Istri Simpanan Tuan Arga

Istri Simpanan Tuan Arga
keadaan Andini


__ADS_3

Mobil Arga telah memasuki lobby rumah sakit. Arga dan kedua orang tuanya langsung turun dari mobil dan bergegas pergi untuk menemui Andin.


Mereka begitu panik mengingat kondisi Andin yang di kabarkan keadaannya yang sedikit serius. Sepanjang perjalanan Arga tak bosan-bosannya untuk mendoakan keselamatan istri dan calon anaknya.


'' Kalian pasti kuat, Pipi yakin itu.'' Batin Arga sedih.


Tiga hari sebelum kejadian. Andin dan Arga sedang bercanda ria. Andini ingin suatu saat nanti anaknya memanggilnya dengan sebutan ' Mimi dan pipi', tapi keinginannya di tentang keras oleh Arga, karena dirinya ingin di panggil 'daddy' sama seperti teman-temannya yang di panggil dengan sebutan itu oleh anak-anaknya.


'' Pipi yakin kalian berdua pasti kuat, bertahan lah untuk pipi.''


Arga dan kedua orang tuanya langsung menemui sang resepsionis untuk menanyakan ruangan Andin.


'' Sus, sus saya mau nanya. Ruangan atas nama Andini Kusuma Pratiwi dimana ya sus?'' Tanya Arga.


'' Sabar ya pak, akan saya cari terlebih dahulu. Mohon menunggu sebentar.''


Lalu suster mulai mengotak-atik komputer nya, setalah itu dia langsung menghadap ke arah Arga dan kedua orang tuanya.


'' Untuk ruangan buk Andini ada di nomor tiga kosong lima. Ruangan itu ada di lantai lima, pak.''


'' Terimakasih, sus.'' Lalu Arga pergi begitu saja.


Arga berjalan dengan tergesa-gesa, karena perasaan yang ada di dalam benaknya tidak bersahabat dengan pikirannya.

__ADS_1


Arga langsung memasuki lift dan dia langsung menekan tombol tiga. Arga terlalu kalut dengan pikirannya sendiri hingga dia lupa kalau kemari bersama kedua orang tuanya, tapi dia meninggalkan dua perih baya itu begitu saja.


'' Tiga kosong lima, tiga kosong lima.'' Arga terus mengingat-ingat angka itu, angka ruangan Andini di rawat.


Ting'


Pintu lift pun terbuka. Arga langsung keluar dari dalam lift dan bergegas mencari nomor kamar ruangan Andini di rawat.


'' Tiga kosong tiga. Tiga kosong empat. Eh ini dia.''Arga akhirnya menemukan ruangan Andini dirawat.


'' Rudi dan Sita kenapa tidak ada?'' Gumam Arga.


Arga langsung masuk ke dalam ruangan itu dan yang pertama kali dilihatnya seseorang yang sedang berbaring lemah di atas brankar rumah sakit dan disusuli oleh Rudi dan Sita yang sedang duduk di samping Andini berbaring.


'' Pak Arga.'' Sapa kedua pekerja itu.


'' Hmmm. Bagaimana dengan kondisinya?'' Tanya Arga.


'' Dokter bilang. Bu Andini hampir saja kehilangan janinnya dan untungnya bu Andini segera di bawa ke rumah sakit, kalau tidak bu Andini akan kehilangan janinnya.'' Jelas Sita.


'' Syukurlah. Kalau begitu, kalian boleh balik ke kantor, saya ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya atas kebaikan kalian.''


'' Yasudah kalau begitu, kami pamit undur diri dulu pak. Permisi.'' Pamit Sita dan Rudi.

__ADS_1


Sita dan Rudi akhirnya keluar dari ruangan dan berganti lah Arga yang berada di dalam kamar itu. Dia langsung mendekati Andini dan duduk di samping bekas kedua pekerja itu.


Arga mulai mengambil tangan Andini yang tidak di impus, lebih tepatnya di tangan kanan Andini. Arga mengelus-elus lembut punggung lengan Andini dan mengecup-nya dengan lembut.


'' Cepat bangun. Aku akan selalu ada di sisi mu.'' Ucap Arga.


Tangan Arga berpindah tempat menuju perut yang sudah mulai menonjol itu. Arga mulai mengelus-elus perut Andini dengan lembut dan sesekali mengecupnya.


'' Yang kuat ya di dalam perut mimi. Pipi dan mimi akan selalu menunggu kamu, sampai kamu besar dan tumbuh menjadi anak yang berbakti kepada orang tua ya nak.'' Arga terus mengajak ngobrol dengan sang anak walau masih di dalam kandungan sang ibunda.


Saat sedang berbincang-bincang dengan perut Andini. Tiba-tiba saja jari telunjuk Andini bergerak-gerak dan kegiatan itu di saksikan langsung oleh Arga. Arga langsung berdiri dan bergegas menekan tombol alarm darurat.


'' Mas.'' Ucap Andini lirih.


'' Andin?'' Balas Arga.


Arga langsung menoleh ke arah Andini, karena dirinya sedang membelakangi Andini.


'' Kamu sudah sadar? Mana yang sakit? Apa yang kamu rasakan sekarang? Ayo kasih tau aku, biar aku bantu untuk nyembuhin-nya.'' Arga melontarkan pertanyaan yang bertubi-tubi hingga mampu membuat Andini pusing ingin di jawab yang mana lebih dulu.


'' Aku udah gak apa-apa, mas. Aku sudah jauh lebih baik, mas. Aku mau pulang aja, aku ingin meminta maaf sama mbak Defi atas apa yang sudah aku lakukan padanya, mas.''


Jangan lupa vote dan hadiahnya ya gaes

__ADS_1


__ADS_2