
Masih di kamar Rey. Arin dan Rey belum beranjak dari balkon kamar. Kini Arin paham dengan kegelisahan yang di alami oleh Rey.
"Rey.. menurut kamu hujan itu baik atau buruk sih? "
"Ya tergantung dari sisi mana orang melihat lah".
"Maksudnya? "
"Ya misal kan bagi seorang petani, tentu hujan itu baik, karena dia butuh air untuk tanaman nya. Tapi mungkin bagi orang yang berada di daerah rawan banjir, hujan itu buruk karena bisa mengancam hidup nya".
"Lalu bagaimana hujan itu kalau menurut Allah Tuhan kita? " Arin bertanya kembali.
"Entahlah.. aku tidak faham".
__ADS_1
"Rey.. setiap pemberian Allah kepada hamba Nya yang beriman itu adalah Rahmat, bukti cinta kasih nya, salah satunya hujan. Lalu kenapa ada orang yang benci hujan? karena dia berprasangka buruk terhadap hujan, dia berpikir hujan lah yang mengakibatkan banjir, padahal jika dia mau berpikir jernih, maka sungguh yang membuat terjadinya banjir adalah ulah tangan jahat manusia,, bukan hujan" . Arin menjeda ucapan nya. Membiarkan Rey mencerna setiap ucapan nya.
"Begitupun dengan takdir mu Rey, saat prasangka buruk mendominasi hati kita, kita akan merasa bahwa apa yang Allah gariskan untuk kita itu adalah ancaman dan keburukan, tapi jika kita bisa berprasangka baik... in syaa Allah kita akan bisa berdamai dengan takdir,".
"Apa yang baik dari takdir hidup ku kini Rin?" .
"Sssstttt.. Rey sholihah... begitu banyak yang masih bisa kamu syukuri, setiap nafas yang kita hirup adalah rizki dari Nya, lihatlah di sekeliling mu, begitu banyak orang yang menyayangi mu, walau dengan cara yang tidak sesuai harapan mu, tapi itu adalah bukti kasih sayang mereka rey, kamu tidak kekurangan apapun Rey, justru kamu saat ini sedang dimanjakan oleh Allah, Dia ingin kamu beristirahat sejenak dan menikmati hari-hari bahagia mu dengan suamimu, Allah menyuruh mu beristirahat Rey.. bermanja dengan suami mu setelah terpisah selama tiga tahun. Kenapa tidak kamu gunakan kesempatan ini untuk bermanja dan memanjakan nya, ??"
Rey terdiam.. semua kata-kata Arin begitu meresap ke dalam hatinya, ya Arin benar Rey sudah banyak berprasangka buruk kepada Robb nya, kepada suaminya, dan orang disekitar nya. Dia terlalu fokus pada kesulitan nya tapi lupa bahwa masih banyak kebaikan dari Allah yang harus di syukuri nya.
"Apa kamu sudah menanyakan nya pada suamimu Rey? "
"Aku tidak berani.. aku... saat ini aku jarang berbincang dengan Ryan" Rey menundukkan pandangan nya.
__ADS_1
"Rey.. ketika ada berita dari luar kamu jangan memendam nya sendiri. Rosulullah mengajarkan kita untuk tabayyun, artinya mengecek kebenaran berita itu kepada orang nya langsung, Jangan langsung asal nuduh karena itu berbahaya , bisa menimbulkan banyak fitnah ".
"Baiklah Rin.. aku akan bicara langsung pada Ryan.. sepertinya selama ini aku memang sangat jauh dari nya, aku jarang bicara pada nya".
"Rey.. mulai dari sekarang coba berdamailah dengan takdir, pasti banyak hikmah yang akan kamu dapat".
"Aku akan berusaha Rin.. kamu jangan bosan ingetin aku ya.. " Rey memegang erat tangan Arin, seolah meminta kekuatan.
"Tentu Rey.. Oh iya aku bawa beberapa buku bagus nih.. kamu baca ya, daripada melamun mending baca buku, " Arin menyerahkan paper bag berisi beberapa buku pada Rey.
"Makasih Rin.. ".
"Sama-sama Rey.. nah sekarang sesi sedih nya kita tutup yah.. sekarng waktunya we time..aku ingin dandanin kamu biar bikin suami kamu makin lengket... Ayoo! " Arin mendorong kursi roda Rey menuju meja rias. Dengan telaten Arin melakukan sedikit touch up pada Rey, entah kapan terakhir Rey memakai bedak nya, sudah berminggu minggu, Rey hanya tampil ala kadar nya.
__ADS_1
"Nah sekarang kamu ganti baju yang paling bagus ya.. membahagiakan suami itu ibadah lho Rey.. ayo kamu harus tampil cantik malam ini! "
Rey dan Arin sangat menikmati kebersamaan di sore itu. Rey terlihat jauh lebih baik sekarang, raut wajah nya sudah kembali berbinar bahagia.