
Andini tertidur dengan sangat pulas mungkin dirinya kecapean akibat bertempur dengan Arga.
Suara notifikasi dari ponselnya tidak mengindahkan pendengaran Andini, dirinya masih setia pada tidurnya sementara Arga sudah lebih dulu bangun dan membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa percintaan mereka setelah selesai mandi, Arga memutuskan untuk membeli sarapan untuk mereka.
Sudah sepuluh kali ponsel Andini berdering, hingga dering yang ke sebelas mampu membuat Andini terjaga. Dikucek nya matanya, lalu meraih ponselnya dan melihat siapa yang menelepon nomornya.
'' Tara?'' Gumam Andini saat melihat nama sang adik di balik layar ponselnya. Dengan segera di geser tombol itu ke warna hijau.
Tak lama terdengar suara Tara dengan nada panik. '' Halo mbak!'' Sapa Tara.
'' Hmm, ada apa Tar?'' Tanya Andini dengan suara khas baru bangun tidur.
'' Mbak lagi dimana?''
'' Masih di Villa, ada apa Tar? Apa disana lagi ada masalah?''
'' Emm anu mbak, aku cuma mau ngabarin kondisi ayah. Ayah lagi di rawat di rumah sakit.''
''Astaga. Ayah sakit apa Tar?'' Tanya Andini panik.
'' Kena sakit demam berdarah mbak, mbak kalau sudah menuju jalan pulang langsung ke rumah sakit aja ya mbak, soalnya semua orang di sini.''
'' I-yya. Gaishan gimana kabarnya Tar?'' Tanya Andini.
'' Alhamdulillah dia baik mbak. Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya ya mbak.'' Tara langsung mematikan ponselnya.
Andini langsung turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi diraihnya kopernya dan membereskan barang-barang yang dibawa Andini.
'' Mas Arga mana sih?''
Tak lama pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok Arga yang sedang menenteng kresek berwarna biru di tangannya.
'' Udah bangun?'' Tanya Arga.
Andini menganggukan kepalanya. ''Mas, kita harus pulang sekarang. Ayah sedang di rawat di rumah sakit mas, aku takut ayah Kenapa-napa.''
'' Baiklah, tapi sebelum kita berangkat kamu harus sarapan dulu oke? Pasti perut kamu minta di isi makanan itu.'' Arga mulai menyanyikan sekotak nasi goreng komplit dengan topingnya.
Selesai makan Arga dan Andin langsung pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan Andini hanya melamun memikirkan kondisi sang ayah yang dikabarkan sedang nge-drop.
Arga merasa kasihan dengan Andini, dia mencoba untuk menghibur Andini dari kesediaan yang di alaminya. Arga mulai menyemangati Andini dengan tidak terlalu memikirkan kondisi sang ayah.
'' Kamu jangan khawatir ya? Aku yakin ayah tidak akan kenapa-napa.'' Ucap Arga sambil menggenggam tangan Andini.
'' Aku kepikiran sama ayah mas.''
'' Tidak usah khawatir, ayah pasti sudah mendapatkan perawatan intensif dari dokter.''
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil Arga sudah keluar tol dan segera Arga langsung menuju rumah sakit. Hampir memakan waktu yang panjang untuk sampai ke rumah sakit yang sudah di sherlock oleh Tara.
__ADS_1
Dengan waktu yang hampir dua jam, akhirnya Andini dan Arga telah tiba di rumah sakit. Andini langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit, di tanyanya sang resepsionis untuk menanyakan ruangan Abdi.
Arga berlari mengikuti Andini ya g sudah lebih dulu meninggalkan dirinya saat masih di parkiran. Arga juga menelusuri setiap lorong rumah sakit, dirinya baru saja menanyakan ruangan sang mertua kepada resepsionisdan resepsionis-nya menjawab kalau ruangan Abdi berada di lantai dua dan ruangan tiga puluh.
Arga berjalan dengan perasaan cemas, dia mencemaskan kondisi Andini. '' Ndin, Ndin. Apa kamu tidak bisa menungguku sebentar?'' Tanya Arga saat dirinya sudah menemukan ruangan Abdi yang di luar ruangan sudah ada orang tuanya yang sedang menunggudi kursi tunggu.
Saat Andini tiba di ruangan Abdi. Dirinya langsung mengambil alih baby Gai dalam gendongan Mita. '' Humm, kangen banget mimi sama Gai.'' Ucap Andini yang dibalas cekikikan dari sang anak, karena Andini mencium lehernya.
Arga merasa heran. Kenapa mendadak Andini jadi santai, bukannya pas di parkiran dirinya sudah ketar-ketir ingin berjumpa dengan sang ayah. Tak ingin keponya tidak ada jawaban, Arga pun menanyakan kondisi Abdi.
'' Bagaimana kondisi ayah ma?'' Tanya Arga.
'' Sudah membaik, nanti sore sudah bisa keluar dari rumah sakit.'' Jawab Winda.
'' Terus? Kalau kondisinya sudah membaik, kalian kenapa nunggunya di luar?''
'' Pak Abdi sedang tidur . Jadi kami putuskan untuk keluar. ''
'' Emm, Arga mama mau bicara sama kamu. '' Lanjut Winda.
'' Ngomong aja ma.''
'' Apa gak sebaiknyapak abdi di bebaskan aja? Mengingat kondisinya yang sering sakit-sakitan, pasti akan sulit untuk pak Abdi yang sedang melakukan hukumanya.''
'' Kemarin juga udaharga bicarakan sama ayah, tapi dia tidak mau. Katanya dia mau keluar dari jeruji, mengingat dosanya pada anak-anaknya dulu.''
'' Coba kalian paksa kembali. Mana tau dia mau untuk di bebaskan. Emmm kalau begitu mama pulang dulu, sudahada kalian yang menjaga pak Abdi disini.'' Akhirnya Winda dan Wijaya memutuskan untuk pulangke rumah.
'' Tara lagi ngambil surat kelulusannya Ndin, palingan bentar lagi pulang.'' Jawab Mita.
Andini memutuskan untuk duduk di kursi tunggu sambil menggendong anaknya. Dirinya tak bosan-bosannya menciumi sang anak. '' Kamu kenapa ikut kemari nak? Hmm! Udah mandi apa belum ini?'' Andini berbicara kepada putranya, walau sang putra hanya membalasnya dengan geliatan-geliatan karena dirinya masih tidak paham maksud dari perkataan sang ibu.
'' Ayo kita pulang dulu, kita bersih-bersih dulu baru kemari lagi.'' Kata Arga.
Andini yang sedang bermain dengan sang putra langsung menatap Arga. '' Terus, yang jagain ayah siapa?'' Tanya Andini.
'' Bu Mita. Lagian kita gak lama kok.'' Arga mencoba meyakinkan Andini.
'' Benar kata nak Arga, kalian pulang lah biar ibu yang menjaga ayah kamu disini, palingan juga Tara sebentar lagi datang.'' Kata Mita yang ikut meyakinkan Andini. Andini mengangguk tanda setuju.
'' Kalau begitu Dini pulang dulu ya bu.'' Andini langsung menyalami tangan Mita yang diikuti oleh Arga.
'' Hati-hati.'' Peringat Mita.
Arga dan Andini langsung pulang dengan membawa Gai. Mereka langsung masuk kedalam mobil setelah sampai di parkiran, Arga langsung melakukan mobilnya untuk keluar dari area rumah sakit itu.
Di dalam mobil hanya terdengar suara sang anak yang sedang mengulum-ngulumkan bibirnya. Dan sesekali menjerit-jerit kecil. Andini merasa gemas melihat sang buah hati yang sudah satu hari tidak bertemu.
'' Kamu ngomong apa nak?''
'' Ceria banget nampaknya sih Gai, dari tadi gak bisa diem.'' Timpal Arga.
__ADS_1
'' Iya nih, mungkin seneng bisa jumpa kita lagi kali ya mas, hehehe.''
'' Mungkin lah.''
Saat Arga sedang menyetir, tiba-tiba saja pikirannya terlintas masalah pencabutan gugatan Abdi. dirinya langsung berbicara pada Andini mengenai pencabutan hukuman abdi.
'' Sayang, kita harus maksa ayah untuk mau di bebaskan. Kasihan dia, sudah tua penyakitan begitu.'' Kata Arga yang memulai pembicaraan.
'' Kamu benar mas, kita harus memaksa ayah. Aku gak mau sesuatu yang tidak-tidak terjadi sama ayah.'' Arga hanya mengangguk-angguk.
Perjalanan pulang mereka sedikit lebih berwarna, karena ada anak di antara mereka berdua. Gaishan termasuk baby yang sangat aktif, umur masih dua bulan tapi sudah bisa berceloteh dan lainnya.
Andini terus memperhatikan wajah Gaishan ketika sedang tidur. Saat baby Gai nangis, Andini langsung menyusui bayi nya hingga tertidur.
''Kasian, pasti dia capek. '' Kata Arga yang melihat sang anak tertidur.
'' Iya nih mas. Oh iya aku lupa, minggu depan hari pertama Gai imunisasi.'' Kata Andini yang sedikit membesarkan suaranya, yang mampu membuat gerakan pada sang anak akibat suara yang diucapkan oleh Andini. Andini langsung menggoyang-goyangkan tubuhnya untuk menenangkan sang anak.
'' Terus masalahnya apa?'' Tanya Arga kesal, dirinya juga terkejut saat Andini tiba-tiba saja meninggikan suaranya.
'' Aku belum ambil buku panduan imunisasi nya mas.'' Kata Andini.
'' Ngambil nya di mana?''
'' DI klinik dokter Hani.''
'' Mau sekalian ambil bukunya?'' Tanya Arga. Andini langsung mengangguk. '' Boleh mas, nanti di simpang empat itu belok kiri.'' Andini mulai memberi instruksi lokasi klinik dokter Hani pada Arga.
Saat sampai di depan klinik. Andini menyerahkan sang anak kepada Arga, dirinya turun dan berjalan mendekati klinik itu.
Saat ingin masuk kedalam. Andini tak sengaja berpapasan dengan dokter Hani yang ingin keluar. Andini langsung menyapa dokter Hani. ''Hai dok, gak nugas dok?'' Tanya Andini ramah.
Dokter Hani tersenyum melihat Andini. '' Tidak mbak, jadwalnya nanti sore. Emm, mbak kemari pasti ingin mengambil buku panduan imunisasi nya kan?'' Tanya dokter Hani.
Andini mengangguk dan tersenyum. '' Iya dok,'' jawab Andini.
'' Kenapa tidak dari semalam mbak?'' Dokter Hani langsung mempersilahkan Andini untuk masuk ke ruangannya.
'' Lupa dok.'' Jawab Andini. Padahal yang terjadi tidak seperti itu.
Dokter Hani hanya tersenyum, lalu dia memberikan buku pan6itu kepada Andini. Andini langsung mengeluarkan dompetnya untuk membayar buku panduannya.
'' Tidak usah di bayar mbak.''
'' Heh, kenapa dok?'' Tanya Andini bingung.
'' ini gratis. Mulai minggu depan Gaishan sudah bisa melakukan imunisasi.'' Ucap dokter Hani setelah berjabat tangan dengan Andini.
Andini mengangguk. '' Kalau begitu saya pamit dulu ya dok.'' Dokter Hani mengangguk.
Andini langsung keluar dari klinik itu dan berjalan menuju mobil Arga untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah.
__ADS_1
Bersambung......