
Sudah 2hari Ryan dirawat di Rumah Sakit, Alex hanya berpesan pada Lily bahwa Ryan ada urusan bisnis ke luar pulau untuk beberapa hari, tentu saja lily percaya. Tapi lily tampak sedih karna untuk pertama kalinya Ryan pergi tanpa berpamitan ataupun tidak menelpon bahkan video call darinya pun tidak Ryan angkat.
Lily sungguh tidak tahu kalau sebenarnya Ryan sedang mengalami masa kritis di Rumah sakit, sudah 2 hari ini Ryan masih terbaring lemah karena kehilangan banyak darah. luka luka memar di wajahnya mulai memudar. Dengan penanganan dari dokter Andre luka luka itu cepat sekali pulih. Hanya saja luka tembak di lengan nya masih tampak basah .
Alex dengan setia selalu menunggu Ryan di Rumah sakit, sesekali Alex datang ke Rumah untuk memastikan lily baik baik saja.
"Alex kamu sudah tahu siapa orang misterius yang menolong kita malam itu?" tanya Ryan yang masih terbaring di kamar rawat inap nya.
"Maaf tuan kejadian malam itu begitu cepat, saya tidak menemukan jejak apapun mengenai orang itu" jawab Alex
Ryan kembali membayangkan sosok misterius penolongnya itu. Dia tidak bisa melupakan mata mempesona itu.
*********************
__ADS_1
Lily sedang termenung di taman belakang sendirian. Entah mengapa Lily sangat merindukan Ryan.
"Hai.. melamun ya" sapa Rey mengagetkan lily
"Aku mengkhawatirkan kakak ku Rey" ucap Lily dengan tatapan kosong
Rey yang sudah tahu kondisi Ryan yang sedang terluka, tidak mampu berkata kata.. Mungkin inilah yang dinamakan ikatan batin ucap Rey dalam hati.
Lily yang melihat cincin milik Rey tampak tertarik dengan ke unikan nya.
"Cincin yang bagus Rey., unik"
"Ini adalah cincin pemberian ayah ku, satu satunya peninggalan yang tersisa yang bisa aku kenang" ucap Rey sambil memandangi sebuah cincin bunga matahari berwarna kuning berkilau, sebenarnya itu adalah senjata rahasia yang khusus ayah buat untuk Rey. Dalam setiap ukiran bunga matahari tersebut ada mata pisau , di baliknya ada sebuah tombol kecil untuk mengeluarkan mata pisau jika dibutuhkan. Tentu saja senjata ini tidak akan mematikan musuh, hanya saja bisa menjadi pemecah konsentrasi musuh saat keadaan membahayakan Rey.
__ADS_1
"Rey sepertinya kamu sangat dekat dengan ayahmu ya"? lily memperhatikan raut wajah Rey yang tampak terluka.
"Tentu saja Lily, aku sangat dekat dengan ayah melebihi Siapapun. bahkan aku jarang melakukan banyak hal dengan ibuku, tapi aku bisa bermain seharian dengan ayah. walau kadang aku sering kesal karena ayah memperlakukan ku seperti seorang ank laki laki. Bahkan sewaktu ibu mengandungku ayah mempersiapkan nama Reyhan, tapi ketika ayah tahu ibu melahirkan seorang putri ayah tetap ngotot memanggilku Rey. " ucap Rey tersenyum miring
"Apa kamu tidak marah diperlakukan begitu Rey"?
"Awalnya aku tidak terima Lily, tapi suatu waktu ayah pernah berkata bahwa semua yang dilakukan nya karena rasa sayang nya pada putri satu satunya, ayah ingin aku menjadi seperti matahari, walau matahari itu tampak indah tapi sinarnya bisa mematikan, ayah ingin walau aku seorang wanita tapi aku tidak boleh lemah, aku harus seperti matahari.. " ucap Rey berkaca kaca
"Kamu beruntung Rey, sangat dekat dengan ayahmu, aku tidak memiliki kenangan apapun dengan ayah, selama ini ayah terlalu sibuk dengan bisnis nya. Satu satunya yang selalu menghiburku hanya kak Ryan" ucap Lily
" Hey.. kamupun orang yang beruntung sayang.. lihatlah kamu punya seorang Ryan yang sangat menyayangimu.. " ucap Rey menggoda lily
Kedua gadis itu tersenyum bahagia, , menikmati sinar matahari pagi, anugerah sang pencipta.
__ADS_1