Istriku Gagah Jelita

Istriku Gagah Jelita
Menolak Takdir


__ADS_3

Pagi itu Rey sudah berada di sebuah taman di area Rumah sakit tempat nya di rawat. Taman itu khusus disediakan untuk pasien yang akan menjalani fisioterapi, ada beberapa besi penyangga sepanjang 2meter untuk menjadi penyangga bagi para pasien yang akan melatih otot kakinya .


Ryan mendorong kursi roda Rey dan mengarahkan nya menuju taman, di sana sudah ada therafis yang akan membimbing Rey selama proses fisioterapi.


Ibu Sri dan Lily duduk di kursi taman tidak jauh dari tempat keberadaan Rey.


"Selamat pagi Rey.. apa kamu sudah siap berjuang hari ini? " Ucap Sean sang therafis.


Rey mengangguk pelan.


"Sayang, aku bantu ya, kalau kamu lelah jangan terlalu dipaksakan ya, kita coba perlahan oke! " Ryan jongkok di depan kursi roda Rey, ingin memastikan Rey siap menjalani therapi ya. Sedari kemaren Rey lebih banyak diam.


Sean menjelaskan pada Ryan dan Rey bagaimana prosesi latihan awal yang akan dijalani Rey.


Ryan lah yang akan membantu Rey secara langsung, Ryan tidak rela jika ada lelaki lain yang menyentuh Rey, walaupun itu seorang therafis sekali pun.


Ryan menggendong Rey dan diduduk kan nya Rey di kursi yang sudah disiapkan.

__ADS_1


"Ayo Rey.. kita mulai" Sean memberi aba-aba.


Rey mulai memegang handel besi di sisi kanan dan kirinya. Dengan sekuat tenaga Rey bangkit dari kursi dan berusaha berdiri tegak, sementara itu Ryan membantu menggerakkan kaki Rey ,karena kaki Rey sama sekali belum bisa bereaksi.


Baru 5 menit Rey mencoba tapi keringat sudah membanjiri tubuhnya, tiba-tiba saja tubuhnya roboh, dengan sigap, Ryan menangkap tubuh Rey.


"Aku gak bisa.. Ryan! " Rey tampak meringis menahan sakit.


"Sstttt..kamu jangan pesimis gitu dong sayang, usaha kamu udah bagus kok! " Ryan memeluk istrinya.


Lagi dan lagi Rey mencoba untuk yang kesekian kalinya , dan akhirnya pertahanan dirinya roboh, rasa lelah, sedih dan kecewa akan musibah yang menimpa dirinya tidak bisa disembunyikan nya lagi, Rey kembali terjatuh, tapi kali ini diiringi dengan jatuhnya air mata yang sudah tak bisa dibendungnya.


Ryan kembali memeluk Rey, membenamkan wajah Rey di dada bidangnya. "Menangislah Sayang... jangan ditahan" Ryan mengelus mesra kepala Rey.


Suara tangis Rey begitu lirih dan menyayat hati Ryan, baru kali ini Ryan melihat Rey seperti itu.


Ibu Sri dan Lily segera menghampiri Rey, dia begitu cemas melihat kondisi putrinya.

__ADS_1


Akhirnya Ryan membawa Rey kembali ke kamar nya, karena Rey keukeuh tidak mau melanjutkan latihan nya.


Tanpa mereka sadari, ada tiga pasang mata yang memperhatikan Rey, tampak seorang pria blasteran dengan menggunakan kursi roda , dan sepasang suami istri paruh baya menemani putra nya. Ya.. pria di kursi roda itu adalah Peter, dia memaksa orangtuanya agar bisa melihat Rey, meyakinkan dirinya bahwa Rey memang masih hidup sesuai perkataan Bobi.


Tapi ternyata setelah melihat kondisi Rey malah membuat Peter semakin merasa bersalah. Melihat Rey yng tidak bisa berjalan karena perbuatan nya, melihat bagaimana terpuruknya Rey membuat Peter tidak bisa memaafkan diri nya sendiri.


Peter menangis,, ya seorang Peter menangis bagai anak kecil, meraung meratapi kecerobohan nya, menyesali kesalahan nya.


Akhirnya Peter dibawa pulang oleh kedua orangtuanya, Peter menjalani pengobatanan di rumah karen luka nya sudah sembuh. Yang Peter butuhkan hanyalah perhatian dari keluarga nya.


Sementara itu di ruangan Rey, dengan telaten Ryan memijat kaki Rey, Ryan merasa ada yang aneh dengan Rey, karena semenjak tahu kakinya lumpuh Rey lebih banyak diam.


"Rey.. apa ada yang sakit? "


Rey hanya menggelengkan kepalanya.


Rey menatap langit-langit kamar itu. Entah apa yang dipikirkan nya. Tidak ada keinginan dari Rey untuk berbagi duka dengan suaminya, Dia memendam kegelisahan nya seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2