Istri Simpanan Tuan Arga

Istri Simpanan Tuan Arga
bab 41


__ADS_3

Arga, Andini dan Tara mulai berjalan mengitari area pasar malam itu. Tara lebih memilih berpisah dari Andini dan Arga, karena dia ingin bermain sepuasnya dengan seluruh wahana dan permainan lainnya.


Mulai dari naik baling-baling hingga masuk ke rumah hantu, semua sudah di coba oleh Tara dan saat ini dia sedang membeli kerak telur, karena dari dulu hingga sekarang dia belum pernah mencobanya. Tara penasaran dengan rasanya, banyak yang bilang kerak telur enak ada juga yang bilang baunya, bau amis, maka dari itu dia memutuskan untuk mencobanya, karena penasaran dengan rasanya.


Dia sedang melihat sekitar dan akhirnya dia menemukan tukang kerak telur, lalu dia menghampiri tukang tersebut yang dengan bersamaan, pria paruh baya juga mendekati tukang kerak telur itu.


'' Pak, kerak telur satu, ya.'' ucap Tara maupun pria paruh baya itu bersamaan.


'' Yaa. Ini tinggal satu, Pak, Dek.'' kata penjual itu.


Lalu Tara dan pria itu saling bertatapan sampai akhirnya, Tara yang menundukkan kepalanya, karena tidak kuat melihat tatapan dalam yang di berikan untuknya.


'' Yaudah lah. Itu buat Om aja.'' kata Tara yang hendak pergi, namun langsung di cegah oleh pria baya itu.


'' Tunggu.'' katanya.


'' Ada apa, Om?'' Bingung Tara.


'' Buatkan seporsi, tapi di bagi menjadi dua bagian.'' kata pria itu kepada penjual kerak telur tersebut.


'' Baik, pak.''kata sang penjual, lalu dia langsung meracik kerak telur itu.

__ADS_1


'' Kita bagi dua saja kerak telur nya. Kebetulan saya tidak terlalu suka kerak telur.'' Kata Abdi. Ya, pria itu adalah Abdi. Dia memutuskan untuk ke pasar malam, mungkin dengan berjalan-jalan di pasar malam akan membuat pikirannya sedikit rileks.


'' Te-terimah kasih, Om.'' ucap Tara gugup. Dia merasa ada sedikit keanehan di dalam dadanya, saat bertatapan dengan Abdi, begitu juga Abdi. Dia merasa ada hubungannya dengan anak di depannya ini.


Tara dan Abdi langsung mengambil pesanannya, saat Tara hendak pergi. Tangannya langsung di cekal oleh Abdi, Abdi berniat untuk mengajaknya makan di bangku yang dekat dengan penjual popcorn.


Tara pun menyetujui ajakan Abdi dengan antusias, ntah apa yang ada di pikiran Tara, yang dengan mudahnya mau dia ajak orang yang tidak dia kenal.


Saat ini, mereka sedang memakan kerak telur. Abdi tak henti-hentinya menatap wajah yang familiar dengan seseorang. Wajah Andin dan Tara tidak begitu mirip. Wajah Tara lebih ke wajah ibunya, sedangkan Andin, wajahnya perpaduan antara ibu dan ayah mereka.


' Wajah itu. Dia begitu mirip dengan, Lena. Istri yang dulu aku tinggalkan begitu saja.' batin Abdi.


'' Eh. Disini kamu rupanya, dek, capek Mbak muter-muter nyariin kamu. Ayo pulang udah malam ini, besok pagi bisa-bisa kamu kesiangan bangunnya.'' kata Andini yang dari tadi sedang mencari keberadaan adiknya.


Lalu Tara dan Abdi mendongakkan kepalanya menatap Andini yang sedang memakan jajannya.


Degh!


'' Pak, Abdi.''


'' Andini?'' mereka bergumam bersamaan, saat mereka bertatapan.

__ADS_1


' Adik. Jangan-jangan, gadis ini, anakku, Tara Natasya. Yang delapan belas tahun lalu aku tinggalkan begitu saja.' batin Abdi bertanya-tanya.


'' Maaf Om, aku pulang duluan ya, Om. Soalnya bes-'' Tara tidak melanjutkan perkataannya, karena dia baru menyadari, besok hari Minggu yang berarti dia libur sekolah.


'' Mbak. Besokan minggu, Mbak. Mana ada sekolah buka di hari minggu, Mbak.'' kesal Tara, dia memanyunkan bibirnya.


'' Terus? Kalau besok minggu, kamu mau bangun siang? Gak bisa dong, kamu harus bantu-bantu Mbak beres-beres rumah.'' kata Andini santai.


'' Ck. Nyebelin banget jadi kakak.'' gerutu Tara.


Perdebatan kecil Tara dan Andini di saksikan oleh abdi, ayah kandung mereka. Tanpa sadar, Abdi tersenyum melihat keributan kedua putrinya itu. Putri yang sudah dia terlantarkan dan sekarang dia bertemu kembali dengan putra-putrinya, mereka sudah dewasa dan cantik-cantik. Abdi meneteskan air matanya. Dia menyesali perbuatannya dulu, kenapa dia tidak berpikir kembali, saat dia ingin meninggalkan anak-anaknya Abdi lebih memilih bersama Ibunya Rio.


' Maafkan Papa, Nak. Papa sudah gagal menjadi seorang ayah, Papa tidak pantas mendapatkan gelar seorang ayah. Papa begitu pengecut, Papa adalah papa yang kejam untuk kalian.' jerit Abdi di dalam hatinya, dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan amarahnya yang ingin meledak.


Tara Natasya



Bersambung....


jangan lupa vote dan hadiahnya ya gaess, biar Aku makin semangat terus buat nulis 😊

__ADS_1


__ADS_2