
'' Dua hari lagi mbak Andini sudah boleh pulang.'' Kata dokter Hani setelah selesai melakukan pemeriksaan pada Andini dan baby Gai.
Andini hanya tersenyum menanggapi ucapan dokter Hani. '' Terimakasih dok.'' Ucap Andini.
'' Sama-sama mbak, kalau begitu saya izin keluar dulu dua jam lagi saya akan kesini untuk memandikan baby Gai.'' Kata dokter Hani.
'' Iya dok.'' Jawab Arga.
Dokter Hani keluar dari ruangan Andini dan sekarang di dalam ruangan Andini hanya berisi tiga orang, yaitu Arga dan Andini serta bayi mungil yang baru beberapa jam lalu telah lahir di dunia ini.
'' Nambah lagi statusku, sekarang statusku sudah ayah dan aku berjanji akan menjadi ayah yang baik dan patut untuk di tiru oleh baby Gai nantinya.'' Arga berbicara dengan Andini sementara Andini masih sibuk dengan memberikan asi kepada baby Gai.
Ini pertama kalinya dirinya menyusui seorang bayi saat put*ng itu di isap oleh mulut kecil itu ada rasa sedikit sakit bercampur geli yang menjalar di tubuhnya, tapi rasa itu dihiraukan oleh dirinya, sebab dirinya sangat bersyukur karena bayinya mau menyusu dari put*ng nya.
'' Uhh. Gembul banget pipinya sih nak.'' Andini menoel-noel pipi gembul Gai.
'' Ndiinnnn..... Aku juga mau di gituin.'' Arga langsung mendekati Andini yang sedang duduk di atas brankar.
'' Apasih mas, kamu ini gak tau tempat.'' Kesal Andini.
Arga hanya memonyongkan bibirnya. Baru beberapa jam Andini melahirkan sikapnya sudah berubah, gimana nanti kalau sudah berhari-hari bahkan berminggu-minggu atau berbulan-bulan ataupun bertahun-tahun gak kebayang rasanya pasti si Joni akan terlantar.
'' Kamu itu kok jadi judes sih?'' Kesal Arga.
'' Mas... sudah lah jangan ngajak berantem, aku masih lemes mas.''
'' Siapa yang ngajak berantem? Kamu aja yang bawaannya sensian.''
'' Sekarang kamu pulang mas, mandi habis mandi baru kemari lagi.'' Ucap Andini yang sudah meletakkan bayinya di sampingnya.
'' Tidak! Kalau aku pergi, kamu sendirian nanti disini.'' Tolak Arga.
'' Mas...''
'' Ndin....''
'' Ishh...'' Kesal Andini.
'' Jangan keras kepala Ndin, aku bakal pulang kalau mama sudah balik kesini lagi baru aku bisa tenang meninggalkan kalian disini.''
'' Terserah kamu aja.''
__ADS_1
Mereka langsung diam-diaman Andini sibuk dengan baby Gai, dirinya menjahili anaknya yang sedang tidur.
Sementara Arga sedang memainkan ponselnya dan tak lama suara nada dering berbunyi dari ponsel Arga.
Arga segera berdiri dan menjawab panggilan itu.
'' Halo!'' Sapa Arga.
' Halo pak Arga. Rumah bapak sudah siap tindakan renovasinya pak!' Lapor arsitek yang bekerja merenovasi rumah lama Arga.
'' Terimakasih.'' Balas Arga, lalu Arga mematikan ponselnya.
'' Kenapa?'' Tanya Andini.
'' Rumah lama sudah siap renovasi, jadi kita bisa tinggal di rumah ku.'' Kata Arga.
'' Mama gak setuju kalian pindah.'' Tegas Winda, dia sudah kembali dengan penampilan yang lebih rapi serta tas yang berisi perlengkapan bayi yang baru saja ia beli lagi tak lupa di tangan kanannya ada dua kotak bubur ayam yang sudah dibelinya sebelum ke rumah sakit.
Winda memasuki ruangan itu dengan bawaan yang penuh di lengannya. Andini mengodei Arga untuk menolong Winda untuk membawakan barang-barang yang ada di tangan Winda.
'' Dari tadi kek nolong nya.'' Winda langsung menghentakkan tangannya seraya untuk menghilangkan rasa pegalnya.
'' Yang bilang akan pindah hari ini siapa ma? Lagian gak mungkin kami akan pindah secepat itu, secara kami berdua belum ada pengalaman dalam mengurus bayi.'' Balas Arga.
'' Betul itu. Jadi kalian tunda dulu pindahannya.''
'' Nih, makan dulu dari tadi subuh kamu belum makan apa-apa pasti kamu sangat lemas habis melahirkan.'' Winda menyodorkan satu plastik kresek yang berisi dua kotak bubur ayam kepada Andini.
Andini menerima kotak itu lalu dia membukanya dan langsung memakannya.
'' Pulang lah Ga. Mandi, habis mandi baru kesini lagi.'' Perintah Winda.
'' Baiklah.'' Arga langsung berdiri dan bersiap-siap untuk keluar dari ruangan itu.
'' Mas...'' Andini memanggil Arga, lalu Arga membalikan badannya untuk menatap Andini.
'' Ada apa?'' Tanya Arga.
'' Nih, aku sudah kenyang. Kamu makan lah mas, pasti kamu juga sangat kelaparan.'' Andini menyodorkan satu kotak bubur ayam pada Arga.
Arga menerima kotak itu, segera ia buka kotak itu dan langsung melahapnya.
__ADS_1
Di ruangan itu terasa hening dan tak lama suara tangisan bayi mampu memecahkan keheningan di dalam ruangan itu.
'' Oek... oek..oek..'' Baby Gai menangis dengan sangat kencang dengan sigap Andini mengangkat tubuh sang anak, tapi saat ingin mengangkat tubuh anaknya, Winda sudah lebih dulu mengangkat tubuh sang cucu.
'' Istirahatlah. Mama yang akan menjaga Gai, kamu harus banyak-banyak istirahat agar asi kamu lancar.'' Winda mulai menimang-nimang sang cucu.
Lagi-lagi Andini terharu dengan perlakuan manis sang mertua terhadapnya, andai ibunya ada di sini, apakah ibunya akan melakukan hal yang sama seperti mertuanya?
Ah... ntah lah, Andini tak ingin terlalu memikirkan masalah ini, takutnya ia akan stres dan itu akan berdampak pada asinya.
Andini mulai berbaring dan menyelimuti tubuh dirinya. Dan tak lama ia langsung terlelap. '' Lihatlah, dia sangat capek sampai-sampai baru saja berbaring sudah tidur. Kamu jangan bikin dia tambah capek Ga, kamu bantu dia kalau dia ada pekerjaan. '' Nasehat Winda.
'' Iya ma, kalau begitu Arga pamit dulu ya ma.'' Arga langsung mencium kening Andini dan anaknya takuoa dirinya mencium pipi sang mama tercinta.
Arga langsung keluar dari ruangan itu dan tinggal lah Winda yang masih menimang-nimang sang cucu yang masih saja menangis.
'' Huusss... Gai, jangan nangis lagi nak, kasihan mimi kamu nanti kebangun.'' Tubuh Winda langsung di gerak-gerakannya agar bisa membuat Gai diam dari tangisannya.
Bukannya diam Gai malah semakin mengencangkan tangisannya. Hal itu membuat Winda panik, dia langsung menepuk-nepuk pelan belakang tubuh baby Gai. Saat sedang menepuk belakang baby Gai, tangan Winda terasa basah, segera Winda melihat'tangannya dan akhirnya dia baru menyadari kalau cucunya rewel karena sedang ngompol.
'' Oohh kamu pipis ya? Jahil banget pipisin omah.''.Kata winda sambil mencium tewas wajah Gai. Winda langsung meletakkan tubuh Gai di atas sofa yang sudah ada tas perlengkapan baby Gai.
Winda langsung membuka kain bedong bersama kawanan nya. Dengan lembut Winda mengganti popok yang basah dengan yang baru.
Setelah selesai Winda kembali menimang-nimang sang cucu, tak lama sang cucu mulai menguap dan dengan perlahan memejamkan matanya.
Winda langsung tersenyum. '' Sudah berapa lama aku tidak mengurus bayi, sampai-sampai aku tidak tau penyebab nangisnya Gai.'' Winda langsung meletakkan Gai di dalam tempat tidur khusus bayi ( apasih namanya, aku gak tau heheh. Pokoknya yang untuk anak bayi ituloh gaess, bantu jawab ya gaesπ€£)
Setelah selesai menidurkan sang cucu, Winda langsung menyusun pakaian Andini dalam lemari kecil yang sudah di sediakan oleh rumah sakit.
Bersambung.....
Jangan lupa like dan hadiahnya ya gengss π€π
Btw yang penasaran sama visual baby Gai ada di bab sebelumnya ya gaes π
Alvin Al Aarav Narendra
Ini untuk visualnya kekasih Tara. Udah cocok belum sih gaes?π
__ADS_1