
Abdi hanya tersenyum menanggapi cerita sang anak. Dirinya merasa, ini waktunya yang tepat untuk menasehati sang anak, karena waktu kebersamaan mereka dulu memang tidak pernah tercipta. Jadi Abdi tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menasehati sang anak.
'' Boleh ayah memberi saran?''
Tara mengagguk tanda setuju. '' Boleh.''
Abdi tersenyum. '' Bagaimana kamu menikah saja dengan Alvin. Eh, ini cuma saran dari ayah, tapi itu terserah kamu ya, kamu yang menentukan kehidupan kamu dan ayah, selaku ayah untuk kamu, ayah hanya bisa mendukung dan mendoakan agar kamu bahagia mau dimana pun itu setiap langkah kaki kamu berpijak.''
'' Tapi yah..... aku masih terlalu muda untuk menikah dan aku belum sanggup untuk menanggung semuanya.'' Keluh Tara.
'' Ya sudah kalau kamu gak mau. Ayah juga tidak memaksa akan hal itu, kalau begitu ayah mau jumpai mbak kamu dulu.''
Abdi beranjak dari tempat duduknya untuk menuju Andini dan Maya yang sedang bercerita.
Sementara Tara hanya melamun memikirkan perkataan sang ayah barusan. Apakah dirinya harus menikah di usia muda? Tapi dirinya belum sanggup membopong beban rumah tangga. Tapi kalau tidak seperti itu, dirinya pasti akan selalu salah paham dengan kekasihnya. Ahhhh pusingggg!!!!!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
'' Kalau begitu Aku pergi deluan ya yah bu!'' Kata Andin saat Abdi tiba di pembicaraan mereka. Andini tau alasan Abdi menemui mereka . Abdi memberi temeng kalau kangen dengan cucunya dan yang jelas bukan itu alasannya! Alasan yang tepat adalah ingin bertemu dengan sang pujaan hati, yaitu Maya.
'' Tapi Ndin...''
Maya tampak keberatan dengan Andini yang hendak pergi.
'' Aku titip Gai ya! Aku mau jumpai mas Arga dulu.''
__ADS_1
Andini langsung berlari meninggalkan mereka yang sedang menikmati malam yang hanya mereka berdua yang tahu rasanya.
Andini berjalan ke depan rumah untuk menyaring keberadaan sang suami. Saat berjalan ke halaman depan rumah. Mata Andini tak sengaja melihat ke arah Lena yang masih bercerita ria dengan sang mertua. Andini mencoba untuk mendekati mereka, Andini di buat pusing katanya Lena akan pulang, tapi dia kenapa masih ada di sini? Aneh bukan?
'' Mama? Dan bu Lena? Bukannya bu Lena mau pulang?'' Tanya Andini heran.
'' Niatnya sih gitu Ndin, tapi tuh liat mobilnya lagi ngambek. '' Lena berdengus kesal.
'' Bocor?'' Mata Andini tak sengaja menatap pada ban depan sebelah kiri yang sedang kempis.
'' He'em.'' Lena mengangguk.
'' Jadi gimana? Om Dirga nya mana bu? Jadi ibu tidak jadi pulang dong?''
'' Dia tidak boleh ketinggalan penerbangan ke London, karena besok pagi-pagi sekali om Dirga ada meeting penting dengan perusahaan di sana.'' Sambung Lena.
'' Emangnya mobil ibu tidak menyediakan ban serep?''
'' Tidak..''
'' Ya ampun.''
'' Ndin!'' Panggil Winda.
Andini menoleh ke arah Winda. '' Iya ma.''
__ADS_1
'' Tara mana?''
'' Ada di belakang Deket kolam.''
'' Bilang sama Tara. Bu Lina akan tidur di kamarnya dan ayah kamu dan Mbak Maya bisa tidur di kamar tamu.'' Kebetulan sekali kamar tamu di rumah Wijaya ada dua, jadi bisa untuk Abdi dan Maya.
Andini mengagguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam semakin larut dan seluruh keluarga sudah pulang ke rumah mereka masing-masing dan tinggal lah mereka yang menginap di rumah Wijaya.
Setelah satu hari yang melelahkan. Akhirnya mereka memutuskan untuk istirahat. Andini dan Arga telah bersiap-siap untuk ke kamar mereka begitu pun yang lain.
Saat hendak masuk ke rumah. Arga baru sadar bahwa ada yang kurang, dirinya tersadar kalau tidak ada anaknya saat ini. '' Sayang. Gai mana? Aku dari tadi tidak melihatnya.''
'' Masih di taman belakang rumah kayanya mas. Bentar, biar aku susul dulu.'' Andini mulai berjalan ke arah belakang rumah untuk menyusul sang anak, sementara Arga sudah dulu melesatkan kakinya ke kamar begitu pun yang lain.
Saat Andini hendak ke belakang, tiba-tiba saja Abdi dan Maya masuk ke dalam rumah dan tak ketinggalan sang anak yang mengekor dari belakang.
Andini langsung menggendong anaknya dan menciumnya dengan tanpa jeda. '' Ibu dan ayah, kata mama, kalian tidur di kamar tamu.''
Abdi mengagguk.
'' Kamar tamunya sebelah-sebelahan, jadi jangan takut kangen. Soalnya kalau kangen bisa langsung ketuk pintu kamar, hihihi.' Andini cengengesan sambil meninggalkan Abdi dan Maya yang sedang salah tingkah.
__ADS_1