.''Kata Tara.
'' Yaudah, langsung taruh di bidang bayi aja lagi.'' Balas Alvin.
'' Gak berani kak.'' Rengek Tara. Alvin langsung bangkit dari duduknya dan langsung mengambil ahli gendong baby Gai dari tangan Tara ke tangan dirinya.
'' Kamu itu hari belajar ngurus bayi ay.'' Kata Alvin yang sudah meletakkan tubuh baby Gai di dalam box bayi.
Tara dan Alvin kembali duduk di sofa. Tara bersandar di pundak Alvin. Alvin langsung merusak rambut Tara dengan mengelus kasar rambutnya.
'' Kak...'' Kesal Tara.
Alvin hanya tersenyum. '' Lucu banget kalau lagi marah.''
Tara hanya merengut. '' Udah gak usah ngambek, soalnya aku gak bisa ngebujuknya.'' Kata Alvin. Memang Alvin ini tipikal orang yang tidak bisa romantis, tetapi Tara sudah memaklumi sifat ketidak romantisan dari sang kekasih.
'' Hmm.'' Balas Tara.
'' Kapan kamu lulusannya ay?'' Tanya Alvin, yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
'' Tiga hari lagi. Oh iya kak, kami dari sekolah mengadakan tour travel perpisahan sekolah. Kakak mau ikut gak? Biar sekalian kita jalan-jalan.'' Tawar Tara.
__ADS_1
'' Emang aku bisa ikut?'' Tanya Alvin menunjuk dirinya sendiri.
Tara langsung mengangguk. '' Bisa, nanti kita bayar dua bangku. Udah gitu nanti kakak aku bilang jadi abang aku aja. Lagian kami jalan-jalannya tidak bersama guru.'' Kata Tara.
'' Lah terus? Kalau gak sama guru jadi sama siapa?'' Tanya Alvin bingung.
'' Eh, maksudnya gak satu bus sama guru kak. Bus kami khusus siswa, mau ya kak ikut?'' Tanya Tara sambil memohon.
'' kapan perginya?'' Tanya Alvin.
'' Dua minggu lagi. Bisa kan kak, aku pigi hari minggu, pasti kakak libur kerja kan?'' Tanya Tara. Alvin langsung mengangguk tanda setuju.
'' Oke!'' Kata Alvin. Tara langsung tersenyum karena Alvin mau menerima ajakannya.
Mereka langsung berbincang-bincang tak jelas, saat sedang berbicara. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan memperlihatkan seorang Arga dari balik pintu itu. Terlihat Arga juga lebih rapi dan tangannya sudah membawa sebuah paper bag yang berisi makan siangnya dan Andini.
'' Eh kalian ada di sini? '' Tanya Arga.
'' Iya bang.''
'' Iya bos.'' Jawab mereka serempak.
'' Tidak usah panggil bos, panggil aja sama kayak Tara biar lebih akrab.'' Kata Arga yang sudah meletakkan paper bag di nakas sebelah kasur Andini.
'' Iya bang.'' Jawab Alvin sedikit kagok.
'' Apa Gai tadi rewel?'' Tanya Arga.
Mereka berdua langsung menggeleng. '' Enggak kok bang.'' Jawab Tara.
'' Kalian sudah makan siang?'' Tanya Arga.
Mereka hanya menggeleng. '' Belum.'' Jawab mereka.
'' Pergilah makan siang dulu, abang cuma bawa dua bungkus nasi aja, pasti ini tidak akan cukup untuk kita berkongsi.'' Kata Arga.
'' Iya bang. Kalau begitu, kami pamit dulu mau nyari makan.'' Kata Alvin.
'' Hmm, hati-hati.'' Pesan Arga.
Alvin dan Tara langsung keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Arga yang sedang membuka bungkusan nasi yang di bawanya dari luar untuk di pindahkan ke dalam piring.
Saat sudah siap menyusun lauk sayur dan nasi ke dalam piring. Arga langsung membangunkan Andini.
'' Ndin.... Astagfirullah'' Arga langsung di buat terkejut, saat dengan tiba-tiba mata Andini terbuka.
'' Hehehe.'' Andini hanya cengengesan tak jelas.
'' Udah bangun?'' Tanya Arga.
Andini mengangguk. '' Udah dari tadi mas.'' Jawab Andini.
'' Hmm, yaudah kalau begitu ayo makan, mumpung nasinya masih anget.'' Arga langsung menyuapi Andini makan dengan sendok.
'' Hmmm enak mas. '' Kata Andini di sela-sela kunyahan nya.
'' Syukurlah kalau kamu suka. Kalau begitu abisin nasinya.'' Arga dengan telaten menyuapi Andini makan hingga piring yang berisi nasi dan lauk habis.
Selesai menyuapi Andini. Arga langsung memindahkan nasi dan lauk nya ke dalam piringnya.
__ADS_1
Bersambung....