Istri Simpanan Tuan Arga

Istri Simpanan Tuan Arga
Gagal


__ADS_3

Di tempat lain. Tepatnya di sebuah taman bunga, Abdi dan Mita sedang beristirahat di taman bunga itu. Abdi dan Mita duduk di salah satu bangku taman itu dan di sebelah bangku itu ada penjual es kelapa. Abdi langsung memesan dua gelas air kelapa.


Setelah memesan Abdi kembali kepada Nita yang sedang memijat tangannya. '' Capek?''


'' Eh pak Abdi. Tidak pak.'' Mita langsung memperbaiki duduknya.


Abdi hanya tersenyum. Tak lama kemudian penjual es kelapa itu datang dengan membawadua gelas es kelapa.''Ini dia es nya pak.''


Abdi menerimanya dengan senang hati.''Terimakasih pak. Ini uangnya, kembaliannya buat bapak aja.''


'' Terimakasih pak.'' Penjual itu dengan senang hati mengantongi uang seratus ribu rupiah itu.


Mita dan Abdi mulai meminum es kelapa mereka, mereka terlihat canggung satu sama lain. Abdi sesekali tersenyum kikuk ke arah Mita.


'' E-es nya enak ya?'' Abdi memecahkan keheningan di antara mereka.


'' I-iya pak.'' Jawab Mita tersenyum.


Selesai dengan minum es kelapa. Abdi dan Mita tidak langsung pulang, mereka masih menikmati indahnya taman mini itu.


Abdi terus saja memperhatikan Mita. Entah sejak kapan dirinya ada rasa terhadap janda dua anak ini. Mungkin dirinya terlalu banyak menghabiskan waktu bersama dengan Mita selama dua tahun belakangan ini.


Abdi juga merasa kalau anak-anaknya sengaja mendekati dirinya dengan tetangga mereka di kampung dulu. Abdi juga tidak menolak dengan perjodohan yang di buat oleh anak-anaknya itu.


'' Mita.''Panggil Abdi.


Mita langsung menoleh ke arah Abdi. '' Iya pak. Ada apa pak?''

__ADS_1


'' Saya dulu tinggal di kampung halaman kamu, tapi saya tidak pernah kenal apalagi melihat kamu. Apa kamu juga pendatang baru di kampung itu?'' Abdi menanyakan tempat tinggal Mita.


'' Iya pak. Saya ke sana ikut mantan suami saya, yang sekarang entah kemana keberadaannya.''


Abdi merasa tak enak karena membahas tentang tempat tinggal Mita yang memang tidak perlu di bahas.


'' Maaf, saya tidak bermaksud untuk mengingatkan kamu pada mantan suami kamu dulu.''


'' Tidak apa pak. Mungkin ini sudah takdir saya yang menjadi single mom.'' Mita berucap dengan wajah tersenyum, tapi abdi tau bahwa senyuman itu bukan senyuman bahagia melainkan senyuman miris ketika melihat kehidupannya dulu.


'' Sabar ya Mit.'' Abdi mencoba memberi empati pada Mita.


'' Iya pak, terimakasih atas dukungannya. Huft, saya kira, saya tidak bisa lalui masa pahit itu karena saya berjuang seorang diri untuk menghidupkan kedua anak saya pak.'' Abdi hanya menyimak apa yang di ucapkan Mita.


'' Kamu wanita hebat. Kamu bisa menghidupkan kedua anak kamu sampai mereka lulus sekolah, sedangkan saya? Saya malah lari dari kenyataan. Saya telah menelantarkan anak-anak saya yang dulu masih membutuhkan kasih sayang dari seorang bapak.''


''Sudahlah yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kita fokus sama anak-anak kita Mit, kita harus bahagia sekarang sudah cukup dulu menderita nya.'' Abdi berkata dengan senyuman, Mita juga ikutan tersenyum saat melihat Abdi tersenyum.


Abdi berusaha keras untuk menetralkan perasaannya yang tak karuan. Dirinya hendak mengungkapkan isi hatinya, tapi lidahnya terasa keluh dan dia takut sakit hati kalau cintanya di tolak. Tapi, apa susahnya kalau kita mencoba, kalau kita belum mencoba bagaimana kita bisa tau kalau dia menerima atau menolak lamaran yang dia langsungkan untuk Mita.


Abdi mulai mengatur nafasnya dengan teratur. Ya.... Dia harus bisa mengungkapkan isi hatinya, diterima atau di tolaknya itu urusan belakangan yang penting dia harus mengutarakan isi hatinya.


Abdi kembali mengambil nafas dan menghembus nya. Sekarang dirinya lebih siap. '' Mit, saya mau berbicara sesuatu sama kamu.'' Rasa deg-degan itu memacu lebih cepat. Ini memang bukan kali pertama iya melamar wanita, akan tetapi perasaan ini sangat berbeda. Mungkin ini karena dirinya benar-benar mencintai seorang wanita yang ia kagumi selama dua tahun belakangan ini.


'' Iya pak. Bapak mau ngomong apa?'' Mita sudah siap mendengarkan ucapan yang keluar dari bibir Abdi.


'' Saya.... Saya.....''

__ADS_1


Drettttt...... Drettttt....... Drettttt.....


Belum sempat Abdi ngomong, tiba-tiba saja ponsel Mita berdering. Mita langsung merogoh ponselnya di kantongnya.


'' Siapa Mit?'' Tanya Abdi.


'' Andini pak.'' Abdi hanya membulatkan mulutnya.


Mita langsung berjalan ke tempat sepi, karena tempat mereka duduk sedikit berisik dengan suara musik yang berasal dari kafe yang terletak di sebrang jalan.


' Adohhh. Gagal maning, gagal maning. Kayanya aku memang tidak di takdir kan untuk bahagia.' Batin Abdi.


Mita kembali mendekati Abdi. Dirinya kembali duduk di bangku itu. '' Ada apa Mit?'' Tanya Abdi.


'' Andini menyuruh kita pulang dari belanja langsung ke rumah pak Wijaya, kita di suruh menginap di sana.''


'' Oke baiklah. Tapi sebaiknya kita harus membawa belanjaan ini kerumahnya dulu.''


'' Benar. Oh iya, tadi bapak mau ngomong apa? Maaf ya pak tadi ucapannya terpotong.'' Kata Mita merasa bersalah.


'' Ah tidak apa. Lupain aja, lagian itu tidak penting. Ayo kita langsung pulang aja, biar tidak kesorean sampai ke rumah pak Wijaya.'' Abdi mengajak Mita pulang dan Mita menyetujui nya karena apa yang Abdi katakan ada benarnya juga.


' Masih ada waktu berikutnya......' Abdi mencoba menyemangati dirinya sendiri.


Bersambung.......


Ini bab khusus untuk Abdi dan mita. KiraΒ² readers setuju gak kalau Abdi tak nikahin sama Mita? Atau Tara dulu yang nikah baru Abdi? Tapi umur Tara masih dua puluh tahun, takutnya akan berdampak buruk pada remaja sekarang yang mau nikah muda jugaπŸ˜œπŸ˜…. Duhh, jadi bimbang nih, mana dulu yang harus tak nikahin πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

__ADS_1


Jangan lupa vote dan hadiahnya ya gaes πŸŒΌπŸ’‹πŸ’‹πŸ’œπŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹


__ADS_2