
Abdi dan Mita memutuskan untuk kembali ke rumah mereka, setelah acara mengungkapkan perasaan itu gagal Abdi di dalam mobil memilih untuk diam.
Mungkin dirinya memang tidak di takdirkan untuk bahagia. Ini kah karma yang harus di tanggungnya semasa dirinya muda dulu? Ntah lah hanya dirinya dan tuhan yang tahu.
Mobil sedan Corolla putih itu telah sampai di kawasan komplek perumahan Andini dan Arga. Mobil mini itu mulai masuk ke dalam kompleks itu dan mengendarai mobil itu menuju rumah mewah milik Arga dan Andini.
Abdi dan Mita keluar dari mobil setelah mobil Abdi sudah terparkir dengan anggunnya di parkiran. Abdi membawa paper bag itu ke dalam rumah Arga lalu menyusunnya ke dalam peti es atau kulkas.
Sembari menunggu Abdi menyusun belanjaan. Mita pun melakukan aktivitas kecil dengan menyapu lantai rumah itu agar ketika dirinya dan bos nya balik ke rumah, rumah ini masih bersih walau tak sebersih barusan habis di sapu.
Di rasa sudah siap semua. Abdi dan Mita memutuskan untuk meninggalkan rumah untuk berkunjung ke rumah Wijaya yang memang sudah menunggu keberadaan mereka.
'' Sudah?''
Abdi bertanya pada Mita yang baru saja selesai memakai pengaman mobil ( apa namanya author lupa)
Mita mengangguk.
'' Sudah pak.''
Mobil sedan itu pergi dari area kompleks elit untuk menuju ke kediaman keluarga Wijaya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Di rumah Wijaya.
Andini di bikin mumet dengan sang anak yang dari tadi tak bisa diem. Ternyata semakin besar anaknya semakin tak bisa diam.
Andini mengikuti kemanapun Gai pergi. Sempat tidur, tapi hanya dalam waktu dua puluh menit anak kecil itu kembali terbangun dan mulai dengan aksinya yaitu ngereog.
Andini tak henti-hentinya untuk mengingatkan agar Gai tidak terlalu aktif dalam bermainnya, walau dirinya tahu kalau dirinya mengasih tau itu berujung sia-sia karena sang anak tidak menggubris perkataan sang Mimi.
Saat Andini sedang duduk untuk menemani sang anak yang sedang bermain. Tiba-tiba saja seorang wanita paruh baya menghampiri dirinya. Mulanya Andini tak tau kedatangan Lena, sampai sebuah tepukan menghambur-hamburkan lamunannya.
'' Eh. ''
Andini sedikit terkejut saat tepukan pelan mendarat di pundaknya.
'' Ngelamunin apa sih?'' Kata Lena sambil tersenyum ke arah Andini.
'' Ndin. Ibu mau pamit pulang nih, udah malem soalnya, takutnya nanti kemaleman.''
Saat mendengar pamitan dari teman sang mertua. Andini langsung berdiri dan menyalim tangan Lena.
'' Cepet banget pulangnya bu? Kenapa gak menginap saja di sini, biar enak rame-rame, bentar lagi ayah sama bu Mita juga dateng.'' Kata Andini.
Lena tersenyum kecil. '' Tidak bisa Ndin. Pekerjaan om Dirga terlalu banyak, gak bisa di ajak menginap.''
__ADS_1
Andini merasa sedikit kecewa. Tapi rasa kecewa itu di tepisnya jauh-jauh. '' Yasudah bu. Ibu hati-hati di jalan ya?''
Andini langsung menggendong tubuh Gai walau anak itu sedikit memberontak akibat tidak setuju dengan gendongan dadakan yang di gendong ibunya itu.
Andini berniat untuk mengantar Lena sampai gerbang depan. Tapi tak sengaja dirinya bertemu dengan Mita yang dirinya yakini pasti baru sampai.
Mita tersenyum manis ke arah Andini dan Lena. Mita lalu menghampiri mereka berdua. '' Kenapa lama sekali bu?'' Tanya Andini.
''Macet tadi di jalan Ndin.'' Mita langsung mengambil alih gendongan Gai dari tangan Andini ke dalam gendongan dirinya.
'' Mau pulang bu?''Tanya Mita berbasa-basi kepada Lena yang sudah menyelempangkan tas nya ke tangannya.
'' Iya nih mbak, udah malem soalnya.'' Jawab Lena.
Mita tersenyum untuk menanggapi perkataan Lena. Lalu Lena memutuskan untuk pergi dari mereka tanpa adanya Andini yang mengantarkannya.
Saat Lena ingin pergi menjauh dari Andini dan Mita dirinya tak sengaja mendengar pembicaraan antara majikan dan baby sitter ini. '' Ayah mana bu?''
'' Pak Abdi lagi ngobrol di depan bareng pak Affan Ndin.''
' Abdi?' Nama itu. Apakah dia orang yang sama?
Ingin rasanya mendengar pembicaraan mereka berdua, tapi sebuah suara menggagalkan rencana dirinya. '' Sudah?'' Tanya pak Dirga. Lena mengangguk.
__ADS_1
Akhirnya mau tidak mau Lena harus meninggalkan Andini dan Mita yang sedang berbicara di taman belakang rumah itu.
Bersambung.....