
" Mbak. Ayo buruan, keburu kemalaman ni." teriak Tara dari luar pintu rumah mereka.
Andini berjalan tergesa-gesa menuju pintu keluar untuk menemui adiknya.
'' Sabar napa dek. Mbak lagi siap-siapan ni.'' omel Andini.
'' Mbak lama amat. Jam berapa ini mbak?'' Tanya Tara.
'' Masih jam setengah sembilan. Kenapa nanya?'' Andin balik bertanya.
'' Gak apa-apa. Aku aja yang bawa motornya ya, Mbak? Kalo mbak yang bawa lama.'' Ucap Tara.
'' Oke. Cus berangkat.'' Girang Andini. Lalu mereka meninggalkan rumah dan menuju pasar malam.
Arga memberikan satu kendaraan untuk transportasi untuk Tara sekolah, mengingat sekolahnya dari rumah Andini cukup jauh dan jarang ada angkot. Jadi Arga memberikan satu sepeda motor untuk di pakai ke sekolah.
Di rumah Arga. Nampak Defi sedang berdiri di balkon kamar. Nampak dia sedang berteleponan dengan seseorang siapa lagi kalau bukan, Rio.
Selesai teleponan. Defi langsung mengambil tas selempang-nya dan bergegas untuk pergi.
'' Sudah kuduga, pasti dia mau menemui Rio. Aku akan mengikuti Defi. Tapi kalau di pikir-pikir ngapain aku ngikutin Defi. Lebih baik, aku nyusul Andini aja.'' Gumam Arga.
Arga juga langsung bergegas untuk menyusul Andini ke pasar malam. Tapi sebelum dia bersiap-siap, dia menelepon Andini terlebih dahulu, agar dia menunggu dirinya sebentar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
'' Dek-dek. Berhenti bentar, ada yang nelepon ni.'' Kata Andini, sambil menepuk-nepuk pundak, Tara.
Tara langsung meminggirkan motor nya dan Andini langsung melihat, siapa yang nelepon dan ternyata yang nelepon adalah Arga. Andin bergegas mengangkat telepon Arga.
'' Assalamualaikum. Ada apa, mas?'' Tanya Andini.
'' Kamu sudah pigi?'' Tanya Arga dari sebrang sana.
'' Sudah, baru aja pigi. Ada apa, mas?'' Tanya Andini lagi.
'' Puter balik. Kita akan pergi bareng. '' Perintah Arga, tanpa peduli perasaan Tara yang sedang kesal mendengar perkataan Arga. Andini sengaja meng-speaker ponselnya dan pastinya Tara akan mendengarkan ucapan Arga.
Tara langsung merampas ponsel Andini dan bersiap-siap untuk memarahi kakak iparnya.
'' Halo, bang. Lo ya bang, main nyuruh puter balik aja, kami udah separuh jalan ni.'' Kesal Tara.
__ADS_1
'' Gak mau tau, kamu harus puter balik. Jangan banyak protes.'' Balas Arga.
'' Ck. Oke-oke lah.'' Malas Tara. Lalu Tara mematikan ponselnya dan menyerahkan ponselnya kepada Andini.
'' Ck. Nyebelin banget tuh Bang Arga, Kenapa gak dari tadi aja dia datang ke rumah.'' Gerutu Tara.
'' Sabar. Namanya istrinya bukan cuma, mbak aja, Tar. Kamu harus ngerti dong.'' Ucap Andini memberi pengertian. Memang Tara sudah tau, bahwa Andin dan Arga saat menikah, Arga sudah memiliki istri.
Dan akhirnya mereka muter balik ke rumah untuk menunggu Arga.
Di apartemen. Nampak Abdi sedang merenung dan pikirannya melayang-layang mengingat setiap perkataan Arga yang begitu menohok hatinya.
'' Apa yang di ucapkan Arga ada benarnya. Aku adalah Ayah terkejam di dunia ini. Aku sudah menghancurkan mana kanak-kanak anakku, karena keegoisan ku yang terobsesi dengan ibunya Rio. Anak-anakku yang jadi korban nya.'' Gumam Abdi.
Abdi dan ibunya Andin menikah karena di jodohkan dengan ibunya Abdi. Sebelum menjodohkan Abdi dan Lina(ibunya Andin). Abdi sudah lebih dulu memiliki istri, yaitu ibunya Rio.
Ibunya Rio dan Abdi sudah menikah lima tahun sebelum perjodohan orang tua Andini. Pernikahan orang tua Andin berlangsung, rumah tangga yang tidak pernah terbayangkan oleh ayah Andin. Hingga ibunya hamil dirinya, mereka belum memiliki cinta.
Hingga pernikahan itu masuk ke tahun ke empat. Mereka memutuskan untuk berpisah, namun ibunya Andini positif hamil. Abdi merasa anak yang di kandung ibunya Andini ini, anak sial. Karena dia terpaksa mereka menunda perceraian mereka.
Untuk ibunya, Andin sendiri. Dia sudah mencintai Abdi, akan tetapi cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Akhirnya dia memutuskan untuk berpisah, karena tidak sanggup hidup dengan pria tempramen seperti, Abdi ini.
Untuk ibunya Rio sendiri, sudah lama tiada, akibat kanker payudara yang deritanya sebelas tahun lalu. Hingga sampai saat ini tidak ada yang bisa menggantikan posisi ibunya Rio di dalam hatinya Abdi.
Sempat ibunya Andin ingin mengurus anak-anaknya, akan tetapi neneknya Andin menolak. Dia masih mampu untuk mengurus cucunya.
Hingga saat ini, ibunya Andin tidak ada kabar. Ntah kemana dia berada sekarang. Andini pun tidak tau, karena sudah dua puluh tahun lamanya lost contacts dengan ibunya.
'' Ada apa, pa?'' Tanya Rio malas.
'' Papa ingin menghentikan kerja sama dengan kamu. Papa tidak sanggup untuk melakukan kejahatan lagi kepada adikmu.'' Ujar Abdi.
'' Ck. Sudah ku duga, papa akan plin-plan. Yasudah aku matikan ponselnya jika tidak ada urusan lain.'' Rio langsung mematikan ponselnya secara sepihak.
'' Aku harus keluar untuk mencari udara segar. rasanya kepalaku ingin pecah dengan masalah ini.'' Gumam Abdi.
Lalu dia bergegas pergi keluar dari apartemen nya dan memutuskan untuk berjalan-jalan agar merilekskan pikiran nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
'' Bang Arga mana ni mbak? Lama banget, keburu tutup pasar malam nya mbak.'' Kesal Tara.
__ADS_1
'' Sabar Tar. Bentar lagi nyampe.'' Ucap Andin menenangkan Tara.
Mereka menunggu Arga di pinggir jalan, sudah hampir sepuluh menit lamanya.
Tak lama kemudian suara telekson terdengar di telinga mereka, mereka pun menoleh ke arah belakang dan mendapati mobil Arga.
Mereka langsung masuk ke dalam mobil tersebut dan Arga langsung menjalankan mobilnya.
Di dalam mobil Tara tidak berhenti-henti mengomeli Arga. Karena dirinya, mereka jadi agak kemalaman untuk ke pasar malam.
'' Gara-gara, bang Arga. Jadi kemalaman kita ini, kenapa tadi langsung pulang? Kalo kemari lagi.'' Omel Tara.
'' Bisa diem gak kamu, Tara? Abang tidak fokus nyetirnya, kalau kamu ngoceh mulu. Mbakmu aja tidak keberatan, benar kan, Andin?'' Tanya Arga menaik turunkan alisnya.
Andini tak menganggapi ocehan adik dan suaminya, karena dia sedang asyik memakan snack-nya. Yang di belinya tadi, saat menunggu kedatangan Arga.
" Mbak dari tadi aku liat nguyah aja. Gak kenyang-kenyang, mbak?'' Tanya Tara. Ntahlah, mungkin ini pengaruh kehamilan nya.
'' Tidak apa-apa dong. Biar mbak mu sehat dan calon keponakan-mu gembul, saat lahir.'' Bukan Andini yang menjawab melainkan Arga.
Tara membulatkan mulut nya. Dia begitu terkejut, saat tau kakanya sedang mengandung.
'' Mbak, hamil?'' Tanya Tara heboh.
'' Iya. Udah sebulan.'' Jawab Andini santai, sambil memakan snack-nya.
" Mbak kok gak ngasih tau aku sih?'' Kesal Tara cemberut.
Dia merasa kecewa, karena kakaknya menyembunyikan kehamilannya dari dirinya.
" Tuh mulut gak usah cemberut, mbak juga baru tau tadi siang, pas ke rumah sakit.'' Ujar Andini, dia tidak mau membuat adiknya kecewa.
...----------------...
Lima belas menit kemudian. Akhirnya mobil mereka sudah sampai di parkiran pasar malam. Parkiran itu sangat padat, karena malam ini malam minggu. Malamnya anak muda, jika ada yang punya kekasih pasti mereka jalan-jalan atau hanya sekedar mencari angin. Lain halnya dengan yang jomblo, mereka hanya bisa rebahan di kamar.
'' Kalian tunggu di sini. Aku mau beli karcis parkir dan tiket masuk dulu.'' Ucap Arga.
'' Ayo. Kita masuk sekarang, kalian bebas bermain wahana apa saja yang kalian inginkan.'' Kata Arga, lalu mereka masuk ke dalam pasar malam itu dan benar saja, sekali mereka masuk. Begitu banyaknya manusia-manusia yang sedang berlalu lalang di pasar malam itu.
bersambung...
__ADS_1
jangan lupa vote dan hadiahnya ya gaes 😊