
Keputusan Andini dan Arga sudah bulat untuk membebaskan sang ayah. Senin ini mereka sudah di kantor polisi untuk mencabut gugatan, mereka tidak perduli akan marahnya abdi jika dirinya tau kalau dirinya di bebaskan.
'' Pak, saya mau mencabut gugatan terhadap bapak abdi.'' Kata Arga kepada polisi.
'' Kenapa bapak ingin mencabut gugatan?'' Tanya polisi.
'' Saya rasa, hukuman untuk bapak abdi sudah cukup.'' Jawab Arga.
'' Baiklah. Saya akan membuat surat pencabut gugatan, setelah itu saya akan mengirim surat ini ke pengadilan negeri. Tunggu beberapa minggu untuk sidang pencabutan gugatan.'' Polisi itu mulai membuat surat.
'' Kira-kira kapan ya pak selesai proses nya?'' Tanya Andini.
'' Belum bisa di pastikan bu, kemungkinan besar bulan depan bu, itu juga kalau dari pengadilan nya tidak ada kendala.''
'' Ooh.'' Andini hanya membulatkan mulutnya.
'' Ini suratnya sudah siap, nanti pihak kepolisian yang akan mengirim suratnya kepada pengadilan negeri. Tunggu saja sampai kami memberikan informasi, baru bapak-ibu bisa kembali lagi ke mari.''
Arga dan Andini langsung berdiri dari duduknya dan berjabat tangan dengan polisi. '' Terimakasih pak.'' Ucap Arga dan Andini.
Polisi itu mengangguk.'' Sama-sama.''
Andini dan Arga keluar dari kantor dan memasuki mobilnya untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah sakit untuk melihat kondisi Abdi.
'' Mas.'' Panggil Andini.
'' Hmm.''
'' Kelamaan gak sih mas? Bulan depan baru bisa dibebaskan, itupun kalau dari pengadilan tidak ada kendala.'' Kata Andini.
Arga mengangguk. '' Iya, tapi sebaiknya kita serahkan semua ini kepada polisi, biar mereka yang ngurus. Kita hanya melakukan sidang aja.''
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Akhirnya mobil mereka telah sampai di kawasan rumah sakit. Arga langsung memakirkan mobilnya di lobby rumah sakit.
Mereka langsung turun dari mobil dan berjalan untuk masuk ke dalam rumah sakit.
__ADS_1
Saat mereka tiba di ruangan Abdi, Mita sudah memborong pertanyaan mengenai pencabutan Abdi. '' Bagaimana? Apa pak Abdi sudah bisa di bebaskan nak?'' Tanya Mita penasaran.
'' Belum bu, tunggu sidang keputusan dulu.''
Andini langsung masuk ke dalam ruangan Abdi. Dilihat nya kondisi sang ayah yang sudah lebih membaik dari sebelumnya. '' Apa kabar yah?'' Sapa Andini. Abdi tersenyum kala mendengar suara Andini, dia berusaha untuk duduk tapi itu tidak terjadi karena Andini melarangnya untuk duduk.
'' Ayah tidur aja.''
'' Kapan sampai nak?'' Tanya Abdi di sela-sela batuknya.
'' Baru aja. Gimana yah? Ada yang sakit?'' Andini mulai memijit kaki Abdi.
'' Tidak ada nak, ayah jauh lebih baik dari sebelumnya. Ayah mau ketemu sama cucu ayah, kamu gak bawa dia kemari?'' Tanya Abdi.
Andini menggeleng. '' Tidak yah, kasihan masih kecil udah di bawa ke rumah sakit, takutnya nanti virus-virus disini pada nempel ke tubuh Gai.''
Abdi hanya manggut-manggut saja. '' Ayah sudah makan?'' Abdi menggeleng. Belum nak.''
Andini langsung mengangguk makanan abdi yang terletak di atas makasih dan menyuapi makanan itu ke sang ayah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Khususnya pada sang putra yang makin kemari makin pintar dan ganteng. Abdi juga di nyatakan bebas dua tahun lalu dan sekarang dia hidup di apartemen miliknya.
Banyak perubahan yang terjadi. Arga dan Andini memutuskan untuk pindah ke rumah mereka satu tahun lalu. Tara tidak ikut dengan sang kakak, karena dirinya di tahan oleh Winda untuk tidak ikut dengan sang kakak. Winda mencari alasan dengan bilang kalau dirinya tidak ada teman kalau di rumah, jadi Tara memutuskan untuk tidak ikut dengan sang kakak, palingan hanya setiap minggu dirinya main ke rumah kakaknya untuk melihat sang ponakan.
Sekarang ini Arga dan Andini sedang berada di kantor. Arga menyuruh Andini untuk membawakan bekal makan siang untuknya. Andini dengan senang hati membawanya dengan sang putra yang ada di tengah-tengah mereka saat mereka makan siang.
Kehidupan keluarga kecil ini semakin berwarna karena sang anak yang selalu bisa membuat mereka tersenyum.
'' Gai mau pake ayam?'' Tanya Arga. Sang anak menggeleng.
'' Ndak! Jai mau ini.'' Gaishan menunjuk ke arah ayam yang ada di kotak rantang. Arga dan Andini menepuk keningnya, apa bedanya dengan yang di tawarkan oleh Arga barusan.
'' Kan sama aja Gai. Tadi pipi nawarin Gai yang ini juga.'' Kata Andini gemas.
'' Beda mi. Jai mau ang paha, butan ayap.'' Gaishan langsung menyomot ayam itu dari rantang.
__ADS_1
Arga dan Andini hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka mulai memakan makanannya, sesekali sang anak makan sambil bercerita tak jelas.
'' Makan gak boleh ngomong Gai.'' Peringat Arga.
'' Kanapa pi?''
'' Tidak sopan.'' Jawab Arga.
Andini mulai membereskan bekas makan mereka. Andini mulai menyusun kembali kotak rantang itu sesuai dengan susunannya.
Di lap nya meja yang penuh dengan nasi, karena Gai makan dengan berserakan. Andini membereskan bekas nasi sambil ngedumel, dirinya sudah seperti ibu-ibu pada umumnya. '' Udah besar Gai, makan masih berantakan begini.'' Dumel Andini, dirinya semakin hari semakin cerewet dengan sang anak.
Sementara sang anak tidak memperdulikan perkataan sang ibu, karena Arga sudah memasangkan headset di kedua telinga sang anak.
Gaishan duduk di pangkuan Arga yang sedang bekerja. Sesekali Arga mencium pipi sang anak, saat Arga hendak mencium sang anak lagi, bibirnya tak sengaja tersentuh oleh ingus Gai. Gaishan mengucek hidungnya, hingga mampu membuat ingus menyebar ke seluruh wajahnya.
Arga langsung mengelap bibirnya dan wajah sang putra dengan tissue basah. '' Gai sakit?'' Tanya Arga pada Andini.
'' Filek mas, semalem sore habis mandi hujan di belakang rumah. Udah aku larang malah nangis.'' Lapor Andini.
'' Yaudah pulang dari sini kita singgah ke apotik buat beli obat Gai.'' Andini mengangguk.
'' Sekalian kita beli pengaman untuk nanti malam. Udah lama nih gak enak-enak.'' Arga mengedipkan sebelah matanya.
''baru semalam kita gituan mas, udah di bilang udah lama. '' Kesal Andini, karena pembahasan Arga tidak jauh dari jungkat-jungkit.
'' Bagiku sejam tidak seperti itu sangat lama.''
'' AU ah mas.'' Andini keluar dari ruangan Arga untuk menghindari Arga yang sedang membahas tentang ranjjjang.
Arga hanya tertawa, untung saja sang anak ia pasangkan headset di kedua telinganya, kalau tidak pendengaran anaknya ternodai akibat ulah dirinya.
Sepanjang perjalanan Andini hanya bisa ngedumel akibat kemessuman sang suami, hingga Revan memanggilnya dia sampai tidak dengar. '' Buk bos.'' Panggil Revan. Tapi tidak ada jawaban.
Revan langsung melemparkan pulpen pada Andini baru Andini sadar dari dumelan nya. Andini membalikkan tubuhnya menghadap Revan. '' Ada apa bang?'' Tanya Andini.
'' Ada pak bos Arga di dalam bu bos?'' Tanya Revan.
__ADS_1
'' Ada.'' Andini langsung berjalan tanpa mempedulikan Revan yang melongo melihat kelakuan Andini.
'' Apa mereka sedang bertengkar?'' Gumam Revan.