
'' Halo bos. Bos, Abdi kabur bos.'' Lapor Alvin.
'' Hah? Bagaimana bisa? Kalian semua tidak becus menjaga satu orang pria tua!'' Geram Arga.
'' Maaf bos. Dia kabur lewat jendela yang ada di dalam gudang bos, tapi tenang aja bos, saya sudah mengerahkan seluruh anak buah saya untuk mencari keberadaan Abdi. Pasti dia tidak jauh dari sekitaran sini.''
'' Apakah kalian sudah mencarinya di apartemen nya?'' Tanya Arga.
'' Sudah bos. Saya juga sudah menaruh mata-mata di sekitar apartemen Abdi.''
'' Yasudah kalau begitu, saya tunggu kabar baiknya.''
Klik'
'' Kenapa dia bisa kabur?'' Tanya Arga pada dirinya sendiri.
Arga baru saja merebahkan tubuhnya di kasur empuknya, setelah melakukan perjalanan pulang yang cukup memakan waktu lama. Saat dirinya sedang lehe-lehe, dia mendapatkan kabar bahwa Abdi kabur dari sekapan yang sudah di jaga ketat oleh anak buahnya.
Dirinya langsung di buat pusing dengan kaburnya Abdi.
'' Kamu kenapa mas?'' Tanya Andini yang baru saja masuk ke dalam kamar setelah diri ya berkutat dengan alat dapur. Dirinya di suruh oleh Arga untuk membuatkan sebuah sup iga.
Andini langsung menaruh nampan berisi semangkok sup dan sepiring nasi dia atas malas laci samping ranjang mereka.
'' Pak Abdi kabur.'' Jawab Arga,dirinya sengaja tidak ingin membohongi Andini lagi.
'' Astagfirullah. Kok bisa mas? Jadi sekarang udah ketemu atau belum?'' Tanya Andini.
'' Belum. Tapi orang suruhan ku sudah mencarinya keseluruh tempat di kota ini.'' Ujar Arga.
'' Semoga saja cepat ketemu. Aku ingin bertemu dengan pak Abdi, aku mau meminta penjelasan tentang dia yang sudah menelantarkan aku dan Tara.''
'' Mudah-mudahan aja. Oh iya, mana sup yang ku minta? Apa sudah siap?''
__ADS_1
'' Sudah mas. Nih aku udah buatin sup iga yang kamu minta.'' Andini menunjukkan sebuah mangkuk kepada Arga. Arga langsung menghirup aroma sup yang sangat menggoda iman itu, dirinya benar-benar selera dengan wangi dari super buatan istrinya ini.
'' Hmmm. Sepertinya ini enak,tolong siapin aku. Tanganku masih sakit untuk di gerakan.''Percayalah itu hanya tipu muslihat saja yang sedang Arga mainkan, nyatanya tangannya tidak sakit dan pastinya dia hanya mau dimanaja-manja saja oleh istri tercintanya.
Andini mulai menyuapi Arga dengan sangat lembut. Arga hanya menatap wajah Andini dengan penuh cinta.
'' Hmm, ini sangat enak sayang. Aku sangat menyukai semua hasil masakan kamu.'' Puji Arga di sela-sela dia mengunyah makanannya.
'' Jangan berlebihan mas. Kamu makan lah yang nanya, biar kamu cepet sembuh.'' Tutur Andini.
Selesai menyuapi Arga, Andini turun ke dapur untuk menaruh piring kotor bekas Arga makan.
Saat berada di dapur, Andini tidak sengaja berpapasan dengan ibu mertua, yang kebetulan dirinya ingin membuat minuman.
'' Ma.'' Sapa Andini sambil tersenyum kecil.
''Hmm. Andini kebetulan banget mama bertemu dengan kamu di sini, ada hal yang sangat penting yang mau mama bicarakan dengan kamu.'' Kata Winda yang sudah memotong strawberry untuk d buat jus.
'' Ada apa ma?'' Tanya Andini.
'' Bahkan lukanya yang kecelakaan minggu lalu saja belum sembuh total dan ini, dia sudah mendapatkan luka baru.'' Sambung Winda.
'' Dan kamu tau kan, siapa penyebab Arga seperti ini?'' Tanya Winda.
'' Iya ma. Atas nama ayahku, aku minta maaf ma, aku tidak tau kalau dalang di balik kecelakaan yang terjadi pada mas Arga, itu ulah ayah. Aku minta maaf ma.'' Andini langsung menunduk dan meneteskan air mata.
'' Hey, sini tatap mata mama.'' Winda langsung mengangkat dagu Andini yang sedang menunduk.
'' Mama sangat senang melihat kedekatan dan kebersamaan kalian. Jujur mama tidak pernah melihat wajah ceria Arga, karena dulu ketika masih bersama dengan Defi, wajahnya selalu serius.''
'' Mama khawatir saja dengan nyawanya. Dirinya menjadi sasaran empuk ayahmu, untuk menghancurkan suamimu. Ayahmu sangat licik nak, dia hampir saja membikin Arga tiada di dunia ini. Dan perlu kamu ingat, ibu mana yang tenang ketika melihat nyawa putranya di permainkan oleh seseorang?''
'' Tentu tidak ada kan? Begitu juga mama. Mama tidak mau terjadi yang bukan-bukan dengan Arga.'' Winda langsung memeluk menantunya.
__ADS_1
'' Aku minta maaf ma. Karena ayah, mas Arga dalam bahaya. Aku minta maaf ma.'' Andini meneteskan air matanya ketika pundaknya di elus oleh Winda.
'' Sudah. Mama tidak mau membahasnya lagi, mama hanya minta tolong sama kamu, untuk tidak membuatnya terluka. Sudah cukup dia terluka dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh mantan istri dan sahabatnya, itu sudah membuatnya sakit. Mama mohon kamu buat dia bahagia, jangan pernah sekali-kali kamu khianati cinta yang sudah dia beli untuk kamu, karena mama lihat kebahagiaan Arga ada di saat bersama dengan kamu, Ndin.'''
'' Iya ma, aku akan membuat mas Arga bahagia semampu aku.'' Winda langsung mengurai dan langsung mengecup kening Andini.
'' Yasudah. Kalau begitu, mama mau ke atas dulu.'' Winda berlalu dari hadapan Andini dengan membawa segelas jus strawberry yang baru saja di buatnya.
Ucapan mama Winda masih saja terngiang-ngiang di dalam pikirannya, hingga dirinya tidak menyadari kU dirinya sedang menaiki tangga dan saat dia ingin menaiki anak tangga yang berikutnya.
Dirinya tidak sadar kalau dia salah menginjak anak tangga, dia menginjak ujung anak tangga, yang membuatnya tidak seimbang. Hal itu mengakibatkan dirinya hampir jatuh, untung saja tangan seseorang yang dengan sigap menangkap tubuhnya, kalau saja tidak ada tangan itu, ntah apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
'' Mbak!''Bentak Tara. Ternyata yang menangkap tubuhnya adiknya sendiri.
'' Mbak apa-apaan sih? Jalan kok melamun. Untung aja aku langsung nangkap tubuh mbak, kalau tidak mungkin mbak sekarang sudah tidak sadarkan diri.'' Omel Tara.
'' Maaf.'' Ucap Andini.
'' Mbak kenapa sih? Mbak habis ribut sama bang Arga?'' Tanya Tara yang sangat heran melihat gelagat kakaknya.
'' Tidak. Emm, Tar, mbak mau ngomong sesuatu sama kamu. Apa kamu bisa?'' Tanya Andini.
'' Bisa. Mbak mau ngomong di sini atau di....''
''' Di taman belakang rumah aja.'' Potong Andini.
'' Oke, ayo kita ke sana.'' Tara langsung menggandeng tangan Andini menuju taman belakang.
Andini dan Tara duduk di sebuah bangku yang tersedia di taman belakang rumah itu.
'' Ada apa mbak?'' Tanya Tara.
'' Mbak sudah menemukan ayah Tar.'' Kata Andini memalingkan wajahnya dari Tara.
__ADS_1
'' Apa? Dimana dia sekarang mbak? Aku ingin bertemu dengan ayah berengsekkk itu.'' Marah Tara. Matanya sudah memerah dan sudah berkaca-kaca.