
Hari itu Ryan harus melaksanakan meeting penting dengan klien nya, Adam yang sudah ditunjuk menjadi tangan kanan Ryan, tentu harus ikut hadir.
Sebelum pergi Ryan sudah mewanti wanti pada istrinya agar tidak melakukan banyak aktifitas, Ryan memastikan semua kebutuhan Rey sudah tersedia.
"Emangnya kamu pergi berapa lama siii sayang... ?" Rey merasa aneh tapi sekaligus senang dengan perhatian Ryan.
"Nanti malem aku pulang yaang". Ryan menyisir rambut indah Rey dan mengepang nya. "Sebenarnya aku gak mau pergi, tapi klien ku baru dateng dari Singapura , dan dia ingin bertemu denganku langsung.. kamu gak pa pa kan yang? ".
"Iiisshhh... itu udah pertanyaan yang ke sekian puluh deh.. I'll be Fine Honey.. di rumah ini banyak orang .. aku gak akan kenapa napa, kamu lebay amat sii". Rey cemberut manja.
"Aku bukan lebay.. aku cinta sama kamu, aku gak mau kenapa napa,,"
"Mulai deeeh... over protektif nya..aku gak suka".
Ryan memeluk erat istrinya, "jangan marah sayang, beginilah cara aku mencintaimu, cukup kamu menerima curahan cinta dariku...aku tidak bisa menguranginya,, kalau perlu justru aku ingin menambah nya ".
"Aku senang Ryan sayang... tapi aku merasa sikaf mu berlebihan".
"karena kamu pantas mendapatkan nya sayang.. aku bahagia memanjakan mu, menjagamu mu.. kamu mau kan aku bahagia? "
Rey mengangguk pasrah.
"Good girl..ayo kita sarapan dulu".
...💥💥💥...
Setelah Ryan pergi ke kantor nya, Rey pun segera bersiap siap, hari itu dia ingin melanjutkan misi nya, diajaknya Gwen, Mini dan Lily ke sebuah mall besar, tentunya tanpa sepengetahuan Ryan, karena Ryan pasti tidak akan mengijinkan.
Tanpa curiga Lily pun ikut saja, karena dipikirnya kakaknya pasti sudah mengetahui dan memberi ijin pada Rey.
Mereka pun tiba di sebuah Mall mewah, mereka langsung menuju wahana bermain demi untuk mengajak Mini bersenang-senang.
Tanpa sepengetahuan Lily, Rey pergi meninggalkan mereka di arena bermain, Rey menuju sebuah cafe yang cukup besar, hari itu Rey tahu dari Clara ibunya Peter, Kalau Peter sedang ada di cafe tersebut , dan benar saja, tampak Peter sedang berbincang serius dengan beberapa orang, Rey berpura-pura tidak melihatnya. Dia memasuki cafe dan mendekati meja yang bisa terlihat oleh Peter.
Tanpa sengaja Peter melihat Rey, dengan rasa aneh Peter menghampiri Rey. "Rey??.. kamu sendirian? " Peter melihat sekeliling.
"Oh.. hai Peter.. kamu Disini juga? ". ucap Rey seolah terkejut.
"Iya aku sedang bertemu rekan kerja".
"Oh.. silahkan dilanjutkan saja Peter,, jangan merasa terganggu karena aku".
"Tentu tidak Rey.. aku senang melihatmu Disini.. tapi apa kamu sendirian?". Peter merasa tidak yakin.
"Apa kamu mau menemani aku Peter".
"Tentu Rey.. dengan senang hati". Peter pun beranjak pamit pada rekan nya.
Yes... rencana ku berhasil, semoga kali ini sukses.
Mereka pun pergi menuju area bermain.
"Kenapa kita ke sini Rey?".
"Oh iya... aku lupa, tadi aku ke sini bersama Gwen dan Mini, kamu gak keberatan kan gabung bersama kami?".
Haiish.. damn... aku dikerjain lagi nih sama Rey. "Tentu Rey.. aku gak masalah kok" Peter tersenyum semanis madu. Menutupi kedongkolan hatinya.
Mereka pun tiba di wahana bermain, Gwen terlihat kaget melihat Peter . Sedangkan Mini sedang asik bermain perosotan ditemani Lily.
"Peter.. Gwen. ...ayo sana ajak main Mini, aku tunggu di sini yaa". Rey memberi kode ancaman dengan matanya pada Peter.
"Huuuh... baiklah". Peter dan Gwen mendekati Mini, sedangkan Lily langsung menghampiri Rey, merekapun meninggalkan Wahana bermain tanpa sepengetahuan Peter dan Gwen.
"Lily aku mau ke toilet dulu .. kamu tunggu aku di food court aja ya".
"Aku temenin ya Rey...aku khawatir kamu kenapa napa".
"Aku Gapapa kok.. kamu pesenin aja makanan buat Mini sekalian ya".
__ADS_1
"Oks"
Rey pun menuju toilet, tanpa disadarinya, ada seorang wanita cantik yang sedari tadi mengawasinya dengan tatapan penuh kebencian.
"Haiii cacat.... ketemu lagi kittaaa" Suara merdu itu mengagetkan Rey yang baru keluar dari toilet.
"Faniii? ".
"Lihat genkss..... masa iya Ryan yang sempurna bersanding dengan cewek cacat gini.. Pantes gk siii? " ucap Fani sambil mencibir .
"Noo..big noo..." Ucap ketiga teman Fani sambil mengelilingi Rey.
"lebih Pantes sama gue.. iya gak siii?"
"Cucoookk banget Fan... Lagian ni cewek Pede amat ya mau nerima Ryan". ucap Astri teman nya fani.
"Jangan-jangan dia di guna-guna lagi sama ni cewek kampung " .
"Gimana kalau kita kerjain aja Genks... Mumpung gak ada orang".
Dengan serempak ke empat cewek seksiih itu mendorong kursi roda Rey kesana kemari.
Baiklah sudah cukup mereka bersenang senang, giliran aku menghalau lalat lalat kecil ini.
Rey meraih tangan orang yang terdekat dengan nya, di pelintir nya tangan wanita itu sampai mengerang kesakitan. Melihat teman nya kesakitan Astri menyerang Rey, tapi serangan itu hanya ibarat angin lalu untuk Rey, di jambak nya rambut panjang Astri hingga menjerit."Aakrrggg"
"Apa lo bilang? gua nge guna guna Ryan? Hei ja*lang, gini gini juga gua tau, sihir itu perbuatan musyrik.. ". Rey menghempaskan tubuh Astri hingga terjerambah jatuh.
Rey memajukan kursi roda nya mengejar Fani, Fani melemparkan tas branded nya ke arah Rey.
"Dasar cewek preman, sepertinya kamu memang mantan preman ya Rey".Fani terus memukuli Rey dengan tas nya.
Direbut nya tas Fani dengan sekali tarikan, hingga Fani ikut tertarik dan dicengkramnya lengan Fani dengan kuat oleh Rey. "Lo bilang gua cacat hah!!!.. emang kaki gua cacat.. tapi lihat diri lo.. fisik lo memang sempurna tapi hati lo cacaaaat" Rey mendorong tubuh Fani hingga jatuh.
Tanpa Rey sadari kedua orang teman Fani mendorong kursi roda Rey hingga Rey jatuh terhempas dari kursi roda nya.
"Heii... kurang ajar , kalian apakan Rey? ". Peter segera menghajar kedua wanita yang tadi mendorong Rey.
"PLAAKK!!! Tamparan keras mendarat di kedua pipi wanita itu.
"Peter?? ". Fani begitu kaget melihat Peter sang cassanova yang digilai wanita itu ternyata juga mengenal Rey. dan Apaaa?? Peter membela Rey? ada hubungan apa mereka?
"Rey.. kamu gak pa pa? " Peter segera menggendong Rey menuju kursi roda, dia tidak punya pilihan lain karena Rey tidak mungkin berpindah sendiri .
"Maaf jika aku lancang Rey". Rey tidak berdaya, dia memang belum bisa menggerakkan kakinya.
"Terimakasih Peter".
Para pengganggu itu menjauh menghindari amukan Peter.
Tanpa disadari Rey. Fani mengabadikan momen singkat itu dan mengirimkan nya pada seseorang. Cih.... awas kamu Rey, sebentar lagi kamu akan mendapatkan hukuman dari suamimu.
Peter membawa Rey menuju food court yang ditunjukkan Rey, dia tidak mau Lily mengkhawatirkan nya.
Sudah tampak. Gwen, Mini dan Lily. menunggu mereka.
Tanpa mereka duga, tampak Ryan yang berlari dengan wajah yang sudah memerah menahan marah.
"Ryan?? " Rey merasa heran melihat suaminya yang berada di sana. Bukankah di sedang rapat penting?
"Rey.. Ayoo kita pulang, lily bawa kursi roda kakak iparmu... dan kamu jangan pernah mendekati ISTRIKU dan jangan pernah MENYENTUHNYA WALAU HANYA SEHELAI RAMBUTNYA... MENGERTI!! " Ryan berbicara penuh penekanan pada Peter".
Peter tak mampu menjawab Rey, dia terlalu mengkhawatirkan Rey yang pasti akan disalahkan oleh Ryan.
Apa Ryan melihat Peter menggendongku? ... jangan Jangan ini ulah Fani. Rey terdiam tidak berani bersuara, dia sadar dia bersalah karena pergi tidak meminta Ijin pada Ryan.
"Daddy... " . Mini mendekati Ryan yang sedang menggendong Rey.
"Mini sayang.. kamu main dulu sama mommy yaa.. nanti kalau sudah puas bermain baru pulang okee? "
__ADS_1
"Oke daddy".
Ryan meninggalkan Peter dan Gwen, Gwen masih kaget melihat Ryan sampai Semarah itu. memangnya ada apa?
Lily pun tidak mengerti apa yang membuat Ryan bisa sampai se emosi itu. "Kak.. ada apa sih? kok aku jadi gak enak gini? " Lily memberanikan diri bertanya saat berjalan beriringan dengan Ryan.
"Siapa yang ijinin kalian pergi hah!! " Ryan membentak Lily.
"Lho.. bukan nya Rey sudah ijin? " Lily merasa tidak percaya jika Rey bisa sampai senekad itu tidak meminta Ijin pada Ryan.
Rey merasa sebagai tersangka hanya diam. dia menyembunyikan wajah nya di dada bidang suaminya.
Hingga sampai kediaman Rey, mereka tidak bersuara. Ryan membawa Rey menuju kamar nya, dan langsung memandikan Rey.
"Aku tidak suka istriku digendong oleh lelaki lain, apalagi yang menggendong mu itu Peter, kamu keterlaluan Rey, aku marah, sangat marah ". Walau marah Ryan memandikan Rey dengan lembut, dia tidak ingin menyakiti istrinya.
"Sayaaang... tapi tadi ada kecelakaan kecil, Peter menolong aku".
"Kecelakaan apa? apa Peter sengaja mencelakai kamu? agar bisa menolong kamu dan menyentuh kamu? " Ryan sangat emosi.
"Tanya saja sama Fani, pasti dia kan yang kirim info menyesatkan sama kamu..kalau kamu lebih percaya sama dia ya sudah...". Rey menepis tangan Ryan yang sedang membantu nya memakai baju.
"Aku memang salah pergi tanpa ijin padamu, tapi bukan berarti kamu bisa menuduh aku seenaknya gitu dong Ryan". Kini malah Rey yang baik emosi.
"Lho kok.. kenapa jadi kamu yang marah sih? "
"Mana laptop kamu? ". Rey menghampiri meja kerja yang berada di kamar nya. Ryan menyerahkan laptopnya pada Rey.
Dengan cekatan Rey meretas CCTV di mall tempat kejadian pembulian terhadap nya. Dalam hitungan menit Rey sudah berhasil merekam kejadian di dekat toilet itu. Rey menyerahkan laptop itu pada Ryan.
Ryan begitu geram melihat Rey diperlakukan kasar oleh Fani dan teman nya. "Kamu gak terluka kan sayaang??" Ryan memeriksa tubuh Rey dengan teliti.
"Telat deh... tadi aja marah-maraah". Rey pergi meninggalkan Ryan.
"Sayaaang... maaf kan aku yaa, aku tadi emosi banget". Ryan mengejar dan memeluk Rey menghujani pipi istrinya dengan kecupan.
"iya.. iya... aku maafin, tapi kamu juga maafin aku yaa,, soalnya aku juga salah ". Rey tersenyum semanis mungkin demi mendapatkan maaf dari Ryan.
"Mmm... tidak semudah itu sayang, kamu sudah membuat kesalahan besar hari ini, rapat aku terganggu, dan kamu pergi tanpa ijin.. so... kamu harus aku hukum".
"Apa hukuman nya?" Rey menanggapi dengan santai.
"Pertama kmu gak. boleh pegang HP selama Seminggu kedepan.. ".
"WHAAT? " Rey kaget karena hukuman nya tidak sesuai bayangan nya.
"Kedua.. mulai sekarang kalau kamu keluar rumah tidak boleh pakai celana panjang lagi, harus pakai gamis atau rok.. titiiik".
"Lhooo.. kokkk... hukuman nya gitu siii... kok gak kaya di novel onlen sii ayy hukuman nya".
Ryan mengerutkan dahinya. "Emang hukuman d novel gimana ?".
"Yaa.. si istri harus melayani suaminya di kasur aay".
Ryan menyentil dahi Rey, "Yang namanya hukuman itu harus bikin kamu jera dong yang, kalau kamu melayani aku di kasur itu mah bukan bikin jera, tapi bikin kamu ketagihan... hahaha... " Ryan mencubit hidung Rey.
"Yeeey...siapa lagi yang ketagihan coba". Rey gak terima.. padahal dalam hati emang iya sih.
"Rey sayaaang.. melayani suami itu bukan sebuah hukuman tapi sebuah kewajiban". Ryan mengelus rambut Rey mesra.. " Ayo kita mulai melaksanakan kewajiban ". Ryan langsung melancarkan aksinya.
"Tuh kan.. tuh kan... mulai. deh.. aku lapar ay... dari tadi belum makan... kamu siih, aku udah mau makan di mall tadi malah main bawa aja". Rey cemberut kesal.
"iya maaf... ayo aku masakin buat kamu, ". Ryan dan Rey menuju dapur.
...💕💕💕...
Finally.. for the first time.. othor bisa menulis hampir 2000kata, penuh perjuangan.. demi memenuhi keinginan para Readers kesayangan. Keinginan kalin satu persatu thor penuhi ya, buat yang minta Rey cepet sembuh, harap sabar yaaa, Biar Rey bermanja dulu dengan Ryan, dan biar dia istirahat sejenak.
pokoknya novel ini bakal happy ending, thor gak suka sad ending,, sabar aja yaa.. yang penting minta dukungan nya doong.. komen yang banyak, like dan vote juga .
__ADS_1