
Arga terus saja memperhatikan tidur dua orang berharga bagi hidupnya. Kaki Andini dari tadi tidak bisa diam, dia kekanan dan ke kiri. Arga merasa takut kalau jahitan Andini bisa kebuka akibat Andini tidur tidak bisa diam.
Arga berinisiatif untuk mengikat kedua kaki Andini menggunakan kain gendong milik putranya. Arga langsung mengambil kain gendong dan dia langsung mensejajarkan kaki Andini, saat kaki Andini sudah sadar Arga langsung mengikat kaki Andini dengan sedikit kencang agar ikatannya tidak mudah lepas.
Selesai mengikat Arga langsung naik ke atas ranjang dan tidur di sebelah baby Gai, sebelum Arga tidur, Arga membenarkan tidur sang putra yang sedang tidur miring. '' Ibu sama anak sama aja, kalau tidur tidak bisa diam. Kamu masih bayi lo nak, tidurnya tidak bisa diam.'' Arga berbicara sendiri.
Setelah itu Arga ikut tidur bersama mereka. Dua jam Arga tertidur, tiba-tiba saja dia mendengar suara tangisan baby Gai, dia langsung terbangun dan melihat Gai. Segera Arga menggendong anaknya dan menimang-nimang sang anak.
Arga membawa sang anak ke balkon untuk mencari udara segar, tetapi Gaishan masih saja menangis. Hal itu membuat Arga bingung apa penyebab anaknya menangis.
'' Kenapa sih nak? Ada yang sakit?'' Arga berbicara sendiri. Arga terus menimang sang anak.
'' Haus ya?'' Arga langsung mendatangi Andini yang sedang tertidur pulas.
Arga langsung menggoyangkan lengan Andini. '' Ndin bangun, Gai haus nih.'' Arga masih saja menimang-nimang Gai.
Andini langsung bangun dan duduk. '' Kenapa mas?'' Tanya Andini sambil menguap.
'' Gai nangis. Kayanya haus deh, coba kamu susuin dulu.'' Kata Arga yang sudah memberikan Gaishan kepada mimi-nya.
'' Haus ya? Mau enen?'' Andini langsung membuka bajunya dan mengeluarkan puttting nya dan langsung memasukkan puttting nya ke dalam mulut Gai.
Andini juga menepuk-nepuk pantat sang anak dengan pelan, berharap sang anak mau tidur.
'' Gak tidur mas?'' Tanya Andini yang sudah mulai menguap.
'' Tunggu anaknya tidur, baru aku juga tidur.'' Balas Arga.
Arga mulai duduk di atas kasur tepat di samping Andini duduk. Arga perhatikan wajah Andini, dirinya bisa menebak kalau sang istri sedang kelelahan karena mengurus anak seharian.
'' Kamu capek?'' Tanya Arga.
'' Lumayan.'' Jawab Andini.
Arga langsung mendekati Andini dan memijat pundak Andini serta sesekali mengurut punggung bahunya.
'' Gak usah mas. Aku gak terlalu capek kok, kamu tidur aja besok kan ada rapat sama pak dirga.'' Kata Andini yang sudah menghindar dari pijatan tangan Arga.
'' Aku gak apa-apa Ndin. Kamu yang kenapa-napa, sudah jangan menolak, aku akan memijat kamu.''
Benar-benar suami idaman dan bapak yang siap siaga untuk sang anak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Matahari sudah mulai menunjukkan sinarnya, walau sinar itu masih malu-malu untuk dia tunjukan tapi sinar itu cukup membuat manusia di bumi tau kalau fajar telah tiba.
Andini langsung membuka gorden dan hal yang pertama ia lakukan adalah membangunkan suaminya.
'' Mas, bangun mas udah siang.'' Kata Andini yang sudah menggoyang-goyangkan tangan Arga.
'' Hoam. Udah pagi?'' Tanya Arga dengan mengucek matanya.
Andini mengangguk. '' Iya mas, udah jam setengah delapan. Kamu ada meeting jam delapan, jadi waktu kamu hanya setengah jam. Ayo mas cepat kamu bersiap, biar aku menyiapkan sarapan kamu.'' Kata Andini yang ingin turun.
Arga langsung duduk dari tempat tidurnya, saat ingin turun dirinya baru menyadari kalau sang anak tidak ada di sampingnya.
'' Gaishan mana Ndin?'' Tanya Arga panik.
'' Aku titipin sama mama, soalnya aku masih belum berani buat mandiin dia mas. Ayo cepat mas.'' Andini langsung turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan untuk sang suami.
Andini tidak melupakan kewajiban nya sebagai seorang istri, mempunyai anak bukan merubah kebiasaan dirinya untuk menyiapkan sarapan dan sebagainnya keperluan suami tercinta nya.
Andini langsung menuju dapur untuk membikin sandwich. Ya.. dia akan membuat sandwich saja, karena sangat simpel dan pastinya mengenyangkan.
Saat sedang membakar roti, Andini tak sengaja melihat bi Nem yang ingin menyuci piring.
Andini langsung teringat akan anaknya. Dia langsung menanyakan sang anak kepada bi Nem. '' Gai ada di mana bi?'' Tanya Andini.
'' Sama buk Winda lagi berjemur di taman belakang rumah mbak.'' Jawab bi Nem.
Arga yang sudah menunggu sarapan, langsung memakan sarapannya saat Andini mengantarkan sarapan untuk dirinya.
'' Papa udah pigi?'' Tanya Arga.
'' Kata mama, papa ada kerjaan di luar kota, jadi tadi pagi papa sudah berangkat ke bandara.'' Jawab Andini.
Arga hanya mengangguk saja. '' Maaf ya mas, aku cuman buat sandwich aja, soalnya aku gak sempet bikin nasi goreng.'' Kata Andini.
'' Santai aja.'' Balas Arga.
'' Oh iya, Gai mana?'' Tanya Arga saat sudah meneguk kandas susu buatan istrinya.
'' Sama mama di taman belakang. Sini mas, biar di pakein dasinya.'' Arga langsung berdiri dari duduknya. Andini langsung memakaikan dasi pada sang suami.
'' Sudah.'' Kata Andini saat dasi sudah terpasang rapi di kerah baju suaminya.
'' Aku berangkat dulu. Kamu jangan capek-capek di rumah. Ingat, kamu harus banyak-banyak istirahat.'' Pesan Arga.
__ADS_1
Dirinya langsung mengecup kening Andini dan langsung menuju garasi mobil untuk di pakai ke kantor. Andini melihat kepergian Arga dengan melambaikan tangannya.
Saat di lihatnya mobil Arga sudah tidak terlihat lagi. Andini bergegas menuju taman belakang rumah untuk menjumpai baby Gai.
'' Gai-nya rewel ma?'' Tanya Andini yang sudah mendekati Winda.
'' Tidak. Arga sudah berangkat?'' Tanya Winda.
Andini menganggukan kepalanya. '' Sini ma gantian, biar Andini yang jaga Gai, mama bilang mama ada urusan kan?'' Winda langsung menyerahkan baby Gaishan kepada mimi-nya.
'' Iya. Kalau begitu mama berangkat dulu ya?'' Kata Winda yang sudah mencium pipi baby Gai dan mengecup kening Andini.
'' Hati-hati ma.'' Teriak Andini.
'' Oek... oek...oek...'' Andini langsung terkejut saat mendengar suara tangisan baby Gai, dirinya benar-benar lupa kalau di dalam pelukannya ada seorang bayi yang sedang tertidur.
'' Cup.. cup. Maafin mimi ya?'' Andini langsung menimang-nimang baby Gai.
Merasa tangisannya tak berhenti, Andini langsung mengeluarkan puttting nya untuk di isap oleh sang anak.
Benar saja, baby Gai langsung terdiam saat Andini menjejeli puttting nya ke dalam mulut baby Gai.
Andini masih saja menimang-nimang sang buah hati. Saat dirinya menimang-nimang, tiba-tiba ada Tara yang datang di belakangnya.
Tara langsung menepuk pundak Andini dengan pelan. '' Mbak.'' Panggil Tara.
Andini langsung menoleh ke arah Tara. '' Ada apa dek?'' Tanya Andini.
'' Aku mau pamit pigi dulu mbak.'' Kata Tara yang sudah siap dengan tas ransel besar milik nya.
'' Oh iya, mbak lupa. Kamu hari ini perpisahannya kan? '' Tara mengangguk.
'' Maaf mbak gak bisa nganter kamu, soalnya mbak lagi...''
'' Gak apa mbak, lagian aku piginyaa sama kak Alvin. Kalau begitu aku pamit ya.'' Tara langsung menyalimi tangan sang kakak.
'' Hati-hati. Uang sangu nya udah?'' Tanya Andini.
Tara mengangguk. '' Udah mbak, bang Arga yang kasih.'' Jawab Tara.
'' Kalau begitu aku pergi dulu ya.'' Tara langsung meninggalkan Andini sendiri di taman.
'' Sendiri lagi deh. Untung ada baby boy ku yang ganteng ini, kamu temenin Mimi ya?'' Andini mendusel-dusel hidung sang anak dan mencium-cium pipi gembul Gai.
__ADS_1
Bersambung.........
Jangan lupa like dan hadiahnya ya gengss 🤗😁