
Malam itu di apartemen milik Rey, tampak dua orang pria sedang menikmati secangkir kopi, mereka sengaja menghabiskan malam itu dengan ngobrol bersama, rencananya mereka dan Rey akan kembali ke Indonesia dengan memakai penerbangan pertama.
Setelah malam sebelumnya, Ryan bisa dengan mudah mengambil semua dokumen penting dari tangan Gwen, tidak ada alasan untuk menetap lebih lama. Setidaknya saat ini mereka harus mengambil langkah aman dulu.
Sementara kedua pria itu sedang asik ngobrol di ruang tengah, Rey terlihat sedang tidur pulas di kamar nya.
"Dam... aku penasaran akan sesuatu, boleh aku bertanya? "
"Tentu... silahkan".
"Sudah berapa lama kamu mengenal Rey? "
"Mungkin hampir sepuluh tahun, aku adalah ajudan ayah Rey, kadang aku juga sering menginap di rumah Rey jika Jendral Danu ada urusan ke luar kota...kenapa? "
"Apa pernah kamu punya perasaan lebih pada Rey? setelah selama itu kamu mengenal dan sangat dekat, apa kamu tidak mengagumi dan menyukai nya? "
"Hahaha.. kenapa emang Ryan, kamu sampai berpikir begitu? "
"Kamu tahu kan dengan mudahnya Peter dan Leon jatuh cinta pada Rey,, dan aku pun tidak butuh waktu lama untuk kembali mencintai nya, dengan segala kelebihan yang Rey miliki, rasanya sangat mudah membuat seorang pria menyukai nya".
__ADS_1
"Tentu Rey istimewa dimataku, aku juga menyukai nya, tapi kalau untuk jatuh cinta,,,, rasanya aku tidak senekad itu".
"Apa maksudmu? "
"Ryan... kemampuan Rey itu bahkan lebih dari ku, dia selalu menang dari ku dalam hal apapun... tentu aku tidak mau mati mengenaskan di malam pertama kami.... hahahhaa... maaf Ryan aku hanya bercanda".
Ryan menatap kesal pada Rey, sebenarnya Ryan hanya ingin memastikan bahwa Adam bukanlah saingan untuknya, Ryan sangat takut jika terlalu banyak Lelaki yang mencintai Rey. Apalagi dalam kondisi nya yang belum mendapatkan ingatan nya kembali.
"Apa ada orang istimewa di hatimu? "
"Tentu.. dan wanita itu bukanlah wanita seperti Rey, dia sangat lembut dan manja, dia juga sangat lemah, tapi justru hal itulah yang membuat aku ingin selalu di sampingnya dan menjaga nya". Ingatan Adam kembali mengenang Lily saat pertama kali bertemu, saat itu Lily sering datang ke rumah Rey untuk membantu persiapan pernikahan Rey dan Ryan.
Adam memandang Ryan. "Namanya Lily". Adam memperhatikan Ryan. Apakah dia mengingatnya?
Wajah Ryan tampak datar, tidak ada ekspresi apapun. "Nama yang bagus, sangat pantas kalau dia lembut, sesuai dengan namanya".
"Apa kalian sudah menjalin hubungan? "
Adam terlihat lesu. "Aku terlalu malu untuk mengungkapkan perasaan ku.. aku bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa, sedangkan dia... selain cantik dia juga seorang nona muda yang punya segalanya".
__ADS_1
"Apa dia menyukaimu? "
"Entahlah.. aku tidak terlalu percaya diri untuk mengungkapkan perasaan ku dan meminangnya".
"Setidaknya kamu bisa mendekati keluarganya dan mengambil hati mereka agar merestui hubungan kalian". Ryan menatap Adam seolah ingin memberi dukungan.
"Tentu.. itu yang sedang aku lakukan sekarang... hahaha". Semoga kamu merestui ku calon kakak ipar.
"Dam.. apa dulu Rey sangat mencintai ku? "
"Kenapa? .... kamu meragukan nya? "
"Ah.. Entahlah, saat aku bersama Gwen, aku bisa merasakan cinta dari sorot matanya saja, tapi selama kami bersama ..aku tidak melihat itu, bagaimana bisa dia menyembunyikan perasaan nya? Padahal aku suaminya".
"Rasa takut Rey lebih besar dari rasa cintanya".
"Maksud nya? " Ryan tidak mengerti.
"Ryan...saat kalian baru pulang bulan madu... di depan matanya kamu ditembak dan kepala kamu dihantam sampai kamu dinyatakan meninggal, Rey menderita selama tiga tahun, bukan hanya fisik nya tapi juga hatinya, Karena itu saat dia tahu kamu masih hidup dalam bayangan bahaya Leon dan Gwen dia berusaha mengesampingkan perasaan nya karena dia tidak mau kehilangan kamu lagi".
__ADS_1
"Oh my.....aku merasa sangat beruntung memiki nya". Ryan bergegas ke kamar Rey, entah kenapa dia sangat ingin memeluk istrinya itu.