Istri Simpanan Tuan Arga

Istri Simpanan Tuan Arga
Satu ruangan


__ADS_3

Tara langsung berjalan ke arah resepsionis dan langsung menanyakan keberadaan Arga sekarang.


'' Maaf sus. Saya mau nanya, kamar atas nama Arga Wijaya ada dimana ya sus?'' Tanya Tara.


'' Arga Wijaya yang korban kecelakaan itu ya?'' Tanya sang resepsionis.


Tara hanya mengangguk tanda benar. '' Iya sus.'' Lalu resepsionis itu langsung mencari nama data pasien yang ada di komputernya.


'' Ruangan atas nama Arga Wijaya ada di lantai empat nomor sembilan belas, dek.''


'' Terimakasih sus. Emm, saya boleh pinjam kursi rodanya sus?'' Tanya Tara lembut.


'' Tentu. Bentar ya biar saya ambilkan dulu.''


'' Ini.'' Suster itu memberikan sebuah kursi roda kepada Tara.


'' Terimakasih sus.''


'' Sama-sama.''


Tara langsung membawa kursi roda itu untuk menjumpai Andini yang sudah dari tadi menunggu dirinya.


'' Mbak. Ini aku bawakan kursi roda untuk mbak, biar mbak gak kecapean.'' Ucap Tara saat sudah di hadapan Andini.

__ADS_1


'' Terimakasih Tar. Oh iya, ruangan mas Arga dimana dek?'' Tanya Andini saat sudah duduk di kursi roda itu.


'' Ruangan bang Arga ada di lantai empat nomor sembilan belas.'' Jawab Tara dan bersiap-siap untuk menuju lift.


'' Mbak takut mas Arga kenapa-kenapa.'' Lirih Andini.


'' Mbak gak boleh ngomong gitu. Aku yakin bang Arga pasti gak papa, dia kan kuat.''


Ting'


Pintu lift terbuka Tara langsung mendorong kursi roda itu dan langsung mencari nomor kamar Arga.


'' Eh ini dia kamarnya, mbak.'' Girang Tara, setelah memakan waktu lima belas menit lamanya untuk menemukan ruangan itu, akhirnya dia menemukannya juga.


'' Eh tapi, itukan orang tuanya bang Arga. Kenapa mereka gak masuk ke dalam ya, mbak?'' Tara menyatukan kedua alisnya, dia bingung dengan orang tuanya Arga, kenapaereka tidak masuk kedalam, bukannya Arga sudah selesai melakukan operasi?


Tanpa banyak pikir lagi. Tara langsung mendekati kedua orang tua Arga.


'' Mama, papa.'' Panggil Andin.


Kedua paruh baya itu langsung menoleh ke arah sumber suara.


'' Andini?'' Gumam Winda dan Wijaya bersamaan.

__ADS_1


'' Kamu ngapain kesini, nak? Kondisi mu belum membaik.'' Tutur Winda.


'' Aku kepikiran sama kondisi mas Arga ma. Apa mas Arga baik-baik saja?'' Tanya Andini harap-harap dapet berita baik dari jawaban sang mertua.


'' Mbak, bandel tan. Tara udah capek bilangin untuk istirahat dulu, dia gak mau dengar.'' Adu Tara.


'' Andini-Andini. Kamu tenang saja nak, suamimu tidak Kenapa-napa. Kondisinya saat ini sudah stabil. Sekarang kita tunggu saja sampai obat bius itu habis. Baru kita bisa menjumpainya, tetapi itu hanya boleh di lakukan oleh seorang aja.'' Kata Wijaya.


'' Sekarang kamu balik saja ke kamar mu. Kalau nanti Arga sudah bangun, papa akan memberi tahumu.'' Sambung Wijaya.


'' Tidak pa. Aku mau di sini aja, aku mau nunggu sampai mas Arga bangun.'' Bantah Andin.


'' Tapi, Din, kondisi mu belum sepenuhnya pulih. Kamu jangan keras kepala ya, nak. Nurut apa yang papa bilang, ini semua demi kebaikanmu.'' Kini beralih Winda yang memberi pengertian kepada sang menantu.


'' Kalau begitu, satukan saja kamar rawatku dengan mas Arga ma, pa.'' Usul Andini.


'' Papa. Apakah papa setuju?'' Tanya Winda.


'' Yang dikatakan Andini ada benar juga ma. Kita akan satukan kamar Andini dan Arga,biar kita tidak repot harus berbolak-balik.''


'' Yasudah. Kamu tunggu di sini dulu, biar papa bilang sama pihak rumah sakit untuk menambahkan satu brankar lagi untuk kamu.'' Wijaya langsung menelepon salah satu manager rumah sakit, untuk minta persetujuan atas apa yang Wijaya mau.


'' Kata manager nya boleh. Kita nunggu disini saja, sebentar lagi para perawat akan membawa satu brankar untuk Andini.'' Ucap Wijaya, setelah sambungan telepon terputus.

__ADS_1


''Syukurlah.'' Gumam Andini senang.


__ADS_2