
Begitu banyak hal yang ingin ibu Sri Ayu ungkapkan dan tanyakan, begitu juga dengan Rey dia ingin sekali memberitahukan kepada ibunya tentang ayah. Tapi karena kondisi sudah sangat malam bahkan hampir menjelang dini hari dan Rey tidak sanggup rasanya memberitahu kabar duka itu, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat. Saling melepas rindu tidur dalam pelukan ibunda tercinta.
Sebetulnya ibu Sri Ayu sudah mengetahui bahwa suaminya sudah meninggal, di malam itu ketika jendral Danu datang untuk menyelamatkan mereka, Ibu Sri Ayu secara tidak sengaja melihat Ayah yang sudah tidak bernyawa ketika ibu Sri Ayu akan di pindahkan dari gudang tua itu ke kediaman Arthur. Ibu hanya bisa meneteskan air mata tanpa bisa berbuat apa apa, tubuhnya yang masih lemah akibat luka bekas kecelakaan hingga membuat ibu Sri Ayu semakin tidak berdaya. Ingatan nya saat itu Hanya ingin tahu keberadaan Rey. Berulang kali ibu menanyakan keberadaan putrinya itu kepada anak buah Arthur yang ia temui, tapi selalu tidak mendapatkan jawaban.
Ibu mengira bahwa Rey masih belum mengetahui bahwa ayahnya sudah meninggal, Karena itu ibu pun tidak berani bertanya, khawatir akan membuat putri satu satunya itu histeris, karena Rey lebih dekat dengan ayah dibanding dengan ibu.
Di pagi harinya ibu segera menuju dapur, meminta ijin pada mbo Marni untuk membuat sarapan, dia sangat ingin membuat sarapan kesukaan putrinya, nasi goreng rendang pedas makanan favorit putrinya sudah terhidang di meja makan.
Rey datang ke meja makan sambil mendorong lily di kursi roda nya. Disusul dengan Ryan yang langsung duduk di kursi berdekatan dengan Rey.
Lily yang baru bertemu dengan ibu Sri Ayu sedikit heran dengan adanya sosok asing di rumahnya,.
"oh iya Lily, perkenalkan ini ibuku "Rey yang menangkap rasa heran di wajah Lily segera mengenalkan ibu nya.
"Oh tante.. Kenalkan namaku Lily, aku adiknya kak Ryan" ucap Lily sambil mengulurkan tangan hendak mencium punggung tangan ibu Sri Ayu.
"Oh iya lily.. cantik dan anggun ya" Ucap bu Sri sambil mengusap kepala lily.
"Ayo kita sarapan.. maaf ya tadi tante ijin membuat sarapan kesukaan Ana. sudah lama rasanya tidak masak buatnya" ibu Sri memohon ijin pada Ryan
"iya ngga apa apa tan.. Jangn Sungkan anggap aja rumah sendiri" Ryan tersenyum sambil menikmati sarapan nya
"Enak ya masakan tante,, pasti Rey juga jago masak seperti tante" ucap Ryan sambil melirik Rey
" Uhuk.. Uhuk.. " Rey keselek saking kagetnya
Dengan sigap Ryan memberi air minum milik nya. Sambil mengusap usap punggung Rey.
"kamu tuh ya, mentang mentang makanan favorit ,makan sampe keselek gini" ucap Ryan
__ADS_1
Ibu Sri dan lily saling berpandangan melihat Ryan yang begitu perhatian pada Rey
"Ih apaan sih.. lepasin ,nanti ibu mikir yang ngga ngga sama kita" ucap Rey menghindari tangan Ryan.
"Aku sih Seneng Seneng aja " ucap Ryan tersenyum jahil
" maaf ya tante.. kakak aku akhir akhir ini norak banget, kesambet bidadari yang baru dateng dari genteng" ucap lily sambil cekikikan.
" Iya ngga apa apa tante juga kan pernah muda dulu.. "ucap ibu Sri ikut tersenyum geli
Rey mendelik kesal pada Ryan dan lily yang seperti menyindirnya.
Sebenarnya Rey itu paling gak bisa masak. sekali kalinya masak dadar telor, malah berakhir tragis, telor itu berakhir di tong sampah dalam keadaan gosong. Dia memang selalu sibuk dengan ayah, setiap waktu nya pasti sibuk berpetualang dengan ayah.
*******************
"Bu.. apa ibu sudah tabu kabar ayah"? Rey menatap sendu wajah ibunya
" Iya sayang ibu sudah tahu" ucap ibu sambil menitikkan air mata
"Ibu maafkan Ana yang ngga bisa jaga ayah, ayah mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Ana" ucap Rey sambil menangis
"" Sayang.. itu semua sudah takdir, kita tidak bisa melawan nya. Ana harus bersyukur memiliki ayah yang sangat menyayangimu sampai rela mengorbankan nyawanya untuk kita" ucap ibu sambil mengusap lembut kepala putrinya.
"iya bu.. tapi bu.. apakah ayah dimakamkan dengan layak oleh mereka? " ucap Rey
penasaran
" Ibu juga ngga tahu an.. mereka tidak memberi informasi apapun, ana.. lalu bagaimana kamu bisa kenal dengan Ryan? " ibu penasaran
__ADS_1
Reyhana akhirnya menceritakan pertemuan. pertama nya dengan Ryan di gudang tua itu hingga akhirnya Ryan yang bersedia membantunya menemukan ibu.
"Sepertinya Ryan anak yang baik yah.. ganteng , pengusaha muda sukses pula!" ucap ibu sambil melirik Putrinya.
"Apaan sih bu.. ibu belum tahu aja kejelekan dia" Rey mendengus kesal membayangkan betapa menyebalkan nya Ryan dulu ketika
mereka baru bertemu.
Dipintu dapur Lily tampak memperhatikan kemesraan ibu dan anak di gazeebo halaman belakang, entah kenapa lily merasa iri melihatnya, tanpa sadar Lily meneteskan air mata.
Rey yang menyadari ada yang memperhatikan mereka segera datang menghampiri lily dan mendorong kursi rodanya mendekati ibu.
" Kenapa kamu menangis Lily? " tanya Rey heran
"Aku iri padamu Rey, kamu memiliki ibu, kamu bisa memeluknya, kamu bahkan bisa mencurahkan. semua isi hatimu dengan nya"!
" Lily sayang.. kamu jangan sedih, aku mau kok berbagi ibuku dengan mu.. bagaimana?" ucap Rey memegang tangan lily sambil duduk jongkok di hadapan Lily.
" Benarkah Rey? kamu serius? "
" Tentu saja.. kita kan sahabat" Rey bersungguh sungguh
"" Iya Lily.. mulai sekarang jangan panggil tante ya.. panggil ibu saja seperti Ana"! ibu sri Ayu meyakinkan lily
Lily sangat terharu dan memeluk erat ibu dan Rey.. mereka bertiga saling berpelukan.
Di lantai atas di balkon ruang kerja nya Ryan sedang memperhatikan interaksi ketiga orang wanita di halaman belakang, yang tampak sedang bahagia. tertawa sambil saling berpelukan
" Kamu sudah membawa kebahagiaan untuk kami Rey.. semoga aku bisa segera memilikimu" ucap Ryan tersenyum bahagia.
__ADS_1