
'' Setelah dua jam, mbak Andini sudah bisa memberi asi kepada putra mbak.' Kata dokter Hani.
Dokter Hani membaringkan tubuh bayi Andini di atas dada Andini. Andini begitu bahagia rasa lelah nya langsung sirna ketika melihat malaikat kecil yang berada di atas dadanya.
Bayi lelaki terlihat anteng di atas dada Andini. '' Anteng banget bobo nya.'' Kata Arga gemes. Saat anaknya lahir, dia baru sekali menggendong anaknya itupun hanya untuk mengadzankan juniornya.
Ada rasa takut ketika ingin menggendong sang putra mengingat tubuhnya yang begitu kecil dan yang pastinya masih sangat rentan.
'' Cucu Oma ganteng banget.'' Kata Winda yang sudah gemesh melihat sang cucu.
'' Kalian udah tentuin nama anak kalian?'' Tanya Wijaya.
'' Sudah pa. Namanya adalah, Gaishan Raffasya Al Hafis Wijaya yang memiliki arti. Laki-laki tampan yang memiliki kedudukan tinggi dan selalu melindungi banyak orang.'' Arga dengan bangga menyebut nama anaknya yang dari lajang sudah ia siapkan nama anak untuk anaknya kelak.
Waktu Arga masih bujangan, Arga berjalan-jalan ke taman dengan sang mantan pacar dan saat dirinya sedang berjalan menuju restoran, dirinya tak sengaja menubruk seorang anak kecil yang sangat tampan.
'' Eh maaf. Aku tidak sengaja.'' Kata Arga sambil membantunya untuk berdiri.
'' Tidak apa om.'' Jawab Anak kecil itu sambil tersenyum, dia membersihkan pakaiannya dengan menepuk-nepuk pakaiannya yang sedikit kotor akibat jatuh tadi.
Arga begitu gemas melihat aksi anak kecil di depannya yang berumur sekitar lima tahun, Arga jongkok untuk menyamai dirinya dan anak kecil itu.
'' Nama kamu siapa nak?'' Tanya Arga lembut sambil mencubit pipi anak kecil itu.
'' Gaishan Raffasyah om.'' Kata anak kecil itu.
'' Nama yang bagus, persis seperti wajah kamu.''Puji Arga.
'' Terimakasih om ganteng, kalau begitu Gai pigi dulu, dadah om ganteng.'' Anak kecil itu melambaikan tangannya dan Arga membalas lambaian anak kecil itu.
' Nama yang bagus, aku akan memberi nama anak itu untuk anak-anak aku nanti.' Batin Arga tersenyum sendiri.
Saat mendengar nama itu yang keluar dari bibir kecil anak itu di telinganya ia langsung menulis di buku catatan hariannya. Kelak nama itu akan aku pakai untuk anakku nanti.' Batin Arga.
Arga berniat memberikan nama anaknya Gaishan Raffasya Hafis Wijaya, yang artinya sangat cantik.
__ADS_1
Ingatan Arga berputar pada sepuluh tahun yang lalu, mungkin sekarang anak kecil itu sudah dewasa.
'' Nama yang bagus.'' Kata Wijaya dengan raut wajah yang terlihat sumringah.
Arga menatap lembut ke arah anaknya. '' Arga sudah lama menyimpan nama ini.''
'' Hmmm nama yang bagus, mudah-mudahan sifatnya bisa sebagus namanya.'' Kata Winda.
'' Amin.'' Kata mereka serempak.
'' Mama boleh gendong cucu pertama mama?'' Tanya Winda.
Andini mengangguk. '' Boleh ma.'' Jawab Andini. Winda langsung menggendong tubuh mungil itu dan sesekali menciumi wajahnya dengan gemas.
Andini hanya bisa tersenyum saat melihat wajah kebahagiaan yang terpancar di wajah orang-orang yang dirinya sayang. Dirinya merasa bersyukur karena tuhan telah mengirimkan dirinya pada keluarga uang yang begitu menyayangi dirinya layaknya anaknya sendiri, tidak ada kasih sayang yang di beda-bedakan antara anak dan menantu oleh Winda dan Wijaya.
Tak terasa air mata Andini menetes saat melihat betapa sayangnya Winda dengan cucunya, dengan cepat Andini menghapus air matanya dan kembali dengan senyuman manis nya. Tangan Andini di genggam erat oleh Arga, ternyata Arga melihat wajah sedih istrinya walau wajah sedih itu tidak lama ia perlihatkan.
'' Kamu kenapa menangis mimi?'' Tanya Arga lembut. Arga sudah mengubah nama panggilan itu menjadi Mimi sesuai keinginan Andini waktu hamil Gai.
'' Aku juga merasa seperti itu. Terimakasih kamu sudah mau hidup bersamaku, suka duka sudah kita lalui bersama. Aku merasa bersyukur karena tuhan telah mengirimkan lentera cinta di hatiku.'' Arga mencium punggung tangan Andini.
Tatapan mereka tidak beralih, mata mereka saling bertemu. Tatapan yang begitu dalam sehingga mereka tidak menyadari kalau mereka sedang di tonton oleh banyak orang, sampai suara batuk membuyar kan tatapan mata mereka.
'' Uhuk! Uhuk! Uhuk! Aduh gatel banget tenggorokan aku.'' Wajah Andini langsung memerah karena malu, Andini langsung menatap ke arah awan-awan rumah sakit itu untuk menghilangkan rasa malunya.
'' Mbak.'' Panggil Tara.
'' Hmm.'' Kini Andini beralih menatap Tara.
Tara langsung menghampiri Andini dan memeluk nya dengan erat, tak ketinggalan air matanya yang mampu membikin baju Andini basah.
'' Loh kamu kenapa nangis?'' Tanya Andini heran.
'' Waktu begitu cepat berlalu mbak, rasanya dulu kita baru aja main masak-masakan pakai tanah. Sekarang mbak udah punya anak aja.''
__ADS_1
'' Mbak jadi ibu dan aku jadi bibi. Mbak, mbak jangan lupain aku ya? Aku masih butuh kasih sayang mbak.'' Tara langsung menenggelamkan wajahnya di leher Andini, Tara menuangkan unek-uneknya selama ini.
Dirinya begitu takut kalau kakak sudah punya anak kasih sayangnya akan berkurang untuk dirinya.
'' Itu tidak akan terjadi. Sudah jangan menangis lagi, ini waktunya tidak tepat untuk menangis.'' Andini membalas pelukan Tara dan tak terasa air matanya juga menetes.
Mereka begitu terharu melihat kasih sayang antara adik dan kakak ini. Tara dan Andini, kakak adik yang begitu kompak, apabila Tara di buat nangis oleh seseorang maka Andini yang akan membalas orang itu, begitupun sebaliknya.
Mereka besar tanpa adanya campur tangan orang tua, tapi sifat yang mereka tanam dari belia melebihi dari anak-anak yang di ajarkan sopan santun oleh orang tuanya.
Sifat yang santun serta penurut itu yang mampu membuat mereka banyak di sukai orang-orang.
'' Sudah-sudah, jangan pada melow dong. Ini kan hari bahagia buat kita.'' Arga mencoba menghibur kakak adik ini.
'' Benar bang.'' Tara menguraikan pelukannya dan mengelap air matanya.
'' Tentu, abangmu ini tidak pernah salah.'' Arga berucap dengan penuh percaya diri.
'' Hoek! Pede banget jadi orang.'' Kata Tara yang seperti berpura-pura ingin muntah.
'' Gak pede gak hidup. Mandi sana Tar, kamu bau jigong. Rasanya aku gak sanggup mencium aroma terapi yang berasal dari pinggir bibir mu itu, Hoekk!'' Arga menutup hidungnya.
Tara begitu marah ketika dirinya di ledek oleh Abang iparnya. '' Ngerusak suasana banget.'' Kesal Tara, lalu dia mengambil ponsel dari saku celananya dan berkaca menggunakan layar ponsel miliknya.
Matanya langsung membulat saat melihat kerak di pinggir bibir nya, Tara langsung berlari menuju toilet untuk membasuh wajah nya.
'' Aku malu, aku malu.'' Katanya sambil berlari kecil.
Mereka hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat aksi konyol Tara, termasuk dokter dan para suster yang berada di ruangan itu.
Bersambung.....
Gaishan Raffasya Al Hafis Wijaya
__ADS_1