
Setelah selesai sarapan. Arga langsung bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, Andin pun mengantar Arga sampe depan pintu dan langsung menyalim punggung tangan Arga dengan lembut.
serrr!!
Seperti air yang tumpah dari ember itulah yang dirasakan Arga saat ini, tetapi Arga langsung tersadar dari pikirannya.
Hatinya berbunga-bunga, saat di perlakukan seperti itu, oleh Andin.
"Semangat kerjanya tuan." Ucap Andini malu-malu, nampaknya Andini sudah mulai berani ya!
" Hmmm, kalau begitu, saya pergi dulu. Kamu jaga rumah baik-baik"
Cup!
Sebelum benar-benar pergi, Arga menyempatkan untuk mengecupp kening Andini.
ππππππ
Seminggu sudah, Andini tinggal di kediaman Arga dan Defi dan tentunya rahasia mereka masih aman.
Sore ini, akan mengadakan makan malam bersama dengan mama dan papanya Arga. Mereka ingin mengunjungi anak dan menantunya, karena kesorean, jadinya M
Mereka ikut makan malam disini.
Andini sedang sibuk dengan dapur, dia sedang berkutat dengan alat-alat dapur. Saat sedang menggoreng ikan bumbu kuning, tiba-tiba saja mama Winda datang menghampiri Andini.
" Nama kamu siapa?" Tanya nama-Winda, dengan ramah.
Ternyata pikiran Andini terhadap kedua orang tuanya Arga salah. Dia pikir kalau, orang tuanya Arga itu sombong, ternyata berbanding terbalik dengan yang di pikirnya.
" Andini, nyonya." Jawab Andin malu-malu
" Oh. Sudah lama, kamu bekerja disini, Din?" Tanya mama Winda.
" Baru semingguan, nyonya." Jawab Andini sekenanya.
__ADS_1
" Jangan panggil, nyonya. Panggil 'Ibu' aja, oke?" Ucap Mama Winda.
Baik, bu." Balas Andini.
Tidak pernah terbayang dalam benaknya, untuk bisa masak bareng dengan mertuanya ini.
Saat Andini dan Mama Winda sedang asyik-asyiknya berbincang-bincang, tiba-tiba saja Defi datang dan menghampiri mereka yang sedang memasak.
"Mama, ngapain di sini ma? Udah biar ini, yang kerjai si Dini, Aja, ma. Mama gak usah bantuin, nanti mama kecapean." Kata Defi.
" Gak pa-pa, mama juga sudah lama tidak masak, kamu gak usah khawatir. " Ucap Winda agak kesal, memang mereka berdua tidak bisa di samakan, karena hubungan antara mertua dan menantu itu dingin.
Yaa... bisa di bilang kalau, Defi ini bukan tipe menantu idaman Winda, tetapi karena anaknya begitu sangat mencintai Defi, jadi mau tidak mau ia pun merestui hubungan mereka.
" Oh iya. Kamu itu harus belajar masak, biar suami kamu itu betah berlama-lama di rumah, jangan tau kamu itu hanya berdandan saja." Julid Mama Winda.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Defi langsung melongos pergi begitu saja.
" Selalu begitu, asal di nasihati tidak pernah mau di dengar." Dumel Mama Winda.
Akhirnya masakan mereka telah selesai, segera, Andini menghidangkan hasil masakannya di meja makan, yang sudah ada beberapa cemilan suci mulut lainnya.
Nampak begitu sederhana, tetapi rasanya luar biasa. Terlebih makannya bersama-sama, jauh lebih nikmat lagi rasanya.
Saat hendak makan, mendadak Mama Winda memanggil, Andini untuk ikut makan malam bersama.
'' Ayolah, Din. Silahkan duduk, kita makan bareng-bareng pasti rasanya jauh lebih nikmat.'' Ucap Mama Winda antusias
'' B-baik, bu'' kagok Andini.
Mereka pun makan malam bersama, saat sedang di sela-sela mengunyah makanannya, Mama Winda berbicara kepada Defi mengenai apakah dia sudah hamil apa belum.
'' Def!'' Panggil Mama.
__ADS_1
'' Hmmm.'' jawab Defi dengan malas.
'' Kamu, udah ngisi belum?'' Mama Winda mendadak menanyakan hal itu.
pertanyaan itu langsung membuat Defi terkejut dan dia langsung tersedak.
Uhuk!
Uhuk!
Uhuk!
Diraihnya gelasnya dan langsung menegaknya hingga kandas, di rasa sudah mendingan dia langsung beralih menatap sang mertua, lalu dia menjawab.
''Belum, Ma. '' Jawab Defi.
'' Kok lama banget? Sudah lima tahun kalian menikah, tetapi belum juga dapet garis dua? Apa jangan-jangan Kalian sengaja memperlambat punya anak, ya?'' Tebak mama Winda
Mama Winda langsung beralih menatap menantu dengan wajah heran, kenapa menantunya ini menjadi seperti kikuk atau salah tingkah seperti itu?'Pikiir Mama Winda.
'' Kamu kenapa, Def? Seperti gelisah begitu, atau memang jangan-jangan Kamu pakai, KB, ya?'' Tebak Mama semakin yakin.
sebelum Defi menjawab, sudah terpotong lebih dulu dengan Arga. ''Yaa. Gak mungkin lah, Ma. Ngapain Kami pakai kek begituan, kalaupun makai ya ga pa-pa juga kan?'' Tanya Arga.
Mama Winda bersungut-sungut kesal melihat Putra nya begitu membela Istrinya'' Belain aja teruss'' Sindir Mama Winda.
'' Sudah lah, Ma. Kita tidak perlu, mencampuri urusan rumah tangga mereka'' Ucap Papa menengahi.
Akhirnya, mereka melanjutkan makan malamnya dengan hati yang dongkol, terlebih antara menantu dan mertua itu tersebut.
bersambung....
Alhamdulillah masih di kasih kelancaran pikiran untuk bisa bisa menulis novel receh iniπ
jangan lupa like nya dan vote yaaπ
__ADS_1