
Pagi itu perut Rey terasa sangat perih, tentu saja! Sudah berhari hati Rey tidak mengisi perut nya. Rey bangkit membuka pintu kamar, rupa rupanya selama ini dia tidak dijadikan tawanan oleh pemilik rumah. Lebih tepatnya Rey memenjarakan dirinyi sendiri di kamar itu. Rey senyum senyum sendiri.
Tepat dihadapan nya ada sebuah halaman belakang yang sangat luas, di tengah taman ada kolam renang yang dikelilingi oleh hamparan bunga aneka warna. Tidak jauh dari sana ada sebuah gazeebo dengan hiasan ukiran yang klasik menambah kesan mewah dan indah. Hmmm... sangat sejuk dan menenangkan melihat nya. Sebelah kanan ada sebuah rumah besar mewah berwarna putih. Rupanya kamar yang Rey tempati adalah bangunan yang terpisah dari rumah utama. Tampak berjejer beberapa pintu kamar disamping kamar Rey. Rey segera bergegas menuju rumah besar itu.
Rey melihat sosok seorang wanita tua di dalam dapur, sepertinya dialah yang mendatangi Rey beberapa hari yang lalu
"Permisi bu" sapa Rey
Mbo Marni kaget dan langsung menoleh ke arah Rey.
"Eeh copot.. Eeh copot" latah nya
"Eeh si enon bikin kaget sajaa" seru mbo marni
"Hehe.. maaf bi"ujar Rey cengengesan
"Akhirnya putri tidur bangun juga ya" sindir mbo Marni sambil tersenyum
"Pasti non lapar ayo makan dulu"Ucap mbo Marni sambil menyodorkan sepiring nasi goreng
"Kok tau sih bi" ucap Rey sambil senyum manis
" Panggil saya mbo Marni saja non" Senyum mbo Marni
"Saya Rey mbo.. Reyhana" Rey memperkenalkan diri
Mbo tersenyum ramah dan menuntun Rey untuk duduk di kursi pantry.
"Sekarang makan dulu non. Nanti non langsung menghadap tuan muda ya di ruang kerja nya"
""Tuan muda Ryan maksudnya mbo? " tanya Rey
"Iya atuh non.. emang d sini ada berapa tuan muda? " mbo marni balik bertanya
" oh.. eh.. iya mbo" Rey menjawab canggung
Tidak butuh waktu lama bagi REy untuk menghabiskan sepiring nasi goreng itu, karena jujur saja Rey sangat lapar. Kalau ngga malu sih Rey ingin nambah, tapi Rey malu juga, sebenarnya dia lapar apa kelaparan ya!?
"Mbo nasi gorengnya enak. makasih ya, tolong antar saya ke ruang kerja tuan muda ya mbo! "
"Oh iya non sama sama" mbo marni yang sedang sibuk merapikan rak piring menghentikan aktivitasnya dan melangkah menuju ruang tengah
__ADS_1
Rey menatap sekeliling, rumah itu sangat besar dan mewah, dihiasi dengan perabotan yang menambah kesan mewah, Rey mengikuti mbo Marni yang menuju ke lantai atas, di sana ada beberapa pintu yang tertutup. sebelah kanan tangga tampak pintu berukuran besar dengan ukiran bunga bunga nan cantik.
"Silahkan non tuan muda ada di dalam" mbo Marni mempersilahkan Rey masuk dan bergegas pergi meninggalkannya
Rey mengetuk pintu kokoh itu
tok.. tok.. tok
"Masuk" jawaban dari balik pintu
Rey membuka pintu dan tampak seorang laki laki yang sedang duduk manis di sebuah kursi di balik meja kerja yang cukup besar
Rey ragu untuk masuk
"Duduk.. " ucap laki laki itu tegas
Rey duduk dihadapan laki laki tsb tanpa berani memandangnya
"Siapa nama kamu?" tanya Ryan sambil memperhatikan Rey dari atas sampai bawah,
"Rey"ucapnya singkat
"Jawab yang betul" bentak Ryan
"Ooh.. jadi begini cara kamu berterimakasih pada orang yang sudah menyelamatkan mu"!? ucap Ryan sinis
Rey tidak menjawab, dia tidak sudi merendahkan dirinya pada pria sombong itu. Tapi dia teringat akan misi nya untuk mencari tahu keberadaan ibunya, dan saat ini satu satunya harapan adalah laki laki sombong itu.
"Reyhana Nugraha" jawab Rey ketus
"Berapa umurmu" ucap Ryan
"21 tahun"
"Kamu harus bekerja padaku Rey"
"Apa aku terlihat seperti sedang melamar kerja tuan"? ucap Rey kesal
"Hey.. apa kamu lupa nona sombong. kamu berhutang banyak padaku! " jawab Ryan kesal, baru kali ini Ryan menghadapi seorang wanita yang menyebalkan. Biasanya para wanita wanita cantik dan seksi selalu berlaku manja dan manis padanya. Tapi wanita ini sangat membuat Ryan dongkol.
"Aku tidak memintamu untuk menolongku tuan" ucap Rey tidak mau kalah
__ADS_1
"Dengar ya gadis bodoh.. ini bukan negosiasi, ini adalah perintah, dan tidak ada yang boleh menolak perintah seorang Ryan Marcell!"
Rey mencoba menahan amarahnya, menarik nafas secara teratur dan menenangkan dirinya
Ingat Rey.. kamu harus menyelamatkan ibumu, tahan emosi Rey, ada saatnya kamu menghajar laki laki sombong ini.. Batin Rey
"Ok.. apa yang harus aku lakukan tuan muda" jawab Rey datar
"Kamu harus melayani adikku "
"Apaa! " Jawab Rey sambil melotot tak percaya
Seumur umur Rey tidak pernah melakukan pekerjaan rumah bahkan mencuci baju nya sekalipun. Sekarang dia harus menjadi pelayan??
Tidaaak
Ryan pergi meninggalkan Rey yang masih duduk bengong. Meratapi nasibnya yang menimpa nya secara bertubi tubi, ayahnya meninggal di depan matanya, berpisah dari ibu nya tanpa tahu kabar dan keadaan nya, dan sekarang Rey harus menjadi pelayan, sungguh sangat menyesakkan. Rey ingin menangis tapi dia tidak ingin kembali lemah, dia sudah bertekad akan memenuhi janji nya pada ayah untuk menjadi wanita kuat dan menolong ibunya.
Rey berlalu meninggalkan ruangan itu dengan gontai, dia mencari mbo Marni
"Mbo.. kata tuan aku harus menjadi pelayan adik nya," ucap Rey tanpa basa basi
Mbo marni yang sedang membereskan ruang tengah menoleh ke arah Rey
"Dimana dia mbo? "
"Ooh non Lily maksudnya ya" ? Mari mbo Kenalkan non" ajak mbo Marni
Di sebuah kamar yang sangat luas seorang wanita yang mungkin seumuran dengan Rey sedang Asiik dengan bukunya, dia duduk. di atas kursi roda
"Non Lily.. "ucap mbo Marni membuyarkan konsentrasi nya
"Ini mbo bawa teman baru untuk non Lily, ayo kalian saling berkenalan" ucap mbo sambil memberi kode pada Rey untuk mendekati lily
Lily terlihat sangat heran tapi sepertinya dia senang melihat Rey.
"Hai...aku Lily " ucapnya sambil mengulurkan tangan
"Rey"
" Nah.. karena sudah ada teman baru, sekarang non Lily Berjemur di taman nya dengan Non Rey saja ya" ucap mbo Marni
__ADS_1
"