Istriku Gagah Jelita

Istriku Gagah Jelita
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Di belahan dunia yang berbeda, Peter sudah kembali pulih setelah menjalani perawatan dari para dokter ahli. Sebagai pewaris satu-satunya keluarga Iriawan, tentu kesehatan Peter adalah prioritas utama bagi Bobi dan Clara, semua hal yang baik untuk Peter akan mereka berikan.


Termasuk permintaan Peter untuk mengunjungi Rey di Indonesia. Peter sangat ingin melihat kondisi Rey, rasa bersalah masih menghantui nya. Karena itu Peter membujuk ayahnya agar bisa mengunjungi Rey, tentu itu permintaan yang tidak mudah . Pak Panji sangat melindungi Rey, belum tentu dia mengijinkan Peter menemuinya.


Tapi karena desakan Peter yang terus menerus, maka akhirnya mereka pun datang ke kediaman Rey tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.


Bobi menghubungi Pak Panji saat mereka tepat berada d gerbang kediaman Rey. Dengan segala macam cara dan jurus negosiasi level Jendral akhirnya pak Panji luluh juga.


Keluarga Peter akhirnya diperbolehkan Pak Panji memasuki gerbang. Dari kejauhan Peter bisa dengan jelas menyaksikan di sebuah taman terlihat dua insan yang sedang tertawa bersuka cita, walau sang wanita terlihat sedang kesulitan karena tidak bisa menggerakkan kedua kaki nya, tapi dia terus berusaha bertumpu pada handle besi di samping kiri dan kanan nya agar bisa meraih pria tampan di depan nya. Sesekali wanita itu terjatuh, tapi dengan manja dia merajuk pada pria tampan di depan nya. Dengan telaten sang pria mengangkat tubuh ramping kekasihnya itu, agar bisa kembali tegak berdiri.


"Ryaaan.. aku lelah.. gendooong".


"Sekali lagi ayang... nanti aku kasih hadiah".


"apa hadiahnya? "

__ADS_1


"Kamu mau nya apa yang... " Ryan memeluk pinggang istrinya.


"Mmmmm..... jalan-jalan ke Mall aja deh ".


"Cuma itu doang... Keciiil ..ayo terusin latihan nya".


"Tapi Beneran lho.. jangan boong".


"Ishh.... kapan juga aku bo'ongin kamu yang, ayo istirahat dulu" Ryan menggendong istrinya menuju gazebo, dengan telaten Ryan memberi minum dan menyuapi Rey buah-buahan yang sudah terhidang di sana.


Rey mengangguk. Benar kata Arin, harusnya aku bersyukur karena banyak hikmah dari musibah ini, Mungkin beginilah cara Allah menggantikan waktu kebersamaan kami yang hilang selama tiga tahun. Sekarang Allah ingin aku menikmati kebersamaan ku dengan Ryan. Alhamdulillah ya Allah..


"Yang... kok melamun sii? "


"Ga papa kok.. aku cuma lelah aja".

__ADS_1


"Ya udah ayo kamu bobo siang dulu ya" .


Tanpa mereka sadari sepasang mata telah mengawasi kebersamaan mereka, air matanya meleleh tanpa permisi. "Seharusnya aku bahagia melihat kamu sudah bisa tersenyum lagi Rey, tapi kenapa aku merasa sakit Rey, aku masih berharap padamu "


"Peter.. ingat pesan papa.. kita ke sini mau minta maaf, bukan mau buat masalah baru". Bobi mengingatkan kembali anaknya, walau Peter bicara pelan, tapi Bobi masih bisa mendengarnya.


"Iya Pah.. ".


"Kita masuk dulu saja bertemu dengan Panji, biar nanti Panji yang meminta Ijin pada Ryan" . Bobi dan Peter pun menuju Ruang tamu, karena sudah ada Pak Panji yang menunggu mereka.


Bobi dan Panji adalah sahabat lama, mereka juga bersahabat dengan Jendral Danu, tanpa canggung mereka bernostalgia ke masa lalu.


"Panji... sebenarnya aku kemari ingin mengantar Peter, dia terus membujuk ku agar bisa datang kemari".


"Om.. ijinkan saya bertemu Rey, say ingin meminta maaf padanya om".

__ADS_1


"Hmmm... aku tidak punya hak untuk memberi ijin Bob, biar aku bicara dulu pada Ryan". Pak Panji pun berlalu menuju kamar Ryan.


__ADS_2