Istri Simpanan Tuan Arga

Istri Simpanan Tuan Arga
Berkunjung ke rumah mertua


__ADS_3

Sesuai percakapan Arga dan Andini. Pulang dari kantor, mereka langsung menuju ke apotik untuk membeli obat Gaishan.


Andini turun dari mobil lalu berjalan menuju apotik. Dirinya menggandeng tangan kecil sang putra, saat mereka berjalan Andini tak sengaja bertubrukan dengan seorang wanita paruh baya.


Bruk'


'' Addduhhh....'' Ringis Gaishan. Padahal dirinya tidak Kenapa-napa tetapi dia bertingkah kalau dirinya sedang terjatuh.


'' Gai tidak apa-apa nak?'' Tanya Andini.


Gaishan menggeleng. '' Tidak mi.'' Jawabnya.


Lalu Andini mendongak menatap seseorang yang tak sengaja ia tabrak. '' Bu Lina?'' Gumam Andini.


'' Andini.'' Gumam Lina.


'' Sedang apa disini Ndin?'' Tanya Lina.


'' Ini bu, mau beli obat buat Gai.''


Raut wajah Lina terlihat khawatir. '' Gaishan sakit apa?'' Tanya Lina khawatir.


'' Cuma flu aja bu, kalau begitu kami deluan ya bu.'' Andini dan Gai meninggalkan Lina sendiri.


...' Setiap pertemuan ku dengan Andini pasti hatiku merasa berdebar. Ada apa ini? Dan kalau di lihat-lihat, kalau nama mereka sama. Apa mungkin dia Andini yang aku cari selama ini?' Batin Lina....


Lina terus berfikir yang tidak-tidak. Dirinya langsung menggeleng kepalanya dengan cepat. '' Tidak. Itu tidak mungkin, aku terlalu jauh berfikir, sampai-sampai dirinya aku anggap anakku yang aku cari selama ini.'' Lina langsung pergi dari area apotik itu untuk menuju mobilnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan paginya. Andini dan anaknya akan pergi ke rumah Winda untuk menghadiri sebuah acara arisan sang mertua dan sekalian membantu yang sebisanya. Mereka berdua pergu dan tentunya di temani Mita sang pengasuh anaknya.


Mereka bertiga tidak di antar melainkan di antar oleh abdi. Ya.. Mita dan Abdi semakin dekat semenjak Mita merawatnya di rumah sakit.


Mereka semakin dekat dan anak-anak mereka sangat setuju jika hubungan mereka lanjut ke jenjang yang lebih serius lagi.


'' Sudah siap semua?'' Tanya Abdi.

__ADS_1


Mita dan Andini mengagguk.


'' Sudah pak.'' Jawab Mita.


'' Bu. Nanti ibu belanja bulanannya di temani sama ayah ya bu? Soalnya Andin gak mau ibu kenapa-kenapa saat di jalan.'' Andini sengaja mendekatkan abdi dan Mita. Andini rasa mereka berdua cocok.


Mita mengangguk pasrah. '' Baik Din.''


Akhirnya mereka pergi memakai mobil Abdi. Andini dan Gaishan memilih untuk duduk di belakang, dan Mita duduk di samping kursi kemudi.


Mobil Abdi memicu kecepatan standar. Mobil itu langsung memasukkan komplek perumahan elit. Dan tak lama mobil Abdi sudah tiba di gerbang rumah Wijaya. Andini dan Gaishan langsung turun dari mobil dan Gaishan melambaikan tangannya ke mobil Abdi yang di balas lambaian tangan dari Mita.


'' Dadddah.'' Kata Gaishan.


'' Dadah Gai.'' Balas Mita.


'' Hati-hati bawa mobilnya yah. Oh iya, nanti jangan jemput aku soalnya aku pulangnya bareng pipinya Gai.'' Peringat Andini untuk tidak menjemputnya pulang.


Abdi dan Mita mengangguk. Lalu mobil Abdi pergi dari area rumah mewah milik keluarga Wijaya. Andini juga langsung masuk ke dalam gerbang mewah itu. Saat dirinya masuk, dirinya tak sengaja berpapasan dengan satpam yang menjaga rumah itu. Satpam itu menyapa dirinya dengan ramah. " Pagi bu, dan bos kecil." Sapa satpam dengan senyuman.


" Alhamdulillah bu, saya sehat."


" Alhamdulillah. Kalau begitu saya masuk dulu ya pak."


Andini mulai masuk kedalam rumah mewah itu. Nampak bi Nem dan pembantu lainnya sedang sibuk mondar-mandir ke sana kemari. Dan saat Andini ingin masuk di halaman depan rumah itu sudah di pasangi tenda besar lengkap dengan renda-renda.



Sudah seperti hajatannya saja. Pikir Andini. Andini mulai masuk ke area dapur. Anaknya sudah bermain dengan anak-anak kecil yang ada di sini, Andini membiarkan itu karena itu bisa membuat mereka dekat antar sepupu.


Andini mendapati Winda yang sedang memakan rengginang yang baru saja di goreng. Andini mulai mendekati Winda dan ingin menyalimi tangan sang mertua, tapi di tolak langsung oleh Winda. '' Tangan mama minyak Ndin.'' Tolak Winda.


Andini mengangguk paham. Dirinya juga ikut menyomot rengginang itu dan mulai memakannya, saat dirinya memakan rengginang itu dia langsung tak bisa berhenti sangking enaknya. '' Renyah banget ma rengginang nya?''


'' Mama beli di mana? Aku mau lah ma untuk cemilan di rumah.''


'' Ini yang buat bi Nem.''

__ADS_1


'' Bi Nem yang buat?'' Winda mengagguk. '' Enak banget bi.'' Andini langsung antusias memuji bi Nem yang memang sedang menyiapkan gelas-gelas. Bi Nem hanya tersenyum mendengar pujian dari Andini.


'' Makasih Ndin. '' Kata bi Nem.


'' Aku mau lah bi, buat cemilan di rumah. Masih ada lagi rengginang nya bi?'' Bi Nem mengangguk.


'' Banyak banget Ndin. Kamu mau bawa yang mentahan atau yang sudah matangnya?''


'' Mentahannya ajalah bi.'' Bi Nem mengangguk.


Andini terus memakan rengginang itu. '' Gai mana Ndin?'' Tanya Winda.


'' Palingan main sama Lana dan yang lainnya ma.'' Winda hanya membulat kan mulutnya.


'' Oh iya ma. Di depan sampe masang tenda meriah banget arisan mama, seperti sedang bikin hajatan aja ma.''


'' Soalnya rame Ndin. Teman arisan mama dan teman-teman papa pada datang semua, kalau mereka di letakkan di dalam rumah pasti gak muat yaudah mama pasang tenda aja.''


'' Belum lagi nanti malam kumpul-kumpul keluarga.'' Sambung Andini.


'' Kamu nanti nginep sini ya? Ajak juga Mita sama pak Abdi biar rame.'' Timpal Winda.


'' Iya ma. Nanti aku suruh ayah dan bu Mita kemari.''


'' Acaranya kapan di mulai ma? Tara juga kemana, aku kok gak ada liat.'' Andini menatap sekitar untuk melihat sang adik.


'' Acaranya di mulai nanti jam setengah sembilan. Kalau Tara tadi pagi sudah pergi sama Alvin katanya ada yang perlu.'' Jawab Winda.


'' Mereka berdua semakin dekat ya ma. Andini takut terjadi yang bukan-bukan. Apa sebaiknya kita nikahi aja mereka berdua ya ma? Lagian Tara juga gak nyambung ke pendidikan nya.'' Andini meminta saran pada sang mertua mengenai hubungan sang adik yang semakin hari semakin dekat dengan sang pacar.


Tara memang tidak melanjutkan pendidikan nya, sudah beberapa kali Andini bertanya, apakah dirinya tidak menyesal jika tidak melanjutkan pendidikan nya. Dan jawaban sang adik tidak, Tara sudah bulat dengan pilihannya dan Andini hanya mendukung Tara sebisanya.


Dan untuk Alvin, pria berumur dua puluh empat tahun itu. Dirinya sedang menjalani bisnis yang sudah ia bangun sejak dua tahun silam. Bisnis restoran dan kafe-kafe kecil. Usaha Alvin berkembang menjadi banyak cabangnya di mana-mana. Dirinya berhasil menjadi pengusaha muda yang berhasil.


'' Mama setuju. Mengingat umur Tara yang sudah bisa untuk menikah.'' Winda menyetujui saran dari Andini.


Mereka berdua langsung keluar dari dapur untuk melihat-lihat persiapan lainnya.

__ADS_1


__ADS_2